Ketika Si Tetangga Naik Gaji

Beberapa hari lalu, rekan-rekan saya di instansi sebelah mendapat remunerasi berlebih. Tunjangan mereka naik berlipat-lipat. Sebelumnya saja tunjangan mereka jauh melebihi kami. Sekarang, bedanya semakin menganga. Ibarat Hull City dengan Chelsea di Liga Inggris!

Seperti biasa, masalah kenaikan tunjangan selalu ramai dibicarakan. Tidak hanya oleh mereka yang bakalan menerimanya, tetapi juga oleh tetangga-tetangga yang tunjangannya nggak naik. Makanya, di grup-grup Whatsapp atau di kala kongko-kongko, omongan seputar kenaikan tunjangan itu hampir selalu menjadi topik pembicaraan. Mereka yang bakal nerima tentu harap-harap senang, sementara para tetangga hanya bisa menggerutu: “Wah, kok tunjanganku gak ikutan naik, ya…?”

Jujur saja, awalnya pun sebenarnya ada rasa iri dalam diri saya melihat gelontoran tunjangan yang berlipat-lipat itu. Hayo, siapa sih yang gak ingin pendapatannya meningkat berlipat-lipat?

Tapi untung jauh-jauh hari saya sudah sadar dan meyakini kalau rezeki itu sudah ada yang mengatur. Toh yang namanya rezeki, sebagaimana dikatakan pak ustad tidak hanya terwakili dalam bentuk uang. Rezeki itu luas cakupannya. Kesempatan, kesehatan, teman yang baik, keluarga yang harmonis, dan semua hal yang baik-baik, itu lah rezeki.

Akhirnya, rasa iri itu pun kikis dengan sendirinya. Lebih jauh lagi ketika saya mikir, apa sih yang sudah saya berikan sama negara ini sampai kepingin tunjangannya juga dinaikin layaknya instansi tetangga itu? Hehehehe…

Yah, daripada sibuk memikirkan dan membicarakan gaji tetangga, tentu akan lebih baik kalau kita optimalkan apa yang kita bisa. Dari situ mungkin kita bakal dapat tambahan rezeki dari sumber yang lain. Siapa tahu!