Beternak dengan Sistem Gaduh

Sabtu Pahing, 18 Januari 2014, lima ekor kambing itu akhirnya terjual. Pak Ndo, pedagang kambing dari kampung sebelah, mengangkut kambing-kambing itu menggunakan mobil pick-upnya. Semuanya akan diangkut menuju pasar hewan, 6 kilometer dari kampung saya. Esok paginya, sebagian dari kambing itu akan beralih pada peternak lain yang berminat. Sebagian lagi mungkin saja dagingnya akan terhidang di meja-meja warung sate.

Ilustrasi

***

Kambing yang saya jual itu adalah hasil paruh dari beternak sistem gaduh yang saya terapkan. Beternak dengan sistem ini aturan mainnya sederhana saja. Seorang pemilik hewan ternak menyerahkan hewan ternaknya untuk diternakkan oleh peternak. Peternak itu lah yang akan bertugas memelihara hewan ternak itu. Ketika hewan ternak itu menghasilkan anakan, maka anakan itu akan dibagi dua, satu untuk pemilik dan satu untuk peternak. Kambing-kambing yang saya jual itu adalah anakan yang menjadi bagian saya. Beberapa indukannya sebagian telah saya jual, sebagian juga masih dipelihara peternak.

Meski beternak memang menjadi hobi saya, inisiatif melakukan sistem gaduh itu tak datang dari saya. Pak Ngarmin, seorang petani di kampung saya lah yang pertama kali menawari saya sistem itu. Saya langsung setuju.

Di kampung saya, hubungan kekerabatan antarmasyarakat masih sangat kuat. Hal ini menjadi prasyarat dalam menerapkan peternakan sistem gaduh. Ketika satu setengah tahun lalu saya memulai sistem itu, saya tak membutuhkan surat perjanjian apapun dalam menerapkannya. Tak ada hitam di atas putih. Semuanya saya lakukan atas dasar kebiasaan yang umum dilakukan oleh warga kampung. Saya tak menyimpan keraguan apapun kepada Pak Ngarmin. Saya percaya ia akan amanah dalam memelihara kambing-kambing saya.

Beberapa waktu setelah saya menjalin kerja sama dengan Pak Ngarmin, beberapa petani lain juga meminta saya membeli beberapa ekor kambing untuk mereka pelihara. Pak Amin, Pak Boyar, Pak Siju, dan Pak Namin menawari sistem yang serupa. Saya tak bisa menolak. Hingga hari ini, para petani itu masih memelihara beberapa ekor kambing saya. Beberapa sudah beranak pinak, beberapa yang lain belum.

Bagi petani di kampung saya, beternak sesungguhnya bukan pekerjaan utama. Beternak hanya merupakan pekerjaan sampingan. Keseharian mereka yang utama adalah bercocok tanam di sawah atau ladang mereka. Seusai menyibukkan diri di sawah atau ladang, mereka baru mencari rerumputan atau dedaunan sebagai pakan ternak yang mereka pelihara.

Mereka mencari pakan ternak di tanah-tanah mereka sendiri. Biasanya, pakan ternak itu diambil dari rumput yang tumbuh di ladang-ladang mereka, atau dari cabang tanaman yang memang harus dipotong.

Beberapa tanaman seperti sengon atau singkong, memang menjadi favorit kambing. Seringkali dari tanaman-tanaman itu muncul cabang yang tak diperlukan untuk pertumbuhan tanaman. Jika cabang itu dibiarkan, pertumbuhan tanaman justru akan terganggu. Cabang-cabang pengganggu itu lah yang dipotong oleh petani lalu dijadikan sebagai pakan ternak.

“Sayang kalau cabang-cabang ini dibuang begitu saja. Lebih baik dijadikan sebagai pakan ternak”, begitu ujar Pak Ngarmin.

Beberapa petani lain mengaku memiliki banyak waktu luang di luar bekerja di sawah atau ladang mereka. Pak Amin, misalnya, merasa tak nyaman apabila dirinya pulang dari sawah tanpa membawa apapun.

“Ya daripada nggak bawa apapun dari sawah kan mending bawa rumput, Mas”, begitu ujarnya.

Nah, mengapa mereka lebih memilih sistem gaduh? Mengapa mereka tak ingin menjadi peternak mandiri?

Ada dua faktor yang menjadi pertimbangan petani. Pertama, harga kambing indukan lumayan mahal. Di pasaran, harga kambing indukan lokal bisa mencapai tiga juta rupiah. Peranakan etawa jauh lebih mahal lagi. Kedua, secara prinsip mereka aman dari risiko. Dalam sistem gaduh, jika ternyata ternak yang digaduh itu mati, risiko ditanggung penuh oleh pemilik ternak. Petani tak perlu menanggung risiko apapun.

Bagi saya pribadi, motif saya melakukan sistem itu sesungguhnya tak murni mengejar keuntungan semata. Sekali lagi, beternak adalah hobi yang ingin saya salurkan. Oleh karena saya tak punya cukup waktu untuk memelihara ternak, maka mau tak mau saya harus bekerja sama dengan peternak lain. Sistem gaduh itu lah yang kemudian saya pilih.

Namun sayangnya, beternak dengan sistem gaduh ternyata sulit untuk dikembangkan lebih lanjut. Masalahnya adalah keterbatasan tenaga petani. Petani di kampung saya maksimal hanya mampu memelihara 5-10 ekor kambing. Selebihnya akan segera dijual. Hal ini tak lepas dari fakta yang terjadi bahwa bagi petani di kampung saya, beternak hanya lah pekerjaan sampingan. Yang utama bagi mereka tentu memelihara tanaman di sawah dan ladang mereka. Jika jumlah ternak itu terlalu banyak, beban petani untuk memberi pakan menjadi terlalu berat.

Itu lah mengapa beberapa hari belakangan ini, saya tengah memikirkan bagaimana caranya membangun sistem peternakan yang lebih besar. Untuk yang satu ini, tentu butuh perenungan yang cukup lama.

Sekian saja catatan pagi ini… :D

*****

Baca juga:

2 thoughts on “Beternak dengan Sistem Gaduh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s