Catatan Mudik I: Kenapa Batang Kurang Dikenal?

"Logo Kabupaten Batang"
"Logo Kabupaten Batang"

Batang, kabupaten tercinta tempat aku dilahirkan. Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang kurang dikenal.

Pengalaman selama kuliah di ibu kota menyadarkanku bahwa ternyata tidak semua orang mengetahui daerah ini.  Beberapa rekan dan dosen bahkan ada yang belum pernah mendengarnya. Padahal, secara letak, Kabupaten Batang termasuk daerah yang terbelah jalur pantura yang selalu ramai. Umumnya, kawasan yang dilalui jalur pantura merupakan kawasan yang cukup dikenal oleh masyarakat luas. Kondisi ini seperti tidak berlaku untuk kabupaten ini.

Aku ingat, seorang dosen pernah bertanya kepadaku sewaktu awal kegiatan perkuliahan. Seperti biasa, pada pertemuan awal diisi dengan sesi perkenalan. Nama dan asal daerah adalah dua variabel utama yang disebutkan dalam perkenalan.

Seusai aku sebutkan nama dan daerah asalku (Teguh Pak, dari Batang), sang dosen lantas bertanya, “Batang? Dimana itu?”

“Jawa Tengah, Pak,” aku jawab.

“ Kok sepertinya tidak ada di peta, ya?,”  lanjut sang dosen.

Batang, kabupaten tercinta tempat aku dilahirkan. Sebuah kabupaten di Jawa Tengah yang kurang dikenal.
posisi Batang di pantura

Tentu saja pertanyaan dosen tersebut cukup tidak mengenakkan hati. Berbeda dengan perkenalan rekan-rekan lain yang lancar-lancar saja, karena kebanyakan dari mereka berasal dari famed city.

Pengalaman demikian ternyata tidak hanya aku yang mengalaminya. Beberapa rekan mahasiswa yang satu daerah denganku, baik yang satu kampus maupun di kampus berbeda mengalami hal serupa. Saking tidak enaknya, beberapa dari mereka malah pernah ada yang  mengusulkan ide untuk mempromosikan Batang di kampus mereka masing-masing.

Dari situ, aku mulai menyadari bahwa ternyata Batang, sebuah kabupaten yang dilalui jalur pantura, belum cukup banyak dikenal oleh masyarakat luar daerah.

Kondisi ini kembali terbeslit dalam pikiranku saat aku tengah dalam perjalanan mudik beberapa hari sebelum aku menulis ini. Tahun ini, aku mudik menggunakan kereta api bersama empat orang rekanku. Seperti biasa, aku akan turun di stasiun Pekalongan.

Di dalam kereta, seorang rekan menanyaiku, “Kenapa  tidak turun di stasiun Batang saja?”

Aku jawab, “Kereta ini tidak berhenti di stasiun Batang. Barangkali stasiun itu terlalu kecil.”

Aku cukup menyadari, kapasitas stasiun memang dipengaruhi oleh kapasitas kota yang bersangkutan. Sebuah kota besar umumnya memiliki stasiun yang besar, maka dari itu kereta akan berhenti di stasiun itu. Sebaliknya, sebuah kota kecil umumnya memiliki stasiun yang kecil pula, sehingga cukup jarang kereta yang berhenti di stasiun tersebut.

Dan tentu saja, kota besar umumnya terkenal, sementara kota kecil kurang dikenal. Ini inti pemikiranku.

Batas Kawasan Batang Kota
Batas Kawasan Batang Kota

Ya, Batang adalah kota kecil. Maksudnya, sebuah kabupaten yang luas tapi dengan kawasan perkotaan yang kecil. Secara umum, bisa dibilang Kabupaten Batang masih berada di bawah bayang-bayang tetangganya, Kota Pekalongan. Tidak hanya stasiun besar, terminal bus antarkota dan antarprovinsi pun berada di Kota Pekalongan.

Barangkali status kota inferior itu lah yang menjadi sebab utama sehingga Batang menjadi kurang dikenal. Apalagi jika secara posisi harus disandingkan dengan tetangganya, Kota Pekalongan yang memang cukup terkenal untuk ukuran kota-kota di Jawa Tengah, nama Batang seolah tenggelam.

Namun demikian, pada dasarnya kapasitas kota bukan lah satu-satunya faktor yang membuat dikenal atau tidak/kurang dikenalnya suatu wilayah. Suatu daerah bisa menjadi terkenal karena tiga hal utama: prestasi, keunikan, atau kontroversinya. Prestasi mewakili sisi positif, keunikan tergantung pada substansinya, sedang kontroversi lebih cenderung pada sesuatu yang negatif. Kontroversi lebih sering terkait masalah moralitas atau kriminalitas.

Khusus untuk Kabupaten Batang, setidaknya ada beberapa faktor yang membuat kawasan ini kurang dikenal oleh masyarakat luar. Faktor-faktor tersebut sejatinya juga sangat mungkin berhubungan dengan kapasitas Batang sebagai kota kecil.

Analisis ini hanya melihat faktor-faktor dari sisi prestasi saja. Beberapa faktor tersebut antara lain:

1. Bentang alam

Kabupaten Batang merupakan wilayah dengan hutan jati yang masih cukup luas. Sebagian besar jalan pantura yang membelah kawasan ini dikelilingi oleh pohon-pohan jati raksasa yang berusia puluhan tahun.

Kawasan Pantura Jatisari
Kawasan Pantura Jatisari

Kawasan yang termasuk kota hanya terletak di sebelah barat, tepat berbatasan dengan Kota Pekalongan. Kawasan kota ini hanya sepanjang beberapa kilometer saja dari arah barat, selebihnya, puluhan kilometer ke arah timur didominasi oleh kawasan hutan jati yang cukup lebat.

Salah Satu Suasana Jalur Pantura Batang
Salah Satu Suasana Jalur Pantura Batang

Keadaan geografis yang demikian membuat masyarakat yang melewati jalur pantura menjadi kecil kemungkinannya untuk mengetahui bahwa daerah yang dilewati tersebut adalah daerah Batang. Justru yang terlihat dari wilayah tersebut adalah hutan jati yang luas dan lebat, terlebih pada malam hari. Maka tak heran, sebutan alas roban pun menjadi lebih terkenal dari Batang itu sendiri. Padahal, kawasan alas roban berada di wilayah Kabupaten Batang

2. Faktor kepariwisataan dan ciri khas

Kawasan wisata Sigandu
Pantai Sigandu

Dengan faktor lain yang serupa, daerah dengan daya tarik wisata yang tinggi sudah pasti akan lebih dikenal daripada daerah lainnya. Faktanya, keadaan pariwisata di daerah ini masih terbilang biasa-biasa saja.

Geliat pariwisata memang diupayakan untuk terus dikembangkan oleh Pemerintah Daerah, tapi upaya ini belum mampu memikat wisatawan dari luar daerah untuk mengunjungi tempat-tempat wisata yang berada di kabupaten ini. Data BPS tahun 2009 menunjukkan, angka pengunjung pariwisata di Kabupaten ini hanya sebesar 225 ribu. Masih terlalu kecil untuk ukuran sebuah kabupaten yang memiliki garis pantai yang panjang serta alam pegunungan yang masih asri.

Dari segi budaya, Batang tidak memiliki ciri khas yang menjadikannya dikenal masyarakat luas. Tidak ada ritual maupun produk budaya yang secara khas dan luas mampu mengidentifikasikannya. Berbeda dengan Pekalongan yang terkenal dengan Kota Batik, atau beberapa kota lain yang dikenal karena ciri khasnya.

3. Faktor ekonomi dan kependudukan

Faktor ekonomi berpengaruh pada dikenal/tidaknya suatu kawasan. Dewasa ini, kawasan dengan perekonomian yang kuat umumnya disokong oleh pesatnya perkembangan industri di wilayah yang bersangkutan. Kondisi demikian membuat suatu kawasan/daerah menjadi incaran baik oleh investor maupun pencari kerja. Faktanya, kekuatan perekonomian Batang masih sangat rendah. Terlebih jika dibandingkan dengan Kota Pekalongan.

Pada tahun 2009 misalnya, PDRB perkapita Batang hanya sekitar 6,6 juta rupiah. Bandingkan dengan PDRB perkapita Kota Pekalongan yang hampir mencapai 12,6 juta rupiah atau sekitar dua kali lipat lebih tinggi.

Jika diklasifikasikan antara penduduk kota dengan penduduk desa, maka jumlah penduduk yang tinggal di kawasan kota hanya tak lebih dari lima persen dari total penduduk Kabupaten Batang yang berjumlah 700 ribu orang berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 lalu. Penduduk di Kabupaten Batang mayoritas tinggal di pedesaan.

Di sekitar jalur pantura seharusnya bisa dimanfaatkan sebagai lahan usaha yang strategis sehingga bisa dikembangkan menjadi kawasan kota dengan tingkat perekonomian yang kuat. Mereka yang tinggal di sekitar jalur pantura memang cukup besar jumlahnya, akan tetapi lahan mereka jauh lebih sedikit dari hutan jati di sekitarnya. Lagipula mereka belum mampu mengoptimalkan kestrategisan lahan tersebut sebagai tempat usaha mereka.

4. Faktor sumber daya alam (SDA)

Sebuah kabupaten bisa dikenal luas karena kekayaan alamnya. Sumber daya alam Kabupaten Batang hanya unggul dari sektor hayati. Dari sektor hayati Kabupaten Batang merupakan penghasil kayu sengon, kayu jati, melinjo, kopi, teh, cengkeh, serta komoditas lain dalam jumlah yang cukup besar tiap tahunnya. Sementara dari sektor nonhayati, di daerah ini tidak ditemukan sumber pertambangan baik itu migas maupun nonmigas.

Padahal, suatu daerah dengan kekayaan sumber pertambangan yang tinggi sangat menarik perhatian investor di bidang pertambangan untuk berinvestasi di daerah tersebut yang pada akhirnya akan berpengaruh signifikan terhadap detak perekonomian dan kesejahteraan warganya. Kenyataan ini tidak ditemui pada kabupaten ini.

5. Faktor sumber daya manusia (SDM)

Sumber daya manusia yang unggul dan berprestasi secara langsung akan berimplikasi positif pada dikenalnya asal daerahnya.

Praktis, kualitas SDM di Kabupaten Batang bisa dibilang masih rendah. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator utama tingkat kemajuan SDM di Kabupaten terbilang masih sangat kecil yakni sebesar 69,89 dan menduduki peringkat 32 dari 35 kabupaten/kota. Angka ini masih di bawah IPM Provinsi Jawa Tengah keseluruhan sebesar 72,10 atau Kota Pekalongan yang mempunyai IPM sebesar 74,01.

Sementara dari segi individu, belum ada tokoh/putra Batang yang mempunyai prestasi hingga dikenal dan diakui secara nasional, kecuali mungkin Prof. Dr. Ali Mustofa yang merupakan imam besar masjid Istiqlal Jakarta sekaligus wakil ketua komisi fatwa MUI. Beliau lah yang mendampingi Presiden AS, Barack Obama dan istrinya, Michele Obama sewaktu berkunjung ke Indonesia.

Dari perspektif olahraga, prestasi atlet-atlet dari daerah ini pun masih sebatas regional. Dari segi persepakbolaan misalnya, tim sepakbola daerah ini pun masih belum mampu menembus level utama liga. Padahal, prestasi sepak bola terbukti mampu membuat suatu daerah menjadi terkenal.

****

Setidaknya lima faktor tersebut yang membuat Batang menjadi kurang dikenal. Biarpun demikian, bukan berarti tidak semua rekan atau dosen tidak mengenal tentang Batang. Beberapa rekan dan dosen bahkan ada yang tahu cukup banyak.

Misalnya seorang rekan pernah mengatakan, “Di Batang banyak pangkalan truk ya, Guh?” atau “Di Pagilaran pemandangannya bagus, ya?”😛

Sementara salah seorang dosen yang lain juga pernah berkata, “Oh, alas roban, ya?.” Malah juga ada yang berkata, “Wah, mesti berhati-hati kalau lewat Batang ya, Mas. Banyak lubang cantik melambai-lambai dari pinggir-pinggir jalan!!!”

Aku hanya jawab dalam hati, “Wah, jangan-jangan pernah kecebur disitu ya, Pak????” Hahahahaha…😀

*****

8 thoughts on “Catatan Mudik I: Kenapa Batang Kurang Dikenal?

  1. Aq orang jatim lebih dari 2 tahun tinggal disana baru 3 bln lebih aq meninggalkan batang malah terasa kehilangan semua yg ada disana. Jadi kangen sana, aq suka orang sana tempat2 pariwisatanya sampai aq lebih cinta batang dari pada kota kelahiranq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s