Minimarket atau Toko Kecil?

“Dalam kapitalisme, manusia mengeksploitasi manusia. Dalam komunisme, sebaliknya.” (John Kenneth Galbraith)

 *

“Kemana, Ndri?”

“Minimarket. Sabun cuci gue abis.”

“Lah, di toko sebelah bukannya ada?”

“Males ah beli di toko…”

**

Di masa kini, ilustrasi di atas mudah untuk kita dapati. Banyak diantara kita yang memberikan preferensi lebih kepada minimarket daripada toko-toko kecil. Belanja sekecil apapun, minimarket seringkali menjadi pilihan utama. Tak peduli apapun apa yang mau kita beli. Entah sabun, sampo, hingga makanan dan minuman ringan.

Pertanyaannya, mengapa begitu?

Faktor kenyamanan dan banyaknya pilihan menjadi alasan utama. Stok barang dagangan di minimarket tentu lebih banyak dan lebih beragam daripada di toko-toko kecil. Di minimarket, kita bisa memilih barang apapun sesuka kita. Harga sudah terpampang di setiap produk yang dijual itu. Tak ada banyak interaksi dengan pelayan.

Di toko kecil, tentu berkebalikan dengan itu semua. Stok barang yang tersedia tidak lah banyak. Untuk membeli sesuatu, kita mesti berinteraksi dengan pemilik toko. Terkadang kita bahkan kecewa karena barang yang kita mau ternyata tak tersedia.

Tapi, apakah arif jika kita selalu saja mengesampingkan toko-toko kecil yang ada di sekitar kita dan lebih mengutamakan minimarket sebagai tempat belanja?

Rasa-rasanya kok kurang arif. Mengapa?

Pertama, toko-toko kecil itu ada di sekitar kita. Pemilik toko-toko kecil itu adalah tetangga-tetangga kita sendiri. Kalau begitu, bukankah sudah sewajarnya jika kita menjalin interaksi positif dengan mereka? Bukankah aneh jika kita lebih memilih sesuatu yang ditawarkan oleh minimarket sementara tetangga kita sendiri sudah berupaya menyediakannya?

Kedua, toko-toko kecil itu adalah bentuk usaha mikro. Asetnya kecil. Dibanding minimarket tentu mereka tak ada apa-apanya. Pemilik toko biasa mengisi tokonya itu dari pasar-pasar tradisional terdekat. Pedagang di toko-toko kecil bertemu dengan pedagang di pasar-pasar tradisional. Perpaduan ekonomi rakyat ini tentu sangat menarik. Jika kita belanjakan uang kita di toko-toko kecil, tentu hal itu akan turut membantu perputaran uang diantara sesama pedagang kecil. Atau paling tidak, kita telah membantu perputaran usaha tetangga kita sendiri. Masuk akal bukan?

Jadi dengan berkunjung ke toko kecil, kita dapat menjalin keakraban dengan tetangga kita sekaligus membantu jalannya usaha mereka. Nah, untuk sekadar belanja keperluan sehari-hari, bukankah lebih arif jika uang yang ada kita belanjakan di toko-toko kecil milik tetangga kita sendiri daripada di minimarket-minimarket milik pemodal-pemodal besar yang bahkan kita tak tahu siapa orangnya? Pilihan ada di tangan kita!

Saya pribadi, hanya ke minimarket jika memang barang yang saya mau tak tersedia di toko-toko kecil atau jumlah yang akan saya beli terlampau banyak. Sekian….

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s