Belajar tentang Harga Diri dari Pengasong Koran

“Peliharalah untuk menjaga dirimu dengan hartamu.”

(Nabi Muhammad SAW, HR. Ad-Dailami)

*

“Kehormatan adalah hidupku, keduanya tumbuh jadi satu.”

(William Shakespeare)

*

Ilustrasi

Siang itu, hujan telah menghentikan laju sepeda motorku di dekat perempatan Jalan Imam Bonjol arah Taman Suropati. Aku lupa tak membawa jas hujan hingga terpaksa menepi di dekat halte. Aku berteduh disana menunggu hejan reda.

Tak beberapa lama seorang bapak datang mendekat. Ia membawa setumpuk koran terbitan hari itu. Koran itu dimasukkannya ke dalam kantung plastik besar berwarna hitam agar terlindung dari air hujan. Meneduh saja memang tidak cukup melindungi koran-koran itu karena angin juga bertiup kencang. Percikan air sesekali menghempas ke dalam halte.

Sungguh sayang hujan telah menghentikan aktivitas sang bapak dalam berjualan koran. Jika hujan itu bertahan sampai sore nanti, tentu tak mungkin koran itu akan laku terjual.

“Jualan koran, Pak?”

“Iya.”

“Mau dong, Pak satu.”

Bapak penjual koran itu membuka kantung plastik itu dengan perlahan. Aku membeli satu koran. Lumayan untuk sekadar melepas jenuh daripada duduk memandang hujan tanpa aktivitas apapun.

“Sudah lama jualan disini, Pak?”

“Yah, sudah belasan tahun saya disini. Masnya mau kemana?”

“Ke Matraman, Pak.”

Aku mulai mencairkan suasana. Tiap kali melihat orang-orang seperti penjual koran itu, naluri keingintahuan selalu tumbuh dalam pikiranku.

“Kalau hujan begini, Bapak bagaimana jualannya?”

“Ya gimana. Sudah pasti rugi.”

Aku pikir bapak itu hanya menjualkan koran saja, semacam konsinyasi dengan pedagang besar.

“Lho, memangnya Bapak kulakan?”

“Nggak lah. Ni saya beli juga. Kalau nggak laku ya nggak bisa dibalikin.”

“Oh, saya pikir Bapak cuma ngejualin.”

Sementara aku dan bapak pengasong koran itu asyik mengobrol, tepat di seberang jalan sana seorang pengemis sibuk mengetok pintu mobil-mobil mewah yang berhenti karena lampu merah. Di perempatan itu, dalam waktu kurang dari lima menit sekali lampu merah akan menyala. Sekali lampu merah menyala, ada 50-an mobil terpaksa berhenti disana.

Sang pengemis berkaki pincang itu nampak memanfaatkan betul kesempatan itu. Ia menyisir mobil dari perempatan hingga ke arah belakang. Ada waktu kira-kira dua setengah menit baginya untuk meminta receh dari para pengendara mobil yang menghentikan mobilnya.

Ia bergerak dengan cepat dan segera berganti dari mobil ke mobil di belakangnya. Jika lampu telah berganti hijau, ia segera menepi kemudian kembali mendekati perempatan. Begitu sampai di dekat perempatan, lampu merah telah kembali menyala. Ia susuri kembali mobil-mobil yang berhenti disana untuk meminta-minta. Begitu seterusnya.

IMG_20130721_134650

Sang bapak penjual koran tiba-tiba mengomentari sang pengemis itu.

“Coba lihat gepeng di seberang itu. Saya kenal orangnya. Penghasilannya sehari bisa sampai 800 ribu. Saya yang jualan gini paling banter sehari cuma 100 ribu. Dia gak perlu modal. Enak dia, hujan-hujan gini makin banyak mobil berhenti disana. Apalagi kalau nanti macet.”

Aku tertarik dengan komentar sang bapak. Masuk akal memang jika dalam waktu sehari saja pengemis itu bisa mengumpulkan uang sampai ratusan ribu rupiah. Sekali lampu merah menyala, ada 50-an mobil berhenti. Jika seperlima saja memberikan recehnya bagi pengemis masing-masing seribu rupiah, maka sekali lampu merah saja ia sudah mendapat uang sebanyak 10 ribu rupiah.

Dari pagi hingga malam hari, lampu merah akan menyala sebanyak puluhan kali. Tinggal kalikan saja dengan 10 ribu rupiah itu.

Aku turut memberikan komentar.

“Benar juga sih, Pak. Tapi harga dirinya di mata orang kan rendah, Pak.”

“Ah… Zaman sekarang sudah jarang yang memikirkan harga diri. Apalagi jika urusannya sudah uang. Saya punya banyak kenalan gepeng, banyak yang sebenarnya kaya. Ada yang punya rumah makan, tapi masih mengemis juga. Bahkan ada juga yang punya taksi, mobil pribadi, tapi masih juga menjadi gepeng.”

Sebenarnya aku tak terkejut dengan fenomena pengemis kaya-raya sebagaimana yang dikatakan sang bapak. Beberapa kali sudah hal itu diberitakan di media massa. Temanku pun bahkan pernah meneliti mengenai fenomena sosial itu. Tapi, hari itu aku memang ingin menggali lebih dalam dari sang bapak.

“Apa nggak ada razia lagi buat para gepeng itu, Pak?”

“Razia sih banyak. Tapi nggak bakalan membuat mereka jera. Kalaupun mereka ketangkep, paling-paling esoknya sudah dibebasin. Tinggal telpon keluarga di rumah, bayar tebusan 300 ribu, langsung beres. Esoknya mereka bisa mangkal lagi. Kalau dapat ratusan ribu lagi kan 300 ribunya udah langsung ketutup.”

Aku mengangguk memperhatikan penjelasan sang bapak.

“Dulu sebelum zamannya Jokowi, yang jualan koran seperti saya ini juga dirazia, Mas. Gak cuma gepeng. Mungkin dianggapnya saya mengganggu lalu lintas jalan.”

“Tapi kini zamannya Jokowi, yang dirazia cuma gepeng”, lanjutnya.

Soal penjual koran asongan yang dirazia satpol PP itu belum aku ketahui sebelumnya. Aku pikir dari dulu hanya gepeng dan pengamen yang kena ciduk aparat.

Sang bapak terus melanjutkan ceritanya. Aku pun asyik mendengarkan. Ia nampak kesal karena hujan tak jua reda. Tapi tak ada yang bisa dilakukannya.

Aku paham dengan keluhan itu. Di saat ia tengah dirundung susah seperti itu, orang lain yang kerjaannya hanya meminta-minta justru tengah memanen uang recehan di seberang sana.

“Tapi sesusah apapun, kalau saya pantang menjadi gepeng, Mas. Nggak akan berkah. Malu di dunia, malu juga di akhirat. Kalau tangan kita di bawah terus, mana mungkin Allah akan mengangkat derajat kita?”

Aku lega mendengar pernyataan sang bapak. Sebenarnya sedari tadi aku ingin mengucapkan hal yang serupa kepadanya. Hanya saja aku khawatir itu justru akan membuatnya tersinggung.

Aku tersenyum kecil sembari menganggukan kepala.

“Ya. Benar, Pak. Rezeki sudah ada yang ngatur.”

***

Setengah jam berlalu, hujan masih saja mengguyur Jakarta. Terkadang seperti akan mereda, tapi tiba-tiba kembali deras.

Topik pembicaraanku dengan sang bapak telah berganti. Sang bapak bercerita tentang keluarganya. Juga anaknya yang masih SMA.

Ia berharap kelak anaknya akan menjadi perawat. Katanya, anaknya itu selalu dapat rangking 1 di kelasnya.

“Semoga Allah mengabulkan harapanmu, Pak.” Begitu gumamku dalam hati.

Di seberang sana, pengemis berkaki pincang masih sibuk meminta-minta. Kantung yang digendongnya nampak semakin penuh saja, pertanda hari itu ia mendapat hasil berlebih. Sang bapak penjual koran masih duduk di sampingku sembari menatap hujan.

***

Hari itu aku belajar banyak tentang harga diri dari seorang pengasong koran. Sesusah apapun hidup, harga diri adalah yang utama.

Tapi, di Indonesia memang agak aneh. Di saat orang-orang seperti bapak pengasong koran itu begitu kuat dalam menjaga harga diri, ada juga pejabat-pejabat kaya raya yang justru terus-menerus merendahkan harga dirinya. Mereka adalah para pejabat bergaji tinggi yang masih suka menilep uang negara. Bukannya menjaga harga diri, mereka justru sibuk mengasongkan dirinya dengan meminta jatah dari proyek-proyek pembangunan.

Ah, bagiku harga diri para koruptor itu jauh lebih rendah daripada seorang pengasong koran. Bahkan masih lebih rendah daripada pengemis pincang di Jalan Imam Bonjol sana.

*****

-Ditulis pada 25/07/2013-

One thought on “Belajar tentang Harga Diri dari Pengasong Koran

  1. inspiratif..cerita yang sama saya temukan di salah satu sudut jalan Jogja. Pengasong koran yang cacat kaki dan tangan sebelah tapi lebih memilih jualan di banding ngemis. Mungkin bukan hanya sebatas harga diri tapi sebuah filosofi hidup yang membuatnya merasa jauh lebih hidup🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s