Seputar Laundry

Gambar diambil dari: http://www.wlu.edu/x39311.xml
Gambar diambil dari: http://www.wlu.edu/x39311.xml

Semenjak instansi menempatkan saya di Jakarta, rasa manja di kala saya mesti melakukan sesuatu tiba-tiba membayangi saya. Dari hal yang sederhana hingga yang agak berat, hampir semuanya ingin saya lakukan tanpa menggunakan tangan atau tenaga sendiri. Untuk membeli makan, misalnya, saat di Purwakarta dulu, saya terbiasa membeli makan dengan berjalan kaki bersama dengan rekan-rekan saya yang lain. Sementara ketika di Jakarta, kegiatan berjalan kaki itu berat rasanya untuk saya lakukan. Akhirnya, sepeda motor pun menjadi pelarian saya.

Hal tak jauh berbeda juga saya alami tatkala ingin mencuci pakaian. Dahulu, saya cukup rajin untuk mencuci baju-baju saya dengan tangan saya sendiri. Di sisi lain, laundry saya anggap sebagai sebuah sikap kemanjaan sekaligus pemborosan. Di Purwakarta, tak pernah saya melaundrykan baju-baju saya. Tapi kini, keadaan justru sebaliknya. Saya telah mengalami suatu ketergantungan kepada laundry. Dan disinilah letak permasalahannya.

Di sekitar tempat saya tinggal kini, kalau saya hitung, ada empat tempat yang memberikan jasa laundry kiloan. Keempatnya telah saya coba. Masing-masing memberikan kesan yang berbeda.

Tempat laundry pertama, sebut saja Laundry L. Laundry yang ini memberikan jasa antar-jemput. Jika ingin melaundrykan baju, kita tinggal menelpon ke call center mereka, maka seorang petugas akan segera datang untuk menjemput baju-baju kotor kita. Begitu juga di kala ingin mengambil cucian, kita juga hanya perlu menelpon atau mengirimkan SMS, maka cucian yang sudah rapi dan bersih akan segera diantar petugas ke rumah.

Pada awalnya saya sungguh terkesan dengan Laundry L ini. Pelayanannya cepat dan tepat waktu, hasil cuciannya bersih, tarif perkilonya juga tidak terlalu mahal. Misalkan hari Sabtu saya melaundrykan baju-baju kotor saya, hari Minggu sore baju-baju saya telah bersih, rapi, dan wangi.

Namun, keadaan menjadi berbeda semenjak dua bulan yang lalu. Pelayanan Laundry L ini secara tiba-tiba tak lagi sebaik dulu. Ketika saya telpon, jarang sekali telpon saya diangkat. SMS pun sama. Sudah begitu, mimik wajah petugas yang biasa antar-jemput pun berbeda dari sebelumnya. Ada kesan ogah-ogahan di wajahnya. Terakhir, ketika saya ingin melaundrykan baju saya, tak ada petugas yang datang menjemput. Saya tanyakan kepada seorang kawan yang juga menjadi langganan Laundry L tersebut. Ternyata,  ia pun mendapat perlakuan yang sama dari Laundry L itu.

Setelah Laundry L nampaknya sudah tidak serius lagi memberikan jasa laundry, saya kemudian beralih kepada laundry S. Laundry S ini terletak di sebuah tempat yang sangat strategis dimana banyak orang melintas di depannya. Tak ada salahnya laundry ini dicoba.

Saya lihat petugas di Laundry S amat sibuk setiap harinya. Ada puluhan tumpukan baju yang merupakan milik pelanggan. Namun, sekali saya mencoba melaundrykan baju saya disana, saya langsung kapok. Baju-baju kotor yang saya laundrykan disana bukannya menjadi bersih tapi justru sebaliknya, semakin kusam saja. Hanya aroma wangi yang menjadi nilai tambahnya.

Nah, yang parah, dalam tumpukan pakaian yang saya buka di kamar, saya justru diberi tambahan satu baju. Saya tak memahami apakah itu bonus karena saya telah menggunakan jasa laundry tersebut atau memang karena tidak disengaja. Pasalnya, yang menjadi bonus itu adalah sebuah celana dalam pria. Saya sendiri tak pernah merasa melaundrykan celana dalam saya. Ukuran celana dalam yang terselip dalam tumpukan baju itu memang tepat sama dengan ukuran milik saya. Hehe, pintar sekali petugas itu memberikan bonus untuk saya. Tapi, jangan kira saya akan memakai tambahan celana dalam itu.

Saya kembali bercerita kepada teman-teman saya yang juga pernah menggunakan jasa Laundry S itu. Dan ternyata, dua orang teman saya juga mendapat bonus yang serupa. Sebagaimana saya, teman yang satu juga mendapatkan tambahan sebuah celana dalam. Namun parahnya, tambahan celana dalam itu bukannya celana dalam pria, tetapi celana dalam wanita dengan warna dan renda-rendanya yang khas. Wkwkwkwk… Parah. Sementara teman saya yang satu lagi sedikit lebih beruntung. Ia mendapat tambahan baju kaos. Tapi ya lagi-lagi, ia pun tak mau memakainya.

Cukup sekali saya mencoba Laundry S. Saya pun segera berganti pada tempat laundry yang lain. Kali ini Laundry E. Letak Laundry E sebenarnya tak begitu jauh dari Laundry S. Laundry E ini nampaknya cukup bersaing dengan Laundry S.

Jika di Laundry S saya mendapat tambahan bonus, kali ini berbeda dengan Laundry E. Di Laundry E, saya justru kehilangan satu buah selimut yang biasa saya gunakan untuk tidur. Ukurannya lumayan besar, bobotnya juga lumayan berat. Sejujurnya aneh jika selimut sebesar itu bisa ketlingsep entah kemana.

Saya sempat menanyakan mengenai hal itu kepada petugas di Laundry E. Saya pikir masih tertinggal disana. Eh, nyatanya selimut kesayangan saya itu telah tiada. Kemungkinan besar terselip pada baju-baju milik pelanggan yang lain.

Sejujurnya saya kesal dengan petugas di Laundry E itu. Tapi ya bagaimana lagi. Tak tega rasanya untuk marah-marah di depannya. Akhirnya, saya hanya bisa mengumpat dalam hati sembari menggerunyam, “kapok aku ngelaundry di tempat ente. Jangan harap aku akan kembali ngelaundry disitu…”.😀

Lepas dari Laundry E, tepat Kamis lalu saya mencoba peruntungan pada tempat laundry yang lain. Namanya Laundry K. Letaknya juga tak begitu jauh dari tempat saya tinggal. Sesuai janji petugas, baju-baju yang saya laundrykan itu akan bisa saya ambil hari Minggu sore. Nah, hari ini adalah hari dimana saya akan mengambil baju-baju saya itu.

Saya berharap Laundry K ini akan lebih baik daripada tiga tempat laundry sebelumnya. Semoga saja hasilnya bersih, rapi, dan wangi. Dan yang juga penting, mudah-mudahan  tidak ada lagi bonus baju apapun untuk saya, tidak ada potongan, kehilangan atau kerusakan pada baju-baju saya. Tapi sejujurnya saya cukup cemas. Jika Laundry K ini tidak juga bisa diandalkan, maka kemana lagi saya akan melaundry? Atau barangkali saya mesti mengurangi rasa malas saya dengan kembali mencuci menggunakan tangan saya sendiri? Kita lihat saja nanti..😀

*****

Baca Juga

6 thoughts on “Seputar Laundry

  1. Di kota saya cuma ada dua tempat laundry. Dua-duanya nggak bisa laundry express. Kadang bekas setrikaannya lebay, sampe ninggalin garis samar di rok yang nggak ilang2. Pernah kejadian juga jilbab saya kelunturan, padahal itu jilbab putih😥
    Kapok, sih. Tapi, ya kadang terpaksa laundry juga kalau habis ke luar kota dan pulang bawa baju kotor setumpuk. Nasib nggak punya mesin cuci…

  2. Hikz – Hikz – Hikz – Selimutnya hilang dong…??
    selanjutnya ada pertanggung jawaban dari Loundrynya Dak Mas ?

  3. tulisanmu menghibur banget guh,,,🙂
    saranku, Pak Kun “diberdayakan” saja hahaha,,
    tapi saiki cuci sendiri lah, mungkin lebih santai seperti waktu kuliah DIII mbiyen,, hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s