Asa dari Pameran Alutsista TNI AD

Ibu-ibu muda itu nampak antusias mengambil foto anak-anak mereka. Di hadapan kamera, anak-anak kecil itu nampak tak canggung bergaya. Di sampingnya, ada tubuh-tubuh kekar nan gagah berkulit dan berseragamkan gelap. Di dekat tugu Monas, anak-anak kecil dan orang-orang dewasa itu, nampak begitu akrab dengan para prajurit bangsa dari Angkatan Darat. Disana memang tengah digelar pameran alutsista TNI AD, dari 3 hingga 7 Oktober esok. Pameran itu, kabarnya untuk memeriahkan ulang tahun ke-68 TNI, 5 Oktober kemarin.

Kemarin, saya meniatkan diri untuk berkunjung kesana. Dari dulu saya memang tertarik dengan semua hal yang terkait dengan alutsista. Dan kemarin, adalah ajang yang tepat bagi saya untuk sekadar melihat-lihat alutsista sekaligus rekreasi gratis.

Ada banyak alutsista yang dipamerkan di lapangan Monas itu. Dari mulai kendaraan militer seperti truk-truk pengangkut, tank, pesawat udara, hingga peralatan tembak-menembak seperti senapan, pistol, peluru, dan atribut-atribut penghancur lainnya. Ada juga peralatan pendukung seperti penjinak bom dan alat deteksi senjata kimia dan biologi. Disana, ada 26 stan dari TNI AD yang diantaranya adalah Kavaleri, Infanteri, Artileri Pertahanan Udara, Artileri Medan, dan Kopassus. Setiap stan berupaya mengenalkan tugas dan fungsinya masing-masing sembari memamerkan peralatan-peralatan yang menjadi andalan mereka.

Alutsista yang dipamerkan itu memang menarik bagi saya. Saya tahu, tentu tak semua alutsista yang dimiliki TNI AD akan terpajang disana. Namun barangkali yang dipamerkan itu cukup mewakili peralatan-peralatan apa saja yang saat ini dimiliki TNI AD. Masalahnya, saya tak memiliki pengetahuan yang cukup update mengenai perkembangan alutsista yang ada di luar negeri sana. Sehingga, saya tak cukup bisa menilai apakah alutsista yang dipamerkan itu cukup up to date dengan perkembangan teknologi persenjataan dunia saat ini atau tidak. Akhirnya, saya hanya berkeliling dan melihat-lihat saja.

Di saat berkeliling itu saya mendapati antusiasme masyarakat yang begitu tinggi. Semua stan selalu ramai pengunjung. Anak-anak lebih antusias lagi. Mereka bahkan mendapat kesempatan untuk naik ke dalam helikopter kemudian bergaya dan berfoto bersama prajurit penjaga. Anak-anak yang lain, mereka menaiki tank-tank yang terparkir begitu gagah. Orang tua mereka memfoto dari bawah. Setiap kali naik, mereka semua nampak gembira dan enggan untuk kembali turun.

Anak-anak muda juga tak ketinggalan antusianya. Prajurit-prajurit yang begitu gagah itu (ada juga yang cantik) tak pernah bosan melayani ajakan foto bersama dari pengunjung.  Saya yang datang seorang diri berulangkali diminta untuk memfoto mereka. Prajurit-prajurit itu juga dengan senang hati menjawab pertanyaan-pertanyaan pengunjung. Adalah fenomena yang cukup langka ketika masyarakat bisa sebegitu akrabnya dengan para prajurit.

Di salah satu stan, saya melihat sekelompok anak muda yang begitu ramai bertanya-tanya kepada petugas. Anak-anak muda itu ternyata adalah anak-anak SMA yang kelihatannya berminat untuk menjadi prajurit. Pantas saja mereka nampak begitu cerewet dalam bertanya. Di stan itulah, saya juga tertarik untuk mendengar penjelasan sang petugas. Di stan itu juga, saya teringat akan sosok adik sepupu saya yang juga bercita-cita menjadi tentara.

Rencananya, tahun 2014 mendatang, TNI akan kembali menerima pendaftaran calon prajurit baru. Hal ini memang rutin dilakukan TNI hampir di setiap tahun. Itulah yang dijelaskan oleh petugas. Dalam tulisan ini tentu saya tak akan menjelaskan bagaimana syarat dan prosedur pendaftarannya. Hal seperti itu, tentu terlalu teknis untuk saya tuliskan disini.

Yang membuat menarik adalah keraguan dari anak-anak muda akan prosedur yang ada. Keraguan apa? Bukan soal ketidakmampuan mereka dalam memenuhi persyaratan fisik, bukan juga lantaran tingkat kecerdasan mereka yang rendah. Yang mereka ragukan adalah, benarkah untuk mendaftar sebagai calon prajurit TNI itu tidak dipungut biaya alias gratis? Jujur saja, ini yang juga saya ragukan.

Teorinya, memang pendaftaran itu tidaklah dipungut biaya apapun. Teori ini juga sama halnya di akademi kepolisian atau sekolah kedinasan milik pemerintah lainnya. Negara memang tak memungut biaya apapun dari para pendaftar. Ingat, yang tak memungut adalah negara. Saya sangat paham bahwa memang pungutan resmi seperti itu hampir tidak ada dalam perekrutan apapun oleh negara.

Namun, saya (tentu juga anak-anak muda itu), tentu tak tuli dengan isu yang seringkali muncul di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang mengatakan bahwa untuk dapat menjadi prajurit TNI, dibutuhkan biaya puluhan hingga ratusan juta. Memang benar bukan negara yang memungut itu. Uang itu, adalah untuk para oknum yang bermain dalam proses perekrutan calon prajurit itu. Sehingga, pernyataan tidak dipungut biaya apapun dalam pendaftaran menjadi prajurit TNI adalah betul sepanjang yang kita anggap pemungut adalah negara. Namun jika ada oknum yang bermain-main di ranah itu, tentu lain lagi soalnya.

Soal benar atau tidaknya kekhawatiran saya dan anak-anak muda itu soal biaya pendaftaran sebagai calon prajurit, tentu sulit untuk membuktikannya. Tapi masyarakat memang sudah terlanjur terbawa dalam pandangan-pandangan seperti itu. Ini tak jauh berbeda dengan yang terjadi pada saat pendaftaran calon pegawai negeri sipil, juga pendaftaran pendidikan tinggi kedinasan lainnya. Dalam pandangan saya, memang ada nuansa kecurangan dalam momen-momen pendaftaran semacam itu. Ada oknum yang selalu mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Sehingga, kekhawatiran akan adanya kecurangan seperti keharusan mengeluarkan biaya bagi pendaftar yang ingin lolos menjadi calon prajurit itu, menjadi cukup beralasan.

Di ajang pameran alutsista itu, saya mendapati antusiasme yang luar biasa dari masyarakat. Dari anak-anak yang bermain-main di atas tank itu, saya berpikir bahwa mungkin saja kelak mereka bercita-cita menjadi seorang prajurit. Dari orang tua yang mengajak anak-anaknya berkunjung itu, saya juga berpikir bahwa mungkin mereka juga ingin agar anak-anak mereka kelak menjadi prajurit. Dari anak-anak muda yang bertanya seputar pendaftaran calon prajurit itu, saya yakin mereka memiliki cita-cita yang luhur itu. Dari penuturan adik sepupu saya di kampung sana, saya juga yakin ia sungguh-sungguh ingin menjadi tentara. Tentu tak semua diantara mereka yang memiliki cita-cita yang hebat itu bisa dan harus menjadi tentara. Di seluruh penjuru tanah air, jumlah mereka ada ratusan ribu sementara kuota yang dibutuhkan setiap tahunnya selalu terbatas.

Dalam pikiran saya, yang penting sesungguhnya bukan pada mewujudkan cita-cita mereka semuanya, melainkan memberikan perlakuan yang sama kepada mereka di kala pendaftaran tiba. Yang mesti dilihat adalah potensi mereka, bukan seberapa banyak uang yang mereka sediakan. Jika sebuah ajang seleksi telah dilakukan dengan fair, tentu tak masalah jika seseorang harus mengalami kekalahan atau kegagalan. Mau tidak mau, mereka harus menerimanya dengan lapang dada.

Menurut saya, adalah pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi TNI untuk menegakkan sisi fairness itu. Hal itu lah yang paling saya pikirkan sepanjang perhelatan pameran alutsista TNI AD kemarin. Seorang kawan pernah berkata, pendaftaran calon tentara itu ibarat jual-beli barang saja, siapa berani tinggi dia yang akan jadi. Mudah-mudahan kalimat miring itu tidak benar-benar terjadi, atau tak terjadi kembali.

Berikut adalah beberapa foto yang saya ambil dalam ajang pameran alutsista TNI AD kemarin:

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

???????????????????????????????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s