Rindu Bercocok Tanam

Hari ini semestinya aku berada di rumah di kampung halaman sana. Itu yang sejujurnya sudah aku rencanakan sejak sebulan lalu. Namun sayang sungguh sayang, tiket kereta  menuju Batang dan sekitarnya tak lagi tersisa.

Ada satu hal yang ingin aku lakukan di bulan ini.  Aku masih ingin bercocok tanam, menanam aneka buah dan pepohonan lain di kebun tak jauh dari rumahku. Selagi hujan masih kerapkali jatuh di bumi Batang.

Bercocok tanam. Sesungguhnya itu lah pekerjaan yang ingin aku tekuni sejak aku kecil dulu. Bertani, sebagaimana juga leluhurku, kakek-nenekku, saudara-saudaraku, hingga bapak dan ibuku.

Namun, bapak tak merestui niatku itu. Bapak tak mengizinkanku meneruskan apa yang menjadi rutinitasnya. “Bertani itu hasilnya tak seberapa, kamu kuliah saja yang benar, nanti kerja di kantor, menjadi pegawai negeri atau karyawan”, begitu yang aku ingat.

Bapak memang tidak keliru. Aku paham, tentu ia ingin aku dapat hidup lebih baik darinya. Aku menghormati bapak. Aku turuti nasihatnya. Aku bahkan tak diizinkannya terlalu sering ke sawah atau ke kebun. Aku hanya sibuk sekolah. Bahkan aku tak begitu paham bagaimana cara bertani yang benar.

Aku pun lulus sekolah dengan hasil yang cukup baik, lulus kuliah dengan hasil yang juga lumayan. Doa bapak pun terkabul, aku benar-benar menjadi pegawai negeri sebagaimana keinginan bapak. Dan memang benar, jika dibandingkan, menjadi pegawai negeri memang lebih aman daripada menjadi petani. Hasilnya juga lumayan. Masih lebih banyak dari yang dihasilkan bapak. Aku cukup menikmatinya, meski belum benar-benar menikmatinya. Belum senikmat bercocok tanam.

Ada banyak kenikmatan yang benar-benar aku rasakan di kala aku bercocok tanam. Ada kepuasan tatkala memandangi pepohonan yang tumbuh dengan subur. Ada kebanggaan saat aku melihat kebunku begitu rindang dan menghijau. Ada juga harapan jangka panjang kelak kebun-kebun itu akan memberikan hasil yang lumayan. Sementara, hingga kini aku masih belum merasakan kepuasan dengan apa yang sehari-sehari aku kerjakan di kantor.

Hari ini aku benar-benar merindukan kebunku. Masih ada sela-sela kebun yang belum aku tanami pepohonan. Di sela-sela itulah rencananya akan aku tanam durian dan rambutan. Sayang sekali, minggu ini aku belum bisa pulang.😀

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s