Berdosa pada Kertas

herujunaidi.wordpress.com
herujunaidi.wordpress.com

Ada rasa bersalah seusai saya membaca data yang saya kutip dari http://akuinginhijau.org/2009/12/01/fakta-kertas/ berikut ini:

Tentang produksi kertas:

  • 1 Batang pohon (kayu) menghasilkan 16 rim kertas
  • 1 Batang pohon dapat menghasilkan oksigen yang dibutuhkan untuk 3 orang bernapas
  • Untuk memproduksi 1 ton kertas, dibutuhkan 3 ton kayu dan 98 ton bahan baku lainnya
  • Setiap jam, dunia kehilangan 1.732,5 hektar hutan karena ditebang untuk menjadi bahan baku kertas
  • Industri kertas di seluruh dunia menggunakan 35% dari seluruh panen kayu komersial setiap tahun
  • Industri kertas menghabiskan 670 juta ton kayu untuk menghasilkan 178 juta ton of pulp dan 278 juta ton kertas dan karton
  • 1 ton kertas = 400 rim = 200.000 lembar
  • Untuk memproduksi 3 lembar kertas dibutuhkan 1 liter air
  • Untuk memproduksi 1 kilogram kertas dibutuhkan 324 liter air (environment Canada)
  • 95% kertas dibuat dari bahan serat kayu
  • Untuk memproduksi 1 ton kertas, dihasilkan gas karbondioksida (CO2) sebanyak kurang lebih 2,6 ton atau sama dengan emisi gas buang yang dihasilkan oleh mobil selama 6 bulan
  • Untuk memproduksi 1 ton kertas, dihasilkan kurang lebih 72.200 liter limbah cair dan 1 ton limbah padat
  • Industri kertas adalah pemakai energi bahan bakar ke-3 terbesar di dunia (American Forest and Paper Association)
  • Dulu kertas hanya digunakan untuk menulis, sekarang industri packaging menggunakan 41% dari seluruh penggunaan kertas

 Tentang daur ulang kertas:

  • Mendaur ulang 54 kg kertas menyelamatkan 1 batang pohon (government of Canada)
  • Mendaur ulang 1 ton kertas menyelamatkan kira-kira 17 batang pohon (Purdue Research Foundation and US Environmental Protection Agency, 1996)
  • Mendaur ulang kertas menggunakan 60% energi yang lebih sedikit dibandingkan membuat kertas dari batang pohon
  • Mendaur ulang 1 ton kertas dapat menghemat 682.5 galon bahan bakar dan 7.000 galon air dan 4.000 kwh listrik (Onondaga Resource Recovery Center)
  • 30%-40% kertas yang dibuang adalah kertas packaging atau kemasan (The Recycler’s Handbook, 1990)
  • Saat kertas membusuk atau menjadi kompos akan menghasilkan gas metana yang 25 kali lebih berbahaya dari CO2 (International Institute for Environment and Development, 1971)

Lalu, apa gerangan yang membuat saya merasa bersalah?

Hampir setiap hari saya berkutat dengan yang namanya kertas. Maklum saja, dunia perkantoran memang sangat membutuhkan kertas. Proses surat-menyurat, laporan, hingga bahan-bahan rapat, semuanya mesti dibubuhkan di atas kertas.

Terlepas dari benar atau tidaknya uraian-uraian di atas, kiranya patut menjadi perhatian bagi saya khususnya untuk lebih menyayangi kertas. Jujur saja, beberapa kali saya merobek dan “meruwes-ruwes” kertas tatkala saya salah membuat surat, nota dinas, atau bahan rapat tanpa sedikitpun merasa bersalah.

Di kantor saya, pasokan kertas memang  bisa dikatakan tak pernah tak ada. Hal itulah yang menjadikan saya (mungkin juga rekan-rekan saya di kantor) merasa “tidak sayang” dengan kertas. Kertas bekas, misalnya, paling-paling hanya digunakan lagi untuk mencetak lembar disposisi. Beberapa yang lain bahkan dibuang begitu saja ke tempat sampah.

Di sisi lain, terkadang saking PD-nya dalam membuat suatu dokumen, saya buru-buru mencetak dokumen itu dalam kertas yang bagus. Eh setelah saya baca kembali hasil kerjaan saya itu, ada beberapa yang mesti saya perbaiki. Akhirnya, saya pun mesti mencetaknya di kertas yang baru lagi. Pemborosan.

Belum lagi di kala ada rapat. Kertas menjadi barang yang berharga dalam beberapa menit saja. Untuk mencetak bahan rapat, terkadang dibutuhkan ratusan lembar kertas. Dokumen utama dicetak melalui printer, selanjutnya digandakan dengan mesin fotokopi.

Ketika mesin fotokopi mengalami error,  kertas yang sudah terlanjur dimasukkan ke dalam mesin menjadi rusak. Ada banyak kertas yang terkorbankan sia-sia. Di kala rapat usai, bahan-bahan rapat itu ditumpuk atau diselipkan entah kemana oleh penggunanya. Habis manis kertas pun dibuang.

Jika yang rapat adalah level pimpinan, keadaan bisa lebih tragis lagi. Saking inginnya menyenangkan pimpinan, satu slide power point terkadang dicetak dalam satu halaman kertas. Padahal, bisa-bisa saja satu halaman kertas itu menampung dua atau bahkan empat slide power point. Dan lagi-lagi, setelah rapat usai, kertas itu kembali menjadi barang yang kurang berharga.

Kalau saya lihat, kultur yang ada dalam instansi pemerintah memang masih belum mendukung upaya penghematan kertas. Apalagi terhadap konsep 3R (reduce, reuse, recycle). Yang justru terjadi adalah kebalikan dari itu semua. Kertas dianggap sebagai sesuatu yang sangat murah. Negara tak akan bangkrut gara-gara instansi pemerintah menggunakan kertas secara semena-mena. Anggaran tak akan habis hanya untuk membeli barang persediaan seperti kertas.

Di sisi lain, ada budaya formal-perfeksionis dalam instansi pemerintah. Budaya surat-menyurat secara fisik masih lebih diutamakan  dibandingkan dengan budaya digital atau berbasis internet (misal, melalui e-mail). Surat fisik dianggap jauh lebih kuat nilai kebenarannya daripada sekadar surat ekektronik atau berita telepon. Padahal, surat-surat itu berasal dari internal kantor sendiri, bukan dari instansi yang lain.

Di level pimpinan, ada kalanya seorang pimpinan begitu ingin sempurna secara formal dalam membuat persuratan atau dokumen. Semua dokumen harus dibuat secara sempurna dan dicetak dalam kertas yang baru.

Jika dokumen itu memiliki nilai hukum, tentu itu sesuatu yang wajar. Namun, jika sifat dokumen itu hanya sebatas dokumen persuratan biasa, seyogyanya bukan merupakan sebuah masalah jika dokumen itu dicetak dalam kertas bekas. Apalagi untuk sekadar lembar disposisi yang hanya berisi sebuah arahan singkat dari pimpinan, menurut saya tak ada salahnya semua disposisi dituangkan dalam kertas-kertas bekas.

Terkait dengan hal ini, tentu saja saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya bisa belajar untuk bekerja lebih baik lagi, dengan menghindari kesalahan-kesalahan dalam membuat sebuah dokumen sebelum saya mencetaknya. Kalaupun ragu, saya akan menggunakan kertas bekas terlebih dahulu untuk mencetak dokumen yang saya susun. Setelah yakin bahwa dokumen yang saya susun itu sudah 100% benar, saya akan mencetak dalam kertas yang baru.

Hingga kini, tak terhitung sudah berapa lembar kertas yang terbuang ke tempat sampah gara-gara kesalahan saya. Saya tak bisa berjanji untuk tak lagi melakukan kesalahan yang sama. Tapi, saya akan berusaha untuk meminimalisasi kesalahan saya pribadi.

Sementara tentang kultur pemborosan kertas di instansi pemerintah, rasa-rasanya tidak banyak yang bisa saya lakukan. Yah, minimal dari diri sendiri dulu. Siapa tahu bakal menginspirasi yang lain.😉

***

6 thoughts on “Berdosa pada Kertas

  1. LIMBAH KERTAS perkantoran telah menjadi mata rantai yg dapat memberikan manfaat dan kehidupan bagi sekelompok masyarakat,

    1. Dari tempat sampah perkantoran – office boy mengumpulkan limbah kertas tsb, dan menjualnya kepada pengepul kertas.

    2.Dengan mempergunakan beberapa pekerja – Pengepul kertas memilah – milah limbah kertas tsb menjadi beberapa bagian, (yg masih bersih / kotor )
    (yg sdh terkoyak / yg masih rapih ).

    3.Dari beberapa bagian kertas limbah yg sudah dipilah – pilah tsb,
    a. yg masih bersih & rapih – dioper alihkan ke percetakan.
    b. yg sudah kotor & dan terkoyak – di daur ulang kembali menjadi lembaran kertas.

    4. Dari perjalanan LIMBAH KERTAS sampai pada pendaur ulang, menjadi lapangan pekerjaan bagi sebagian masyarakat, dan mengurangi angka pengangguran, juga – menumbuh kembangkan perekonomian skala mikro.

    Dengan membaca tulisan Mas Teguh diatas ini … saya jadi sedikit tersenyum,
    Bahwasannya rasa bersalah Mas Teguh pada lembar2 kertas tsb..
    Telah memberikan sepersekian nafkah kepada pekerja2 pengepul kertas limbah.
    dan tidak sedikit pula dari hasil kertas limbah itu…dipergunakan untuk dana pendidikan putra / i pengepul / pekerja kertas limbah tsb.

    Sedikit penguraian saya pada komentar disini – dikarnakan sewaktu masih menjadi mahasiswi saya pernah melakukan riset limbah kertas dan manfaatnya bagi masyarakat.
    ternyata Bisnis LIMBAH KERTAS menjadi peluang usaha yang cukup menjanjikan dgn perputaran ekomini skala mikro yg sangat baik. dgn semakin maraknya berdiri lapak2 penampungan LIMBAH KERTAS di Ibukota Negara ini.

  2. Kalo dikantor,kertas yang dibelakangnya masih kosong,saya simpan,ntar kalo mo buat surat lagi,saya pake dulu kertas bekas tadi.kalo diperiksa udah benar,baru deh pake kertas yang bagus,setidaknya itu bisa mengurangi buang-buang kertas ya?hehe

  3. kalau ditoko saya kertas bekas saya kumpulin trus saya bikin Nota dan Tanda terima servis, kalau dah kepakai bolak balik ya saya buat test print blok pas nyervis printer. kalau dah ga bisa dipakai lagi ya dikiloin buat di daur ulang.jadi hampir semua kertas yg aku jual pasti dah belumuran bekas ngetes tinta blok warna printer.jadi semaksimal mungkin kertas harus di hemat, nggak sebentar2 beli baru kecuali buat sesuatu yg bener2 dah dikoreksi dngn benar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s