Fluktuasi Sebuah Nasionalisme

aniks-apaadanya.blogspot.com
aniks-apaadanya.blogspot.com

Sebagai seorang warga negara, tentu saya memiliki rasa cinta pada tanah air saya sendiri, tanah air Indonesia. Bagaimanapun, di bumi bernama Indonesia ini lah saya lahir dan tumbuh hingga hampir seperempat abad usia saya. Pun halnya dengan orang tua dan leluhur saya, mereka juga lahir dan hidup di bumi Indonesia.

Meski begitu, terkadang rasa cinta tanah air saya itu mengalami fluktuasi. Terkadang begitu tinggi, terkadang sedikit merendah. Tergantung mood dan situasi bangsa.

Nasionalisme saya sedikit merendah di kala mendengar berbagai macam problematika bangsa yang tak kunjung usai. Korupsi yang merajalela dan serangkaian pemberitaan negatif lainnya dari berbagai media memang terlalu sering mengisi hari-hari saya. Di rumah atau di kantor. Seolah semua yang muncul dari kehidupan bangsa kita adalah sesuatu yang negatif. Sementara itu, berita-berita menggembirakan-seperti misalnya prestasi anak bangsa yang berhasil menjuarai berbagai perlombaan internasional, paling-paling hanya nyempil di pojok surat kabar atau sekadar menjadi berita selingan di televisi.

Maka, benarkah hidup bangsa kita itu lebih banyak buruknya daripada baiknya?

Iya, jika kita menilainya dari sisi buruknya. Tidak, jika kita beranggapan bahwa pemberitaan itu pada dasarnya hanya sebagian kecil dari apa yang terjadi pada bangsa kita.

Jika tema mengenai korupsi yang kita angkat, memang benar adanya bahwa prestasi pemberantasan korupsi dan penegakan hukum di negara kita masih tertinggal jauh dari negara-negara maju. Tapi, sebagai warga yang dewasa, hendaknya kita tidak hanya melihat kondisi bangsa kita dengan fenomena korupsi yang tak kunjung usai dan seolah telah mengakar dalam tradisi hidup kita. Jangan sampai kita pesimistis dengan nasib bangsa kita ke depan, meski kita kini belum bisa benar-benar lepas dari jeratan korupsi itu.

Berbagai macam persoalan bangsa memang masih mendera kita. Korupsi hanya salah satunya. Namun, tidak selayaknya kita membenci bangsa kita sendiri karena permasalahan-permasalahan yang berlarut-larut itu. Meski, jujur saja, terkadang rasa nasionalisme saya pun menjadi sedikit berkurang karenanya.

Di luar itu, terkadang rasa nasionalisme saya juga bisa begitu meninggi. Tatkala rasa nasionalisme saya tengah menyeruak begitu hebatnya, bukan tidak mungkin saya akan meneteskan air mata.

Hingga kini, setidaknya ada dua momen yang membuat saya tak kuasa menahan air mata tatkala nasionalisme saya tengah memuncak. Pertama, tahun 2007. Waktu itu diselenggarakan event sepakbola empat tahunan yang kebetulan diadakan di Asia Tenggara. Indonesia menjadi salah satu tuan rumahnya. Kebetulan pada waktu itu saya berkesempatan untuk datang ke Senayan mendukung tim merah putih berlaga di pertandingan grup D. Lawan timnas Garuda adalah Bahrain, Arab Saudi, dan Korea Selatan.

Sebagaimana umumnya event olahraga antarnegara, sebelum pertandingan dimulai, dikumandangkan terlebih dahulu national antem dari kedua negara. Dan, tatkala lagu nasional bangsa kita “Indonesia Raya” menggema, saya benar-benar tidak bisa menahan emosi. Saya pun menyanyikan lagu yang biasa saya nyanyikan tiap upacara bendera di sekolah itu dengan diiringi tetesan air mata. Padahal, selama sekian tahun lamanya menyanyikan lagu itu, dari SD hingga SMA, tak pernah rasanya saya sebegitu “khusyuk” membawakan lagu. Yang saya ingat, saya justru lebih banyak cengegesan tatkala menyanyikannya.

Momen piala Asia 2007 itu adalah momen terbaik dimana nasionalisme saya mencapai titik tertinggi. Saya masih mengenang momen itu hingga kini. Terlebih lagi, ada kenangan manis yang tertinggal kala itu. Indonesia berhasil memenangkan pertandingan pembuka. Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas menjadi pahlawan pencetak gol, Firman Utina menjadi pemain terbaik pertandingan. Nasionalisme dadakan itu pun terus berlanjut hingga dua pertandingan berikutnya melawan Arab Saudi dan Korea Selatan. Meski kemudian, pada dua pertandingan itu Timnas harus menuai kekalahan sehingga gagal lolos ke babak selanjutnya.

Sejujurnya, ada rasa rindu dalam diri saya dengan permainan Timnas yang begitu spartan sebagaimana yang mereka tampilkan di Piala Asia 2007 itu. Terlebih lagi, prestasi Timnas kita saat ini tengah terpuruk sebagai akibat dualisme kepemimpinan yang terus berlanjut. Ah, sedih sekali rasanya.

***

Momen kedua dimana nasionalisme saya mencapai kadar yang begitu tinggi, terjadi beberapa malam yang lalu. Entah kenapa malam itu saya tidak bisa tidur. Dan, sebagaimana biasanya, di kala mata begitu sulit untuk terpejam, laptop adalah pelarian saya.

Saya ingat bahwa siang sebelumnya seorang teman saya (yang adalah guru sekolah dasar) menelepon saya. Awalnya hanya sekadar membicarakan hal-hal yang ringan seputar kehidupan kami. Ujung-ujungnya, dia bercerita mengenai beberapa orang murid yang dia ajar.

“Aku bingung dengan anak zaman sekarang, masa diantara mereka hanya beberapa saja yang hafal lagu Indonesia Raya. Eh, di kala diminta menyanyikan lagunya Cherrybelle, mereka hafal di luar kepala.”

Teman saya itu nampaknya kesal dengan murid-muridnya. Ia memang baru satu bulan mengajar. Maklum saja, dia baru lulus kuliah dan langsung mengabdikan dirinya untuk mengajar di sebuah sekolah tak jauh dari rumah tinggalnya.

Saya menyarankan agar dia mengajarkan lagu-lagu nasional kepada murid-muridnya itu dengan menggunakan teknik audiovisual. Dengan begitu, harapan saya, anak-anak SD yang diajarnya pun akan menjadi tertarik.

Malamnya, cerita teman saya itu ternyata kembali muncul dalam ingatan saya. Iseng punya iseng, saya pun membuka browser kemudian melakukan pencarian terhadap lagu-lagu nasional. Disitulah tiba-tiba kadar nasionalisme saya tiba-tiba naik kembali.

Adalah lagu nasional berjudul “Tanah Airku” yang menjadikan nasionalisme saya meninggi.  Lagu ciptaan Ibu Sud ini adalah lagu nasional yang paling bisa menyentuh hati saya. Syair yang halus mengena diiringi dengan nada dan instrumen yang menyentuh hati begitu cocok jika lagu ini kita dengarkan di kala sunyi. Ada nuansa haru, bangga, dan (juga) sedih datang dari lagu ini. Bulu kuduk saya bahkan merinding kala mendengar lagu tersebut.

Tanah airku tidak kulupakan

Kan terkenang selama hidupku

Biarpun saya pergi jauh

Tidak kan hilang dari kalbu

Tanah ku yang kucintai

Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani

Yang masyhur permai dikata orang

Tetapi kampung dan rumahku

Di sanalah kurasa senang

Tanahku tak kulupakan

Engkau kubanggakan

Paginya, saya segera mengirim SMS kepada teman saya, menyarankan agar lagu ini turut diajarkan kepada murid-muridnya. Harapan saya, murid-muridnya itu akan tersentuh rasa cinta tanah airnya dengan lagu tersebut.

Apapun itu, setiap manusia Indonesia dituntut untuk memiliki rasa nasionalisme. Nasionalisme adalah prasyarat bagi kemajuan negara kita. Dan, setiap orang tentu memiliki momen-momen nasionalitas tersendiri. Ada yang mendaki gunung menikmati indahnya alam Indonesia untuk menanamkan kembali rasa nasionalismenya, ada yang pergi ke tengah lautan sekadar memancing, ada yang berkunjung ke pulau-pulau di perbatasan, ada pula yang menjadi duta negara dalam berbagai event nasional maupun internasional.

Mari, tanamkan kembali rasa nasionalisme dalam diri kita, bagaimanapun caranya.😀

*****

4 thoughts on “Fluktuasi Sebuah Nasionalisme

  1. Planting of understanding (Penanaman pemahaman) tentang Nasionalisme yg sangat kurang diberikan pada siswa2 pendidikan dari SD s/d Pendidikan lanjutan, menjadikan
    rasa Nasionalisme itu terkubur dan kurang dipedulikan lagi, oleh generasi2 muda saat ini, Lagu Indonesia Raya pun dikumandangkan hanya pada upacara2 kenegaraan,
    ataw event2 nasional yg sangat kurang gregetnya.

    Rasa Nasionalisme telah tergeser oleh era Globalisasi dan era komputerisasi,
    yang lebih diminati oleh anak2 Bangsa ini, karna berbagai aspek kehidupan masyarakat yg telah berubah, dalam pemahaman dan pola pandang kehidupan.

    Bagi sebagian orang tua dari beberapa teman saya…memandang rasa Nasionalisme itu tidak bisa memberikan nafkah hidup yg lebih layak, dan perjuangan yg mereka lakukan untuk Negara dan Bangsa ini, hanya dipandang sebelah mata.
    Bahkan mereka merasa terhianati dgn perjuangan yg telah mereka lakukan.

    Sedangkan pada generasi penerus bangsa ini, pemahaman Nasionalisme yg minim mereka terima, tidak memberikan rasa memiliki yg besar pada Bangsa mereka sendiri,
    Dampaknya yg terjadi, sebagian mereka generasi penerus Bangsa ini..
    lebih cenderung mengenal Negara lain, dari Pada Bangsanya sendiri.

    Antara tiga generasi yg berbeda pada Negara ini…mempunyai permasalahan tersendiri.

    1. Generasi Pejuang yg tulus memperjuangan kemerdekaan Indonesia.dgn segenap jiwa dan raganya.

    2. Generasi Pejuang yg tulus Memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan merasa dihianati.

    3. Generasi yg menikmati Perjuangan Negara ini, yang tidak tahu dan tidak peduli,
    dengan masalah2 Nasionalisme yg terjadi disekelilingnya.

    Kemerdekaan yg dikumandangkan tidak memberikan Perbaikan hidup pada sebagian Rakyat diNegara kita ini,

    Karna itu sebagian rakyat bangsa ini, tidak berfikir lagi bagaimana dgn Nasionalisme itu,
    Mereka hanya berfikir, bagaimana kerja hari ini, bisa makan hari ini, dan dapat hidup lebih layak lagi,

    • Komentar Tante sangat pas dengan teorinya Bennedict Andersson yg pernah saya baca, dimana sebuah bangsa bisa saja hanya menjadi label, tinggal nama belaka, kehilangan ruh, dan hanya menjadi sebuah gagasan apabila gagal menyejahterakan rakyatnya. Akhirnya cita2 sebuah bangsa yg luhur pun bisa menjadi imagined communities (masyarakat terbayangkan) yg.

      Saya setuju Tante, nasionalisme tidak akan berarti banyak bagi bangsa qta jika tidak mampu memberikan kesejahteraan kpd masyarakat. Sebagaimana kata Tante itu, org2 yg tulus berjuang untuk bangsa justru banyak yg tersingkirkan. Sementara kaum oportunis yg beberapa waktu ini sering disebut sbg “Sengkuni” melenggang leluasa menguasai negeri.

      Terkadang, itu yg menjadi dilema saya Tante. Rakyat seolah menjadi pion yg begitu mudah dimainkan oleh para politisi.

      Terima kasih atas komentarnya, Tante.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s