Jadi, Kapan Kamu Nikah?

Usia semacam saya ini, sungguh rawan ditanyai seperti itu. Tak terhitung lagi dan sampai bosan rasanya mendengar pertanyaan-pertanyaan itu. Terlebih lagi saat Lebaran tiba. Pertanyaan itu itu menjadi basa-basi wajib yang terucap dari sanak saudara juga teman-teman lama saya.

Saya pun tak bisa menjawab banyak. Paling-paling saya hanya berujar, “Ya, doakan saja. Semoga waktunya segera datang.” Jawaban yang mengambang dan bersayap, bukan?

Jujur saja, saya juga menyadari bahwa hasrat untuk menikah itu sudah ada dalam diri saya. Bukankah hanya orang-orang abnormal yang enggan untuk menikah? Tapi, ada saja halangannya. Ada saja hal-hal yang menghambatnya. Tentu saja tak perlu saya ceritakan disini. Biarkan saja itu tersimpan rapi dalam lemari hati saya.

Lalu, dari mana saya tahu bahwa sudah waktunya bagi saya untuk menikah?

Ada beberapa hal yang menjadi pertanda. Pertama, sebagaimana yang saya jelaskan tadi. Orang-orang sudah ramai-ramai menanyakan itu. Artinya, dalam pandangan mereka usia macam saya ini memang sudah waktunya.

Kedua, saya termasuk yang meyakini bahwa orang-orang introvert macam saya ini sebaiknya nikah muda. Kenapa begitu? Orang introvert itu butuh teman dekat. Mereka (termasuk saya) selalu butuh seseorang yang bisa diajak berbicara dan bertukar pendapat dari hati ke hati. Pantang bagi orang-orang introvert untuk curhat di depan khalayak. Makanya, nikah muda adalah salah satu solusinya. Lihatlah di sekitar kita, orang-orang intorvert yang sukses, rata-rata memang nikah muda. Hehehe… Ini hipotesis saya, lho. Memang perlu dibuktikan lebih lanjut.

Ketiga, galau! Ya, saya bukannya orang yang tak pernah galau. Bapak saya pernah berkata, “Jika seorang laki-laki sudah sulit tidur tepat waktu, baru  bisa merem setelah jam 12 malam, pikirannya jarang teratur dan terarah, maka sudah waktunya bagi dia untuk menikah.” Hehehe… lagi-lagi itu hipotesis. Hipotesis dari bapak saya yang menurut saya ada benarnya. Dan sayangnya, tanda-tanda yang bapak sebutkan itu, sudah berulang kali saya alami. Wkwkwkwk….

Lalu saya pun mengamati teman-teman saya yang sudah menikah. Memang benar, kehidupan mereka relatif lebih teratur dan terarah daripada saya. Visi mereka pun terlihat. Sementara saya, visinya sudah ada namun masih buram. Mimpinya sudah ada tapi langkah-langkahnya belum fokus.

Ada banyak hal lain yang sesungguhnya bisa menjadi pertanda. Tapi sudahlah. Lagipula yang penting kan action-nya. Meski katanya jodoh itu di tangan Tuhan, tapi tentu tak akan datang jika tak dicari. Makanya, saya berusaha mengejar jodoh saya. Mungkin ia ingin saya segera menjemputnya! Hehehehe….

Jadi, kapan saya nikah? Ya setelah saya berhasil menjemput jodoh saya.😀

2 thoughts on “Jadi, Kapan Kamu Nikah?

  1. Jodoh di tangan Tuhan, dan akan tetep di tangan Tuhan kalo gak diambil. katanya gitu -_-
    Tapi gimana mau diambil, kalau di mana tempatnya aja gak tau😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s