Childhood yang Tak Mungkin Kembali

*

Tempat terjauh adalah masa lalu. Karena masa lalu tak mungkin akan kembali…

-Imam Ghazali-

Ilustrasi. Gambar dari sini

Tiap kali melihat anak kecil tengah asyik bermain, terkadang ada rasa iri muncul dalam hatiku. Senang sekali anak-anak itu. Mereka bisa bermain tanpa beban apapun, penuh dengan kesenangan, hingga bahkan terkadang lupa waktu. Berbeda dengan diriku yang kini mulai merasakan hidup yang sesungguhnya. Ada banyak beban. Ada banyak tanggung jawab yang semakin berat untuk diemban seiring dengan bertambahnya usia.

Kala kecil dulu, aku justru seringkali berangan untuk lekas menjadi dewasa. Kelihatannya enak menjadi orang dewasa. Ketika SD, aku ingin segera menjadi anak SMP. SMP itu kelihatan lebih keren. Ketika SMP, aku ingin segera menjadi anak SMA. SMA itu lebih keren daripada SMP. Dan ketika SMA, aku ingin segera menjadi mahasiswa karena mahasiswa itu kelihatan lebih keren daripada anak SMA. Namun kini, terkadang aku justru sebaliknya, ingin kembali ke masa kecilku. Apalagi ketika mengingat permainan-permainan yang dulu biasa aku mainkan.

Permainan masa kecil itu akan kembali teringat tatkala melihat anak-anak kecil tengah bermain. Seringkali aku tersenyum dalam hati melihat tingkah polah anak-anak kecil itu sembari menggumam “sepertinya aku dulu juga seperti itu…”.

Namun, terkadang aku juga merasa miris dengan apa yang aku lihat. Ada banyak anak kecil yang dihadapkan pada sebuah permainan yang semestinya tak tepat untuknya. Ada beberapa permainan yang menurutku terlalu dewasa untuk anak-anak kecil itu. Ada juga permainan yang berdampak buruk bagi perkembangan psikologis seorang anak.

***

Suatu siang di hari minggu, aku menyambangi warung internet (warnet) tak jauh dari rumah kontrakan. Hari itu, modem yang sehari-hari menancap di laptop hanya kedap-kedip saja. Tak ada koneksi ke jaringan.

Seorang rekan kantor memintaku mengirim beberapa file kerjaan yang aku simpan. Aku pun terpaksa menyewa satu komputer di warnet itu untuk sekadar membuka e-mail, mengirim file, sekaligus meng-update blog.

Warnet yang aku kunjungi itu disekat menjadi dua bagian. Satu bagian khusus untuk game online, satu bagian yang lain khusus untuk browsing. Masing-masing bagian terdiri atas beberapa komputer yang terkoneksi dengan jaringan internet. Kedua bagian itu saling berseberangan, hanya berjarak satu setengah meter.

Suasana di bagian game online luar biasa ramai. Tak ada satu komputer pun yang kosong. Disana ada anak-anak belasan tahun yang tengah asyik menghabiskan hari liburnya dengan bermain game. Game online mungkin menjadi pelarian mereka setelah enam hari sebelumnya berkutat dengan pelajaran di sekolah. Aku berada di seberang mereka. Di bagian khusus untuk browsing.

Suara di bagian game online tengah bising-bisingnya. Suara yang cukup keras terdengar dari setiap komputer. Dentuman itu mungkin memberikan nuansa kepuasan tersendiri bagi para penikmat game online, sekaligus menggambarkan betapa serunya permainan itu. Tanpa suara itu, keseruan bermain game online mungkin tak akan terlalu terasa.

File telah aku kirim. Kini giliranku membuka blog untuk sekadar mem-posting tulisan baru.

Aku berusaha fokus memulai menulis. Beberapa ide memang telah lama mengendap dalam pikiranku. Tapi suara di seberangku terdengar semakin mengeras saja. Konsentrasiku terganggu. Aku tak bisa fokus. Jemariku berulang kali menekan tombol back space pertanda seringnya aku merevisi kata. Ide-ideku pun buyar termakan suara-suara itu.

Sejujurnya aku tak heran dengan suasana bising yang dihasilkan game online itu. Namun, ada satu hal yang membuatku cukup lama termenung. Bukan dari game online-nya, tapi dari ekspresi emosional anak-anak itu. Begitu berlebihan menurutku. Bahkan cenderung tidak sopan dan malangkahi norma-norma pergaulan yang semestinya.

Tiap kali memenangkan game, ada anak yang begitu mudahnya berucap “modar, Lo”, “goblok, Lo”, “dasar begok”, dan ucapan penuh ejekan lainnya kepada kawannya yang kalah. Sementara yang kalah seringkali mengucapkan kata-kata kotor yang tak semestinya dilakukan oleh orang dewasa sekalipun. Ucapan bernuansa emosi seringkali terdengar dari mereka. Aku tak tega menuliskan kalimat kotor itu di blog ini. Mungkin kalimat-kalimat itu sudah biasa terucap di warnet itu.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala sembari berisytighfar dalam hati. Mengapa mereka begitu gampang berucap seperti itu? Tahukah orang tua mereka tentang hal itu? Aku termenung.

***

Wacana mengenai dampak negatif dari game online memang seringkali mengemuka di kalangan praktisi. Konon kabarnya game online itu mampu memancing emosi yang berpengaruh besar pada pembentukan karakter seorang anak. Game online yang penuh dengan nuansa kekerasan bahkan ditengarai mampu memberikan dampak buruk bagi keseimbangan psikologis anak. Emosi anak akan gampang terpancing dan meledak-ledak. Kekerasan itu bisa saja ditiru dan diterapkan dalam dunia nyata.

Di luar itu, game online juga memberikan efek buruk bagi produktivitas belajar seorang anak. Terlebih bagi anak-anak yang sudah kecanduan game. Belum lagi apabila game online yang dimainkan itu ternyata dibumbui dengan adegan-adegan atau gambar-gambar bernuansa pornografi. Efek buruknya akan lebih besar bagi sisi psikologis anak.

Di warnet, anak-anak biasa menghabiskan waktu hingga berjam-jam hanya untuk bermain game. Matanya hanya berfokus pada layar monitor. Otaknya hanya berpikir bagaimana memenangkan permainan. Emosinya akan sering terpancing. Kata-kata kotor mungkin saja keluar sebagai ekspresi emosi itu.

***

Kala kecil dulu, aku tak sempat berkenalan dengan game online. Aku lahir dan besar di kampung. Permainan sehari-hariku tak seperti anak-anak kota itu. Dulu belum ada game online di kampungku. Tak ada warnet. Komputer pun hanya ada di kantor kelurahan dan sekolah.

Bersama teman-temanku dulu, yang aku lakukan paling-paling hanya bermain engklek, blandangan, perang-perangan, petak umpet, samberlang, gasingan, dan permainan-permainan tradisional lainnya.

Yang aku tahu tentang komputer hanya sebagai alat untuk menulis, karena begitulah yang diajarkan di sekolah. Beberapa permainan memang ada di dalamnya. Yang sempat aku lihat adalah catur atau kartu.

Anak-anak di warnet itu mungkin tak pernah mengenal permainan-permainan masa kecil yang begitu aku gandrungi itu. Bukan salah mereka memang. Terlebih lagi, di kota ini sudah tak tersedia lagi lahan kosong untuk memainkannya.

Engklek adalah salah satu permainan yang paling sering dilakukan oleh aku dan teman-temanku. Aturan mainnya sangat sederhana. Di atas tanah terlebih dahulu digambar beberapa kotak segi empat, lingkaran, atau segitiga. Di atas kotak-kotak itulah kami akan bermain.

Alat yang biasa kami gunakan adalah pecahan genting yang kami bentuk menjadi segi empat. Masing-masing sisinya sepanjang 4-7 sentimeter.

Pecahan genting itu harus dipindahkan melewati kotak-kotak yang tersedia dengan menggunakan satu kaki. Satu kaki menginjak tanah dan memindahkan genting, satu kaki lainnya diangkat. Pecahan genting yang dipindahkan tak boleh keluar atau menyentuh garis yang membatasi kotak. Jika ini terjadi, permainan akan segera diambil alih oleh anak yang lain. Begitu seterusnya. Anak yang terlebih dahulu melewati semua kotak, dia lah yang akan menjadi pemenang.

Selain engklek, ada juga blandangan. Blandangan ini lebih sederhana. Peralatan yang digunakan adalah batu kali dan pecahan batu bata. Pecahan batu bata akan disusun meninggi dan berundak-undak, sementara batu kali digunakan untuk melempar susunan batu bata itu.

Anak-anak berlomba melempar susunan batu bata secara bergantian. Jarak antara pelempar dan susunan batu bata itu adalah 8-10 meter. Akurasi lemparan dan kekuatan tangan menjadi kunci permainan ini.

Jika seorang anak berhasil merobohkan susunan batu bata itu, anak yang berada pada giliran melempar berikutnya akan diberi hukuman. Seketika itu, permainan petak umpet pun dimulai. Anak yang berhasil merobohkan tumpukan itu akan bersembunyi pada suatu tempat. Anak terhukum wajib menyusun ulang batu bata kemudian menemukan anak yang bersembunyi.

Susunan batu bata harus terus terjaga agar tak dirobohkan lagi oleh anak yang sedang dicari. Jika berhasil dirobohkan tanpa sempat dicegah oleh anak terhukum, hukuman ulang menyusun batu bata akan kembali dilakukan. Permainan ini sangat seru karena mengombinasikan akurasi, kekuatan tangan, sekaligus kewaspadaan.

Ada juga permainan samberlang. Samberlang merupakan permainan kejar-mengejar yang terdiri dari dua kelompok. Satu kelompok sebagai penjaga, kelompok lainnya bebas berkeliaran. Kelompok penjaga harus mengejar kelompok lainnya hingga semua anggotanya dapat tersentuh dan tertangkap. Anggota kelompok yang telah tertangkap lalu “disandera” di sebuah tempat yang telah ditentukan. Anggota yang telah tertangkap ini dapat diselamatkan oleh kawan sekelompoknya agar bisa bebas dan bermain lagi dengan cara disentuh atau disamber.

Kelompok penjaga terus mengejar dan berusaha menangkap semua anggota kelompok lainnya hingga semuanya tertangkap. Jika semua sudah tertangkap, maka kedudukan permainan berganti. Kelompok yang awalnya menjadi penjaga akan menjadi kelompok yang dikejar-kejar. Begitu seterusnya. Permainan ini membutuhkan kerjasama tim dan energi yang cukup karena menguras banyak tenaga.

Ada satu lagi permainan yang sangat mengasyikkan. Glidigan namanya. Glidigan adalah kendaraan beroda empat yang semuanya terbuat dari kayu. Tak ada mesin apapun yang digunakan. Bentuknya pun sangat sederhana.

Kami biasa membuat mainan itu dengan tangan kami sendiri. Untuk dapat menaikinya mesti dilakukan di jalanan yang menurun atau didorong oleh teman lain secara bergantian. Mainan penuh tantangan yang tak perlu bahan bakar dan ramah lingkungan.

Glidigan biasa aku naiki di jalanan ujung kampung. Disana jalanan relatif menurun sehingga glidigan bisa digerakkan tanpa perlu didorong. Turunannya pun tak terlalu curam sehingga tak berbahaya untuk keselamatanku.

Roda glidigan, biasa kami lumasi dengan buah jarak yang aku tumbuk dan aku campur dengan sedikit air. Hasilnya putaran roda pun akan berjalan lebih cepat dan relatif lebih awet.

Aku biasa menaiki glidigan itu bersama dengan teman-teman yang lain. Terkadang berlomba bersama mereka. Seru dan sangat mengasyikkan. Beberapa bulan lalu, di kampung aku masih menjumpai beberapa anak kecil yang sedang bermain glidigan. Begini kira-kira bentuk glidigan yang dulu biasa aku naiki:

Glidigan 1Glidigan 2Rodanya terlepas. Mesti dipasang lagiRodanya terlepas. Mesti dipasang lagi

Di luar semua permainan itu, aku pun terbiasa melakukan permainan tradisional lainnya.  Ada gasingan, perang-perangan, layang-layang, lomba kelereng, atau perahu-perahuan di parit kampung. Yang pasti, tiap kali mengingat permainan itu, ada rasa rindu yang menyeruak di dada hingga seolah ingin kembali ke masa-masa itu.

***

Seiring berjalannya waktu, kini anak-anak di kampung semakin jarang yang memainkan permainan-permainan mengasyikkan itu. Mereka juga sudah mulai mengenal permainan modern semisal game online, playstation, dan game-game komputeristik lainnya. Tiap kali pulang kampung, hanya sedikit anak yang aku lihat masih bermain engklek, gasingan, atau glidigan.

Anak-anak kota tentu tak pernah mengenal permainan yang diwariskan dari orang tua kami secara turun-temurun itu. Yang mereka kenal mungkin hanya game online dan sejenisnya.

Padahal, manfaat yang aku peroleh dari permainan tradisional itu sungguh berharga. Pertama, aku tahu bagaimana caranya bersosialisasi dengan teman dan belajar bekerja secara tim, berbeda dengan game online yang lebih bersifat individualistik. Kedua, permainan itu bagus lantaran ada unsur olahraganya, berbeda dengan game online yang merusak mata dan hanya duduk diam di depan komputer.

Tapi, tentu tidak semua game online itu buruk. Tergantung bagaimana tipe permainan yang dilakukan. Ada beberapa permainan yang justru mampu melatih kecerdasan seorang anak. Mungkin yang penting adalah pengawasan orang tua, terutama terhadap kemungkinan game-game yang bernuansa kekerasan atau ada unsur pornografinya. Jangan sampai anak terlalu sering memainkan game online, apalagi sampai kecanduan.

Apapun itu, dibanding game online, aku lebih menyukai permainan tradisional yang dulu biasa aku lakukan. Permainan-permainan itu bahkan layak untuk dilestarikan. Ada banyak manfaatnya. Ada juga unsur kearifan lokal di dalamnya. Sayangnya kini permainan itu mulai ditinggalkan oleh anak-anak. Padahal aku yang dewasa saja masih merindukannya.

Masa kecil memang masa yang sangat mengasyikkan. Masa belajar dan bermain yang semuanya dilalui penuh canda tawa tanpa beban apapun juga. Ada keberanian, ada kompetisi, ada juga keinginan untuk tampil beda. Masa yang tak terlupakan. Masa indah yang tak mungkin terulang kembali.

*****

19/7/2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s