Catatan Awal Tahun untuk Sang Politikus Kalem

Sore kemarin, pria berkaca mata itu resmi ditahan KPK. Paling tidak selama 20 hari ke depan, ia akan meringkuk dalam ruang tahanan komisi anti rasuah. Sebelum itu, dua kali sudah ia mangkir dari panggilan KPK. Berbagai macam argumentasi muncul dalam kemangkirannya itu. Namun di panggilan ketiga kemarin, ia nampak lebih kooperatif.

***

Anas Urbaningrum (ANTARA)

Saya pertama kali melihat Anas Urbaningrum di layar kaca enam atau tujuh tahun silam. Waktu itu, sang tokoh tengah menghadiri acara dialog di sebuah stasiun televisi. Ia berbicara atas nama parpol yang digawanginya itu. Acara dialog kala itu cukup panas karena juga menghadirkan sejumlah tokoh politik dari parpol lain. Akhirnya, perdebatan kecil muncul dalam dialog itu.

Berbeda dengan tokoh lain yang menjadi lawan politiknya kala itu, Anas terlihat lebih tenang menghadapi suasana yang cenderung panas. Gaya bicaranya sungguh santai. Halus, namun begitu dalam. Ia tak terbawa suasana. Ia tak mau terbakar emosi. Ketenangan psikologisnya sungguh luar biasa. Saat itulah saya mulai menyimpan kekaguman pada dirinya.

Belakangan kemudian saya mulai menelusuri kehidupan Anas. Seperti yang saya duga, perjalanan hidupnya memang cenderung lurus menanjak. Ia dikenal sebagai sosok yang cerdas sejak lama. Mantan mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga itu pernah menjadi ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Sebagaimana diketahui, organisasi besar itu memang dikenal produktif menelurkan sejumlah tokoh politik ternama yang bercokol di senayan sana.

Di awal masa reformasi, Anas dikenal turut berperan dalam merumuskan sejumlah undang-undang yang terkait dengan proses politik. Ia kemudian menjadi anggota KPU di tahun 2001, lalu hijrah ke dunia pertarungan politik yang sesungguhnya dengan menjadi Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah Partai Demokrat di tahun 2005.

Tahun 2009, Anas menjadi angggota DPR RI. Di pemilu kala itu, parpolnya menjadi pemenang pemilu, pun juga dengan capres yang diusungnya.

Karier politik Anas semakin mentereng saja ketika di tahun 2010 ia menjadi ketua umum partai. Lewat pemilihan yang digelar dalam kongres Partai Demokrat kala itu, Anas sukses mengungguli dua kandidiat ketua umum lain, yakni Marzuki Alie dan Andi Mallarangeng. Anas pun berada di puncak partai penguasa. Bisa dikatakan bahwa saat itu merupakan pencapaian tertinggi Anas sebagai politikus.

Namun, kurang dari dua tahun setelah resmi menjadi ketua umum partai, badai politik mulai menerpa pria kelahiran Blitar itu. Berawal dari ditetapkannya bendaharawan partai, M. Nazaruddin, sebagai tersangka kasus korupsi Wisma Atlet Palembang, aroma tak sedap mulai mengitari kehidupan politik Anas. Nazaruddin yang sempat melarikan diri hingga Kolombia rajin mengeluarkan nyanyian tak sedap untuk diri Anas. Oleh Nazaruddin, Anas disebut sebagai tokoh dibalik korupsi dana Hambalang.

Sejak nyanyian Nazaruddin itu mengemuka, posisi Anas sebagai ketua umum partai mulai digoyang. Puncaknya adalah awal tahun 2013 lalu. Anas akhirnya mengundurkan diri sebagai ketua umum partai. Pengunduran diri itu dilakukannya setelah mendapat tekanan dari sejumlah pihak, termasuk dari kalangan istana.

Kurang dari setahun setelah mengundurkan diri itu, karier politik Anas semakin menurun saja. Penetapan dirinya sebagai tersangka kasus korupsi Hambalang membawanya terpaksa merengkuk di rumah tahanan KPK.

Kita tak bisa menerka apa yang akan terjadi dalam beberapa waktu mendatang. Kita bahkan tak perlu menerka-nerka apa yang akan terjadi. Bersalah atau tidaknya Anas, biar hukum yang menentukan. Namun begitu, tentu bukan berarti tak ada yang bisa kita catat dari apa yang terjadi dalam karier politik Anas itu. Dari situ, kita bisa belajar memahami mengenai lika-liku politik yang bisa saja menimpa seorang tokoh politik.

Pertama, hidup itu tak ubahnya roda yang berputar. Sebagaimana roda yang berputar, ada kalanya seseorang berada di atas, namun ada waktunya ia akan berada di bawah. Karier politik Anas yang mentereng ternyata tak cukup membuatnya bertahan lama berada di atas panggung sana.

Anas membangun kariernya setapak demi setapak. Dari aktivis ia kemudian menjadi reformis. Dari reformis ia terjun ke dunia politis hingga sukses menjadi ketua umum partai penguasa. Masa-masa itu adalah masa dimana Anas berada pada titik tertingginya.

Selepas menjadi ketua umum partai, posisi Anas di panggung politik mulai meredup. Roda mulai berputar kembali. Anas tak mampu mempertahankan posisinya. Ia turun seiring berjalannya roda yang mulai diputar oleh Nazaruddin, mantan koleganya sendiri. Posisinya kini diunjuk tanduk. Pengadilan Tipikor sudah menantinya. Aroma hukuman mulai tercium di sekitarnya.

Ungkapan hidup bagai roda yang berputar itu tentu tak hanya berlaku untuk Anas semata. Namun kali ini, sudah semestinya kita belajar dari apa yang terjadi pada sosok kalem itu. Karena hal serupa, bisa menimpa siapa saja.

Hal kedua yang bisa kita catat dari apa yang terjadi pada Anas adalah, sulit menemukan kawan sejati dalam dunia politik, sebagaimana juga sulit menemukan lawan yang sejati. Pada suatu waktu seseorang bisa saja menjadi kawan politik, namun  di lain waktu ia bisa menjadi lawan. Mari kita cermati pada apa yang dilakukan oleh Nazaruddin dan sebagian petinggi Partai Demokrat terhadap Anas.

Nazaruddin yang dulunya adalah kolega Anas di partai biru, tiba-tiba menjadi musuh Anas berkat nyanyian-nyanyian yang dilakukannya. Ia lah tokoh yang mengawali berputarnya roda kehidupan politik Anas. Nazaruddin mungkin tak mau meringkuk dalam penjara seorang diri. Makanya, ia terus bernyanyi hingga Anas pun perlahan harus mengikuti nasibnya.

Sejak Nazaruddin mulai bernyanyi, kawan-kawan Anas di Partai Demokrat pun mulai berupaya menyingkirkan Anas dari jabatannya sebagai ketua umum. Anas terus ditekan untuk mengundurkan diri dari jabatan ketua umumnya itu. Terlepas dari apakah upaya menekan Anas itu untuk menyelamatkan citra partai atau tidak, toh nyatanya kini Anas berjuang nyaris seorang diri melawan sangkaan korupsi yang menerpanya. Hanya sedikit diantara kawan-kawan partai yang tetap loyal kepadanya. Apa yang terjadi pada Anas itu seolah membuktikan bahwa ungkapan tak ada kawan dan lawan yang pasti dalam dunia politik, adalah benar adanya.

Pertanyaannya sekarang adalah, apakah penahanan Jumat sore lalu itu akan berujung pada berakhirnya karier politik Anas untuk selamanya? Akankah ia terhempas dan terinjak oleh roda politik ataukah ia mampu bertahan dan kembali ke atas? Entahlah. Yang pasti, sikap Anas tetap seperti saat pertama kali saya melihatnya di layar kaca. Ia tetap tenang sebagaimana biasa. Hal yang sulit untuk dilakukan oleh orang dengan kecerdasan psikologis biasa-biasa saja.

Sekarang, mari kita tunggu saja apa yang akan terjadi pada politikus kalem itu.

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s