Tukang Parkir yang (Terkadang) Tidak Perlu

Ilustrasi

Seperti biasa, di awal bulan saya mesti belanja untuk sejumlah keperluan. Kali ini saya belanja di sebuah minimarket yang tak begitu jauh dari tempat saya tinggal.

Halaman minimarket yang saya kunjungi terbilang cukup luas, saya parkirkan motor saya disana. Di halaman parkir itu, hanya ada beberapa motor dan dua buah mobil milik pengunjung. Suasana minimarket begitu lengang, sepi pengunjung untuk ukuran sebuah minimarket.

Sebenarnya sudah lama saya merasakan sesuatu yang kurang mengenakkan di minimarket itu. Bukan kualitas dan ragam barang dagangannya yang mengecewakan. Bukan pula pelayan atau kasirnya yang tak ramah. Melainkan tukang parkir bertampang premannya yang membuat saya tak nyaman.

Lantaran minimarket itu sepi pengunjung, maka tak banyak kendaraan yang terparkir di halaman depan minimarket. Orang-orang pun dapat dengan mudah memarkirkan kendaraannya disana.

Tukang parkir disana hanya asyik duduk tanpa perlu mengatur kendaraan yang datang. Motor yang saya parkirkan pun akan ia diamkan saja. Ini berbeda dengan tukang parkir di pasar-pasar yang rajin menutup bodi motor dengan pelindung sehingga tak terpapar sinar matahari.

Ketika pengunjung keluar dari minimarket, sang tukang parkir bertingkah mencari kesibukan. Padahal tidak dibantu pun pengunjung sama sekali tak mengalami kerepotan. Sesekali ia membunyikan peluitnya yang sesungguhnya juga tak perlu. Lalu, ia meminta sejumlah uang kepada pengunjung, bahkan terkadang dengan suara dan raut muka mengancam.

Yang lebih tak mengenakkan, di samping minimarket itu terdapat mesin ATM. Orang-orang yang akan melakukan transaksi di mesin ATM itu pun mendapat perlakuan serupa sebagaimana pengunjung minimarket. Tukang parkir akan meminta sejumlah uang. Padahal, sekali lagi, tak ada jasa apapun yang dilakukan tukang parkir itu.

Saya bukannya ingin protes kepada manajemen minimarket dengan adanya tukang parkir itu. Tapi, kalau saya bandingkan dengan minimarket lain di sekitarnya, minimarket itu memang relatif lebih sepi pengunjung. Minimarket lain tak ada yang menggunakan jasa tukang parkir, namun kendaraan dapat masuk dan keluar dengan teratur. Sehingga, bukan tidak mungkin minimarket yang baru saja saya kunjungi itu relatif sepi karena adanya tukang parkir yang kurang perlu. Yang dipermasalahkan pengunjung bukan uang yang harus dibayarkan kepada tukang parkir itu, namun alasan kenyamanan semata. Yang tak saya relakan bukan uang yang mesti saya keluarkan, namun cara uang itu dikeluarkan. Bukankah tak ada orang yang suka mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak perlu, apalagi dengan sejumlah paksaan?

Saya tak tahu apakah keberadaan tukang parkir di minimarket itu resmi atau tidak, yang pasti tukang parkir itu telah lama bercokol disana. Saya juga tak bermaksud menggeneralisasi bahwa semua tukang parkir itu tidak perlu. Di sejumlah tempat, keberadaan tukang parkir memang sangat membantu, namun di minimarket yang baru saya kunjungi itu, rasanya sungguh-sungguh tak perlu.

Hehe.. Ini saja catatan malam ini.

****

Pertama ditulis pada 3/11/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s