Pelaminanmu

www.dreamstime.com
http://www.dreamstime.com

 

Aku masih memandangmu duduk bersandarkan kursi mewah berhiaskan warna keemasan itu. Kamu kelihatan begitu cantik, jauh lebih cantik dari yang biasa aku lihat.

Wajahmu putih bersih, alismu segaris memanjang, rambutmu tertutup kerudung bertumbuhkan bunga-bungaan merah hijau. Gaunmu memanjang, menutupi sela-sela kakimu yang bersepatukan merah. Kamu begitu anggun, senyummu begitu manis kepada siapapun yang memandangmu. Ah, tapi sepertinya tidak untukku.

Orang-orang berdatangan untuk menghadiri undanganmu. Mereka pun sama sebagaimana diriku, begitu terpana dengan aura kecantikan yang lahir dari wajahmu, begitu terkagum dengan lekuk tubuhmu yang berbalutkan busana biru.

Aku bahagia melihat kecantikanmu. Kamu memang begitu rupawan, indah menawan hatiku sejak sekian lama. Namun, sayang sungguh sayang, ada dia di sampingmu, ada dia seorang yang baru saja resmi menjadi suamimu, satu jam yang lalu.

Tidakkah kamu melihatku di ujung ruangan ini? Sadarkah kamu bahwa aku sudah hadir disini sejak kamu mulai duduk di kursi pelaminanmu itu? Apa kamu sudah tak mengenaliku lagi? Aku lihat kamu memandang ke arahku, tapi kenapa kamu diam saja? Apa kamu tak mengharapkanku hadir di hari bahagiamu ini? Tak tahukah kamu bahwa aku berjalan begitu jauh hanya untuk melihatmu mengenakan gaun itu? Tidak. Tidak mungkin kamu sudah melupakanku, kecuali jika dan hanya jika kamu memang tak melihatku berdiri di dekat hiasan ini.

***

Bertahun-tahun lamanya kita belajar bersama, satu sekolah, satu kelas, dari sekolah dasar hingga kuliah. Berapa kali kamu menyontek PR-ku? Berapa kali aku mengajarimu matematika dan begitu sulit bagimu untuk memahami logika matematis sederhana itu? Ah, barangkali berbicara soal logika, itu bukan bidangmu, itu bukan bakatmu. Pantas saja kamu terlihat sulit memahaminya.

Kamu memang tak pandai berhitung, duhai cantik. Aku paham. Hidupmu memang tak ingin kamu curahkan dalam dunia akademis sebagaimana diriku. Kamu lebih suka berpetualang, berfoto, berdandan, dan bergaya di depan kamera. Kamu begitu berbakat saat bermain drama di sekolah, sedang aku sebagai lawan mainmu kala itu, begitu payah, tak bisa meladeni kepandaianmu memainkan skenario. Aku bahkan pernah menggagalkan drama yang kita susun bersama. Aku gugup, aku lupa dialog yang kamu buat itu. Maaf. Aku tahu kamu sangat marah kala itu. Dan, lagipula, kamu kan tahu aku tidak pandai berakting, kenapa juga kamu memilihku? Apa sebenarnya kamu juga tertarik padaku? Apa sebenarnya kamu juga menyimpan sebuah rasa yang sama sebagaimana diriku padamu? Atau hanya karena aku tetanggamu yang begitu baik yang selalu mengajarimu PR dan memboncengmu saat kita berangkat maupun pulang sekolah?

Kamu tahu, begitu indah sekali masa-masa itu. Aku ingin kembali ke masa itu andai saja bisa. Aku ingin bersamamu meski kamu hanya memandangku sebelah mata.

Kini, kamu telah menjadi milik orang lain. Ya, pria disampingmu itu. Kamu pikir pria itu baik untukmu? Entahlah kenapa aku begitu yakin kamu tak akan bisa bahagia bersamanya. Dia menikahimu hanya karena kamu artis, hanya karena wajahmu cantik menawan. Aku dengar suamimu itu adalah seorang tentara, ayahnya adalah seorang petinggi militer di negeri ini. Benarkah itu? Boy namanya, kan? Ya, tidak salah lagi, benar bahwa suamimu adalah Boy yang bersama anak buahnya pernah memukuliku. Kamu tentu tak menyadari itu, kamu tentu tak mau tahu dengan hal itu, dan memang aku sendiri tak ingin kamu tahu.

Tatkala kita pulang dari kuliah bersama-sama, kamu pernah bercerita padaku bahwa kamu begitu mencintainya. Ya, dia adalah anak seorang yang begitu terkenal di negeri ini. Barangkali itu yang membuatmu begitu terkagum-kagum padanya. Aku tak ingin berlama-lama mendengar ceritamu kala itu. Kamu tentu tak menyadari bahwa ceritamu itu begitu menyudutkan hatiku.

***

Ingatkah kamu, hari itu aku pulang terlalu malam dari kampus. Berbagai tugas kuliah dan kegiatan organisasi telah menyibukkanku. Aku ingin segera pulang, badanku begitu letih. Namun, kala itu kamu justru merepotkanku. Kamu memintaku  mengantarmu shooting sinetronmu. Merepotkanku? Tidak, tentu saja. Aku ikhlas mengantarmu, aku senang kamu akan memboncengku lagi setelah sekian lama aku tak merasakan genggaman tangan halusmu itu.

“Jalanan macet, kamu anterin aku ya pakai motor. Aku ada shooting ni jam 9 malam. Nggak akan keburu kalau aku nunggu Boy buat mengantarku, kamu anterin aku ya?”

Itu yang kamu ucapkan kala itu. Sejak kamu menjadi artis, kamu memang begitu jarang membonceng sepeda motorku yang memang sudah semakin tua saja. Barangkali kamu gengsi jika harus memboncengku. Terlebih lagi, setelah kamu berpacaran dengan Boy yang kaya raya itu.

“Eh, ingat. Jangan lewat keramaian ya. Aku takut wartawan bakal ngeliatku. Ntar dikiranya aku ngojek lagi.”

Aku tak menjawab apapun, namun tetap mengantarmu menuju lokasimu mengambil gambar. Masih aku rasakan tangan halusmu memegangi pinggangku.

Kita sampai disana belum cukup telat, masih ada waktu 15 menit bagimu untuk berias diri sebelum wajah cantikmu memperdaya juru kamera itu.

“Terima kasih, ya. Kamu nggak usah tungguin aku. Kayaknya aku bakal shooting sampai pagi. Esok, biar Boy yang menjemputku. Oh iya, jangan lupa, kalau mama papaku nanya, jawab saja lagi di tempat shooting.”

Kamu tak memberiku kesempatan memberikan sedikit jawaban. Kamu justru melanjutkan kata-katamu.

“Ya, sudah. Ayo buruan pergi, ntar wartawan ngeliat kita lagi.”

Kamu langsung berlari setelah mengucapkan kata-kata itu. Aku masih memandangi gayamu berlari. Masih seperti saat kamu kecil dulu, di saat kita sering bermain bersama.

***

Malam itu, aku susuri jalanan untuk segera pulang ke rumah. Jalanan masih begitu ramai. Jam tanganku sudah menunjuk angka 9.

Tepat sebelum masuk ke kompleks rumah, jalanan tiba-tiba sepi, tak ada orang satupun. Gerimis menjadi semakin deras saja. Aku ingin segera sampai di rumah, kupercepat laju sepeda motorku.

Aku berhenti. Seorang yang biasa mengantar dan menjemputmu berdiri di depanku. Ya, dia adalah Boy, seseorang yang pernah mengancamku sebulan yang lalu sesaat setelah kamu memboncengku saat berangkat kuliah. Ia bersama teman-temannya menghentikan laju sepeda motorku.

Dia mendekat ke arahku, mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan mataku. Ada apa dengan lelaki pujaanmu itu?

“Aku udah bilang sama kamu, jangan deket-deket lagi dengan Tasya, tapi kamu masih saja jalan dengannya. Aku udah peringatin kamu, kalau kamu mau selamat, kamu jauh-jauh dari Tasya. Kamu denger aku, tidak?” Boy membentakku setelah menghadang perjalanan pulangku malam itu.

“Apa maksudnya? Aku emang deket sama Tasya, bahkan sejak kami sama-sama kecil dulu. Siapa kamu ngelarang-ngelarang aku deket sama dia?”

“Kamu mau tahu siapa aku? Kamu mau tahu siapa keluargaku? Oke! Aku bakal dengan senang hati ngejelasin itu sama kamu. Kalau kamu sering lihat TV, kamu pasti bakalan tahu siapa papaku. Pejabat negara. Kamu tahu?” Boy kelihatan marah sembari menyombongkan dirinya.

Aku berusaha tenang menghadapi Boy, sementara aku lihat teman-temannya yang berdiri tegap di sampingnya terus menatapku.

“Terus apa urusannya sama orang tuamu?”

“Artinya, kamu mesti nyadar diri kalau kamu nggak ada apa-apanya dibanding aku. Aku ini pacar Tasya. Aku bakal nikahin dia. Orang tua kami udah setuju. Jadi, nggak ada alasan lagi buat kamu untuk deket-deket dengan Tasya. Dia itu calon istriku.”

Boy menggenggam kerah bajuku dengan begitu kasar. Tangannya memang begitu kuat. Maklum saja, dia adalah seorang tentara muda. Bau minuman keras tercium dari mulutnya, aku tahu dia masih setengah mabuk. Kamu tentu tak tahu kalau dia pemabuk

“Terserah. Aku nggak peduli kamu udah mau nikah atau nggak sama Tasya. Yang pasti, aku temenan sama dia sudah begitu lama. Tenang saja, aku nggak akan merendahkan diriku dengan merebutnya darimu. Kecuali, jika Tasya sendiri yang suka sama aku. Itu bakal lain lagi ceritanya.

Mendengar jawabanku, Boy bukan semakin tenang. Ia justru semakin marah. Sebuah pukulan keras mendarat di pelipis kiriku. Aku terjungkal, pelipisku berdarah.

Belum sempat aku terbangun, teman-teman Boy sudah beramai-ramai menyerangku. Aku dipukuli oleh kawanan tentara muda itu. Aku tak mampu berbuat banyak selain melindungi kepalaku. Belasan atau puluhan rasa sakit menyelimuti kulitku silih berganti. Aku tersungkur mencium aspal.

Samar-samar, aku lihat amarah Boy masih berlanjut, namun ia telah berhenti memukuliku.

“Kamu denger ya, nggak mungkin Tasya bakalan suka sama Kamu. Dia itu suka sama aku. Dia bakalan menjadi istriku. Kamu mending jauh-jauh saja dari dia. Aku nggak peduli kamu teman dia atau siapapun juga. Dia itu milikku!”

Itu kata-kata terakhir yang aku ingat dari Boy malam itu. Selebihnya aku tak mengingat apapun, kecuali rasa sakit dan rasa dingin yang menyelimutiku. Entah berapa lama aku terbaring di aspal itu. Hanya rasa sakit yang semakin dalam yang aku rasakan, sementara dinginnya angin malam semakin menusuk tulangku. Anyirnya darah bercampur tetesan air hujan terasa mengalir di dalam tenggorokanku. Aku tak tahu apa yang kemudian terjadi.

***

Kini, aku masih berdiri disini. Orang-orang nampak berlalu-lalang di depanku, tak ada yang menyapaku. Apakah mereka tak mengenaliku? Aku mencoba mengajak mereka tersenyum, mereka tetap acuh saja. Aku ajak mereka bersalaman, mereka tak mau mengulurkan tangan. Kenapa aku begitu tersisih dari hatimu dan kini semakin tersisih di hari bahagiamu? Inikah nasibku yang begitu baik kepadamu sejak dulu? Inikah takdirku yang hanya menaruh cinta kepadamu sejak kita sama-sama kecil dulu? Tidak. Tidak mungkin mereka semua tak mengenaliku.

Di ujung saja ada dua tetangga kita yang lain, om Andi dan tante Nita. Di depan ada om Arda dan tante Hana. Di tengah-tengah sana ada teman-teman kita semua, sungguh sayang tak ada tempat duduk kosong untuk aku duduki. Kenapa begitu malang nasibku, kenapa para pelayan itu tak mencarikanku kursi kemudian mempersilakan aku duduk? Aku kan temanmu, Tasya? Kenapa begitu tega kamu tidak mempedulikanku?

Tak tahukah kamu bahwa malam itu Boy telah menghajarku habis-habisan? Sadarkah kamu bahwa malam itu dia mabuk dan memukuliku dengan begitu liarnya? Dia cemburu kepadaku setelah aku mengantarmu menuju tempatmu shooting. Dia pikir aku cukup bernyali untuk mengutarakan cinta kepadamu. Dia takut kamu akan jatuh hati kepadaku. Ah, begitu buruk suamimu itu. kamu salah menentukan pilihan. Kamu tak akan bahagia bersama pria seperti dirinya. Kalaupun bahagia, aku yakin itu tak akan bertahan lama. Kenapa kamu justru memilih dia daripada aku?

Tidak. Aku tidak ingin kamu menderita bersamanya. Tapi, apa yang mesti aku lakukan? Aku sudah terlambat. Tak mungkin aku mempermalukan diriku juga dirimu dalam acara yang begitu ramai ini. Tak mungkin aku membawa larimu di hari bahagiamu ini. Nanti saja, akan aku buka semua betapa jahatnya suamimu di lain waktu.

***

Hari sudah semakin siang, aku lihat satu demi satu orang-orang mendekatimu, menaiki panggung dengan pelan kemudian menyalamimu, suamimu, dan orang tua kalian. Juru kamera masih sibuk memotret momen-momen penting itu. Wartawan nampak mewawancarai beberapa tamu kehormatanmu.

Senyum masih menyelimuti wajahmu. Mereka yang hadir disini juga nampak bahagia, kecuali aku dan orang tuaku. Oh, tidak. Aku tidak melihat orang tuaku disini. Sedari tadi aku tak melihat mereka. Dimanakah gerangan mereka? Kenapa mereka tidak hadir dalam acara pernikahan putri tetangga dekat mereka sendiri? Kenapa hanya aku yang justru hadir disini? Aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ataukah ini hanya ilusi? Atau mimpi?

Ruangan telah semakin sepi, orang-orang telah berpamitan, pertanda acaramu akan segera selesai. Tenang saja, tak akan aku bongkar perangai buruk suamimu hari ini.

Aku ingin menjadi yang terakhir untuk menyalamimu, memberikan selamat kepadamu, juga kepada si brengsek itu. Aku harus bijak, tak boleh aku menunjukkan kesedihanku di hadapanmu. Apalagi di depan Boy yang telah mengalahkanku dengan begitu telaknya.

Aku pun mendekatimu perlahan. Aku benar-benar akan menjadi tamu terakhir yang mengucapkan selamat untukmu dan lelakimu itu.

Namun, apa yang terjadi dengan tubuhku? Kenapa aku tiba-tiba terjatuh? Kenapa polisi-polisi itu menabrak untuk kemudian mendahului langkahku?

“Hei, kenapa kalian berlarian? Kenapa kalian menabrakku hingga aku tersungkur begini?”

Tidak. Ternyata tidak, mereka tidak menabrakku. Mereka menembus tubuhku. Aku hanya terdorong kaget.

“Jadi, kalian memang benar-benar tidak melihatku? Mimpikah aku? Kenapa kalian begitu mudah menembus ragaku?”

***

“Saudara Boy, Saudara kami tahan. Saudara diduga telah melakukan penganiayaan berat kepada seorang mahasiswa. Akan kita bicarakan lebih lanjut di kantor. Saudara terpaksa kami borgol.” Begitu polisi itu berkata di depan Boy.

Boy menyengir. “Apa-apaan ini, siapa yang saya aniaya?”

“Firman. Pemuda yang ditemukan sekarat tiga malam lalu. Tak jauh dari tempat ini.”

“Mana buktinya Kalian mau menangkap saya? Ini pasti ada kesalahan.”

“Untuk bukti, bisa kita bicarakan di kantor. Ayo, lekas jalan.”

***

Kamu terkaget. Pestamu benar-benar telah usai. Senyum dan tawa bahagiamu telah berganti balutan duka dengan seketika. Polisi memborgol tangan suamimu, menggelandangnya keluar ruang pelaminan dengan langkah cepat. Tak ada ucapan apapun darinya kepadamu, ia hanya menatapmu bisu. Wartawan yang tadi seakan telah membubarkan diri, kini kembali meramaikan ruangan ini.

Aku masih berdiri tak jauh darimu, bingung mendapati apa yang sedang terjadi. Seperti kata polisi berkumis itu, Firman adalah namaku. Sudah matikah aku? Benarkah tak ada satupun yang melihatku di ruangan ini? Apakah aku hanya roh? Lalu, dimanakah ragaku?

Kamu menangis terisak, tentu tak rela suamimu digelandang polisi, tak mengira semua ini akan terjadi secara begitu cepat di hari pelaminanmu.

Kamu berlari menuju ke rumahmu yang tak jauh dari gedung ini, kedua orang tuamu mengejarmu. Aku hanya bisa terdiam melihatmu berduka. Sepuluh menit lalu aku masih mengingat tawamu, kini semuanya berganti tangis dengan begitu cepatnya.

Ya, Tuhan. Benarkah aku sudah mati? Lalu, dimanakah jasadku kini? Bolehkah aku kembali ke jasadku?

*****

One thought on “Pelaminanmu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s