Nama-Nama Jawa (Mungkin) Akan Musnah

Ilustrasi
Ilustrasi

Bapak satu anak itu namanya Prapto. Dari nama itu kita lantas tahu bahwa sang pemilik nama adalah orang Jawa. Ya, memang dia adalah orang Jawa. Tetanggaku di kampung sana.

Istrinya, Samsiyah namanya. Kata “samsiyah” berasal dari bahasa Arab. Artinya matahari. Sebagaimana Prapto, Samsiyah adalah juga murni orang Jawa.

Sepasang suami istri itu punya satu anak perempuan. Usianya 2 atau 3 tahun.

Suatu hari, Samsiyah tengah belanja di toko kelontong milik ibuku. Aku yang pada waktu itu masih bersih-bersih ruangan toko, sontak bersua dengannya. Dalam gendongan Samsiyah, menempel putri kecilnya. Imut-imut wajahnya.

Aku jarang melihat anak kecil itu. Sekalinya melihat, aku tak tahu siapa namanya. Makanya, aku mendekat lalu menanyainya.

“Hai, Nduk. Siapa namanya?”

Gadis kecil itu tak menjawab apapun. Ia menatap wajahku sembari bingung. Mungkin karena aku bukan sosok yang ia kenal. Atau mungkin wajahku yang terlalu aneh? Hehe… Entahlah.

Sang ibu lantas memberikan jawaban. “Febi, Om.”

“Oh, Febi. Febi siapa?”, aku tanya lagi.

“Febiola Amanda Valensa”, jawab sang ibu.

“What!” Aku berteriak dalam hati. Kok namanya sebegitu “luar negerinya”. Jauh dari nuansa Jawa atau Arab layaknya ibu dan bapaknya. Bapaknya Prapto, ibunya Samsiyah, anaknya Febiola Amanda Valensa. Kontras, bukan?

Aku berusaha menutupi keterkejutanku. Segera saja kualihkan perhatian dengan menanyakan apa yang sang ibu itu hendak beli.

***

Cerita di atas adalah ilustrasi yang didasarkan kisah nyata. Nama-nama di atas bukan nama sebenarnya, tapi substansi ceritanya sama.

Sesungguhnya, terkaget dengan nama kebule-bulean itu bukannya pertama kali aku alami di kampungku. Pernah suatu waktu aku menjumpai seorang anak yang bernama “Better”. Sumpah, waktu itu aku hampir saja tak mampu menutupi kekagetanku.

Jika teman-teman seumuranku di kampung sana masih menggunakan atribut khas Jawa sebagai namanya, maka anak-anak kecil yang saat ini berusia di bawah 10 tahun memiliki nama-nama keren layaknya artis sinetron yang biasa nongol di TV. Kebetulan, ibuku adalah ketua kelompok Posyandu di kampung. Ibu punya daftar nama anak yang biasa ikut Posyandu. Dari daftar nama itu, aku menjumpai sejumlah nama yang menurutku mirip dengan nama-nama artis atau bule. Beberapa diantaranya ada Better, Edwin, Grace, Tamara, Nabila, hingga Enjel (Angel-red). Jangan tanya siapa nama orang tuanya. Jawa tulen!

Tiga anak kecil yang biasa bermain di halaman rumah saya
Tiga anak kecil yang biasa bermain di halaman rumah saya

Tentu aku sangat memaklumi kalau setiap orang tua pasti menginginkan nama yang baik untuk anak-anaknya. Nama itu doa. Nama yang baik berarti doa yang baik. Begitulah ajaran agama.

Tetapi, apakah nama yang baik itu harus mirip dengan nama artis apalagi kebule-bulean? Kalau memang tujuannya untuk memberikan doa yang baik, kenapa juga nama-nama bule yang harus diadopsi? Kenapa harus meninggalkan kekhasan nama Jawa? Kenapa juga kini jarang kutemui nama-nama islami yang merepresentasikan doa dalam potongan ayat Al-Qur’an?

Entah kenapa fenomena anti nama Jawa muncul dalam benak kalangan orang tua baru di kampungku. Mereka seolah berpandangan bahwa nama-nama Jawa itu identik dengan ndeso, katrok, atau apalah namanya.

Aku sendiri tak begitu yakin apakah mereka tahu apa itu makna dari nama Better, Grace, atau Enjel. Lha wong belajar bahasa Inggris saja mereka hampir tak pernah.

Aku menduga bahwa fenomena itu merupakan salah satu efek dari menjamurnya sinetron di layar TV kita. Aku tahu bahwa orang-orang di kampungku itu penggandrung akut sinetron. Nah, dari tokoh-tokoh dalam sinetron yang biasa mereka tonton itu lah barangkali para orang tua itu mendapat inspirasi untuk anak-anak mereka.

Kalau fenomena semacam ini terus berlanjut, mungkin saja kelak nama-nama Jawa akan musnah dari kampungku sana. Kelak tak akan dijumpai lagi nama-nama khas seperti Teguh, Agung, Kuwat, Slamet, Budi, Yanto, Dewi, Marni, Wati, juga nama-nama khas Jawa lainnya. Yang ada hanyalah nama-nama bule seperti Michael, Valentino, David, atau Britney.

Hahahaha… Menarik untuk ditunggu.

*****

5 thoughts on “Nama-Nama Jawa (Mungkin) Akan Musnah

  1. saya kurang setuju dengam pendapat anda mengenai hilangnya nama islami. kalo nama jawa saya setuju.

    justru ahir2 ini nama islami yg justru paling populer, contoh:

    – Zahra
    – Najwa
    – Nabilah
    – Alisha
    – Fatih
    – Naufal
    – Alif
    – Ayesha
    – A’aliyah
    – Aqila
    – Fayyad

    dll..

    yang hilang itu nama islami jadul seperti:

    – zulfikar
    – Mahmud
    – Siti

    buktinya liat do popular search crazytone didominasi mama islami;

    http://nama.crazyartzone.com/index.asp?cat=Cari&key=Alisha%20Dalam%20Arti%20Bahasa%20Arab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s