Misteri Jodoh

*

Minggu lalu, teman saya sejak kecil dulu melepas masa lajangnya. Sayang, saya tak sempat datang ke pernikahannya itu. Minggu ini, teman saya satu kelas juga melangsungkan pernikahan. Beruntung, kali ini saya tak ada aral sehingga bisa sejenak menyambanginya.

Di usia menjelang tua seperti saya ini, membicarakan pernikahan bisa jadi merupakan hal yang sensitif. Niatnya hanya becanda, tapi sangat mungkin ditanggapi secara serius. Maklum saja karena menurut sebagian orang, sudah waktunya bagi saya melepas masa lajang. Hidup yang baru sudah semestinya saya rengkuh.

Saya pun bukannya tak pernah memikirkan itu. Kalau saja jodoh saya sudah dekat, tentu saya pun tak akan menunggu lama untuk menggapai momen sekali seumur hidup itu.

Usia memang tak akan kembali. Jatah hidup manusia di dunia ini berkurang seiring berjalannya waktu. Jika dua insan yang memadu cinta sejati memahami hal ini, mungkin mereka tak akan lagi menunggu terlalu lama untuk hidup bersama. Semakin muda seseorang melangsungkan pernikahan, maka kemungkinan hidup di dunia bersama dengan pasangannya relatif akan lebih lama. Logika yang sederhana.

Tapi, jodoh itu senantiasa menjadi misteri. Konon kabarnya itu sudah ditulis oleh Sang Maha Pencipta, sebagaimana juga jatah usia dan akhir hidup seseorang. Nah, soal kapan atau pada usia berapa seseorang menikah, saya tidak tahu apakah itu juga sudah digariskan oleh-Nya atau tidak.

Bagaimana jalan Tuhan dalam mempertemukan seseorang dengan jodohnya juga tak bisa ditebak. Ada dua insan yang telah menjalin cinta sebegitu lamanya, tapi kemudian kandas begitu saja di tengah jalan. Layu sebelum benar-benar berkembang. Ada juga dua orang yang baru satu kali bertemu, tapi sebulan kemudian tiba-tiba sudah menyebar undangan.

Ada yang menikah bukan lantaran cinta tapi bisa hidup bahagia. Ibu saya, misalnya, dulu menikah dengan bapak hanya karena dipaksa orang tua. Saya pernah tanyakan kepadanya, “Sebelum menikah dulu, apa Ibu sudah jatuh cinta sama Bapak?”

Ibu saya menjawab. “Orang zaman dulu gak kenal cinta-cintaan. Ibu cuma nurutin apa maunya orang tua.”

Biarpun tak bermula dari rasa cinta, toh nyatanya ibu dan bapak saya tetap langgeng sebagai suami istri. Mereka saling mencintai seiring kebersamaan yang mereka lakoni puluhan tahun lamanya. Cinta mereka telah terbukti ampuh dengan lahirnya saya dan adik saya, juga bertahannya hubungan mereka hingga kini.

Di luar itu, ternyata masalah jodoh tak juga bisa disederhanakan begitu saja. Beberapa senior di kantor, misalnya, sering menggoda seorang kawan. “Kamu sama si A saja. Atau si B juga bagus. Enak lho, udah satu kantor, mudiknya pun sama-sama ke Jawa. Jadi bisa searah. Toh dia juga cantik, kan?”

Tapi, nyatanya kawan saya tak menggubris guyonan nan menggoda itu. Ia justru menikah dengan perempuan lain yang bukan orang Jawa. Jadi, soal siapa jodohnya ternyata tak bisa dijelaskan dengan logika ekonomi. Meski tentu saja ada orang yang menerapkannya.

Ada juga seorang laki-laki yang kesehariannya begitu dekat dengan banyak perempuan sebagai rekan kerjanya. Tapi, yang ia tunggu justru perempuan lain nan jauh disana. Sang perempuan pun begitu. Ia dekat dengan banyak laki-laki sebagai kawan kerja, tapi yang ia ingini ternyata sosok laki-laki yang justru jauh dari dirinya.

Misteri. Ya, jodoh itu misteri. Bisa diusahakan, tapi penuh dengan teka-teki. Mungkin itu lah yang membuatnya indah. Itu pula lah yang kini saya tunggu.

Dan yang pasti, setiap kali ada kawan yang menemukan jodohnya, saya selalu turut bahagia. Saya menyadari, ia telah beberapa langkah lebih maju daripada saya.

Wahai jodohku, apa yang tengah kamu lakukan disana? Tak inginkah engkau segera bertemu denganku…?😀

*****

One thought on “Misteri Jodoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s