Warnet dan Anak-Anak Kita

Ilustrasi, diunduh dari http://www.windhampta.org/features.aspx?id=438
Ilustrasi, diunduh dari http://www.windhampta.org/features.aspx?id=438

Minggu lalu, modem yang biasa saya gunakan untuk mengakses internet tiba-tiba saja tidak bisa digunakan. Di saat yang bersamaan, seorang rekan saya meminta saya untuk mengirimkan sebuah dokumen via e-mail. Tak perlu berpikir lama, saya segera menuju ke warnet tak jauh dari rumah kontrakan saya. Rasa-rasanya, sudah begitu lama saya tidak menggunakan jasa warnet sebagai media saya untuk mengakses dunia maya.

Saat kuliah dulu, saya cukup sering menggunakan warnet. Maklum saja, kala itu uang saku saya sebagai seorang mahasiswa belum cukup untuk membeli modem, apalagi mesti mengisinya dengan pulsa bulanan. Akhirnya, warnet menjadi media saya untuk mencari data ataupun mengirimkan file.

Suasana di warnet dekat rumah kontrakan saya itu tidak lah jauh berbeda dengan warnet-warnet pada umumnya. Semua ruangan disekat menggunakan papan kayu. Dalam satu bilik terdapat satu komputer yang bisa digunakan oleh dua orang.

Waktu itu, kebetulan hari minggu. Hari dimana anak-anak sekolah libur dan bebas untuk bermain-main. Dan, ternyata warnet adalah salah satu tempat favorit bagi anak-anak.

Sudah tentu, anak-anak menggunakan warnet untuk bermain-main saja. Game online menjadi favorit sebagain besar diantara mereka. Sekilas, dapat saya lihat beberapa yang lain juga nampak asyik berseluncur di media sosial, sembari tertawa cekikikan. Barangkali mereka itu tengah ber-chatting ria dengan teman-teman dunia maya mereka.

Yang membuat saya kurang merasa nyaman, di warnet itu suasana begitu bising. Suara-suara dari game online yang dimainkan oleh beberapa orang anak semakin lama semakin keras saja. Wajar saja, namanya juga game online, tentu tidak akan seru jika tidak diiringi dengan suara-suara yang keras. Bisa-bisa saja sensasi menarik dari game online itu berkurang secara signifikan jika tidak diiringi dengan suara keras sebagai pertanda konflik yang semakin memanas dalam game itu.

Meski memang cukup terganggu dengan suasana bising itu, saya cukup bisa memaklumi betapa anak-anak itu sangat menikmati permainan di depan mereka. Namun, ada satu hal yang membuat saya merasa miris dengan apa yang saya dapati. Apa yang membuat batin saya terhenyak itu adalah suara-suara anak-anak kecil itu ketika mengekspresikan kekecewaan mereka di saat jagoan mereka di dalam game online itu mengalami kekalahan.

Umpatan-umpatan kasar ternyata bisa keluar dari anak-anak seumuran mereka. Sayangnya, saya tidak rela jika blog saya ini mesti terkotori dengan kata-kata tidak sopan mereka itu. Intinya, umpatan-umpatan mereka itu tidak jauh dari dunia kebun binatang, dunia seksual, dan hal-hal negatif lain yang sejenis dengan itu. Bukan hanya satu orang yang saya dapati berucap kotor seperti itu, melainkan ada beberapa. Saya harap Anda bisa membayangkan kira-kira kata-kata seperti apa yang keluar dari anak-anak kecil itu.

Saya hanya bisa geleng kepala. Bagaimana mungkin anak-anak seumuran mereka sudah terbiasa mengucapkan kata-kata kotor itu. Ataukah ternyata hal itu sudah menjadi tradisi anak-anak yang terbiasa menghabiskan waktu luangnya di warnet? Mudah-mudahan saja tidak.

Masalahnya, itu hanya sedikit kasus yang terjadi di dunia perwarnetan. Saya masih memiliki cerita yang tak jauh lebih parah dari cerita di atas. Subjeknya tetap sama, yakni tingkah polah anak-anak kecil tatkala bermain di warnet.

Izinkan saya untuk kembali ke masa tiga tahun silam, dimana saya seringkali mampir ke warnet tak jauh dari kampus saya dahulu. Di warnet dekat kampus saya itu, anak-anak juga terbiasa bermain-main. Bedanya, suasana warnet di dekat kampus itu jauh lebih terbuka daripada di dekat tempat saya tinggal saat ini. Di warnet itu, dalam satu ruangan terdapat tiga komputer. Satu komputer berada di tengah, dua komputer yang lain mengapit di samping kanan dan kiri dengan posisi saling berhadap-hadapan. Pengguna warnet hanya duduk lesehan di lantai menghadap monitor. Tak ada kursi, tak ada sekat antar PC.

Kala itu, saya tengah asyik ber-browsing ria di dunia maya. Tiba-tiba datang tiga orang anak kecil ke dalam ruangan dan menggunakan komputer yang terpasang tepat di samping saya. Seorang anak yang paling besar, kira-kira kelas 1 SMP. Dua orang anak yang lain masih bercelana pendek seragam berwarna merah, pertanda bahwa mereka masih anak SD (kira-kira baru kelas 4-5 SD). Saat itu, saya berada di sisi kiri, anak-anak itu menggunakan komputer di bagian tengah, sementara komputer di sebelah kanan yang tepat berhadapan dengan saya, tidak dipakai siapapun.

Beberapa saat berlalu, tiga anak itu nampak begitu serius menatap layar monitor. Saya yang adalah tipe pengamat, cukup terheran-heran mendapati keseriusan mereka. “Masak sih, anak-anak seumuran mereka begitu seriusnya di depan internet?” Begitu yang ada dalam pikiran saya kala itu.

Kira-kira lima belas menit berlalu, seorang dari mereka beranjak meninggalkan ruangan. Anak itu adalah nomor dua dari yang paling besar (atau bisa juga disebut dengan nomor dua yang terkecil). Di saat itu, salah seorang teman mereka lantas bertanya, “Eh, mau kemana, Loe?”

Segera dijawab oleh anak itu. “Pengin kencing gue.”

“Hahaha.. Payah, gitu aja sampai bikin kecing.” Anak yang paling dewasa tertawa dengan nada mengejek.

Kontan saja, segera muncul pikiran negatif dari dalam otak saya. Jangan-jangan mereka tengah mengakses situs-situs porno. Saya semakin penasaran.

Saya pun memanjangkan leher saya, mengintip situs apa yang telah mereka kunjungi.

Dan, ternyata. Apa yang saya lihat ternyata tidak meleset dari apa yang saya pikirkan. Memang benar adanya bahwa mereka tengah membuka sebuah situs porno. Adegan kala itu, mohon maaf,  adalah adegan dewasa yang semestinya belum boleh diketahui oleh anak-anak seumuran mereka. Selama kurang lebih lima belas menit mereka ternyata telah menonton video porno itu.

Malu karena kedapatan membuka situs porno, sang anak buru-buru memegang mouse, mengarahkan cursor pada tanda silang, dan menutup browser. Wajah serius mereka pun sgera berganti dengan wajah merah menahan malu.

Saya menggeleng di depan mereka.  “Hai, kalian tidak boleh buka yang gitu-gituan. Dosa lho”. Kira-kira kata-kata itu yang keluar dari mulut saya kala itu.

Lucunya, dua orang anak itu kemudian saling tuduh. “Dia ni kak yang buka-buka gituan”. “Bukan, kak. Dia kok yang buka…”

“Iya, kalian berdua yang membukanya. Tapi, hal yang seperti itu tidak baik untuk kalian tonton. Saya yang sudah gede saja tidak berani melihat yang begituan”. Begitu kira-kira nasihat saya pada mereka. Entah sukses menancap ke hati mereka atau tidak, saya tidak tahu. Yang pasti, ada semacam tanggung jawab moral dari saya untuk menasihati mereka.

Sang anak pun kemudian membuka situs yang lain, kali ini mereka nampak membuka facebook. Ternyata anak seumuran mereka juga sudah memiliki account di jejaring sosial.

Saya kembali beranjak menuju komputer saya. Tak mungkin saya terus-terusan mengawasi mereka.

Di kala saya hendak pulang dan mesti membayar kepada penjaga warnet di bagian depan, saya mencoba menceritakan apa yang saya lihat itu kepada penjaga warnet itu. Sang penjaga warnet hanya tersenyum. Entah apa makna senyuman itu, apakah akan segera memblokir situs-situs porno di warnet itu, atau jangan-jangan sebaliknya, ternyata apa yang baru saya dapati itu sudah terbiasa terjadi.

***

Dua peristiwa negatif yang saya temui di atas, kiranya menjadi perhatian bagi kita semua. Orang tua sebaiknya mulai memberikan pengawasan kepada anak-anak mereka yang biasa bermain-main di warnet. Begitu juga seorang kakak yang memiliki adik, atau siapapun juga yang memiliki tanggung jawab moral untuk mendidik seorang anak.

Dalam kasus pertama, segi emosi anak nampaknya sangat terpengaruh dengan kebiasaan mereka bermain game online. Game-game itu cukup mampu untuk mendorong seorang anak menjadi sosok yang begitu ekspresif dalam menyikapi sebuah konflik. Masalahnya, ekspresi mereka itu dilakukan dengan menggunakan kata-kata umpatan yang seyogyanya tidak diucapkan oleh siapapun juga, termasuk orang tua.

Sejalan dengan itu, ada cukup banyak kajian yang mengungkapkan fakta bagaimana game-game online berpengaruh pada perkembangan anak. Kecanduan game, individualisme, dan emosi tak terkontrol adalah tiga hal utama yang biasa ditemui pada anak-anak yang terbiasa bermain game online.

Dalam kasus kedua, perkembangan seksualitas anak akan banyak terpengaruhi. Seorang anak bisa saja matang sebelum waktunya sebagai akibat dari video-video porno yang mereka tonton. Nafsu seks mereka akan muncul tanpa adanya pengetahuan dan kontrol yang memadai. Naluri seksualnya bisa berkembang jauh sementara akal dan moral mereka masih belum cukup mengimbangi. Ini tentu yang berbahaya karena akan berpengaruh besar pada perkembangan psikis mereka di kemudian hari.

Kini, tidak ada salahnya bagi orang tua untuk mengecek dimana sang anak biasa bermain, di warnet mana mereka biasa menghabiskan waktu libur mereka. Pastikan warnet tersebut terbuka, pastikan bahwa penjaga atau pemilik warnet merupakan orang yang bisa dipercaya. Cek website yang biasa dikunjungi dan dokumen yang tersimpan di dalam komputer warnet. Beberapa komputer di warnet, ada yang sengaja dijadikan tempat menyimpan film-film dewasa. Jika warnet memang tidak bagus sebagai tempat bermain anak, lebih baik pastikan bahwa anak-anak tidak bermain di warnet tersebut.

Dan, jujur, secara pribadi saya tidak merekomendasikan game online sebagai permainan anak. Saya lebih menyukai anak-anak yang melakukan permainan secara nyata, dimana ada jalinan interaksi yang jelas diantara mereka.

Bermain layang-layang jauh lebih mengasyikkan daripada hanya diam di ruangan. Bermain petak umpet jauh lebih menarik daripada hanya duduk di depan komputer. Bermain sepakbola jauh lebih sehat daripada hanya memegang stick atau mouse. Bukankah begitu?

Terakhir, mari kita jaga anak-anak Indonesia, sebagai generasi penerus kita, calon pemimpin bangsa. Mau seperti apa bangsa kita beberapa tahun mendatang, adalah tergantung pada cara kita mendidik anak-anak kita itu sekarang.

Demikian. Semoga cerita saya bermanfaat.

*****

2 thoughts on “Warnet dan Anak-Anak Kita

  1. Sudah sedemikian jauh kah dampak internet pada generasi2 penerus bangsa ini ?
    Sangat miris saya membacanya…

    Pemikiran saya..
    Lingkungan bisa jadi memberikan dampak yg kurang baik pd tumbuh kembang seorang anak,

    AKAN TETAPI jika Peran para orang tua dapat lebih di-optimalkan,
    dgn mencontohkan bagaimana ber – disiplin, dan bagaimana memperkenalkan –
    ke- imanan pd anak2 sejak dini…juga mendampingi anak2 mereka dlm tiap kegiatannya. (ataw ada yg mendampingi anak2 mereka dlm berkegiatan)
    Hal2 seperti tulisan diatas ini mungkin saja bisa tidak terjadi…

    Seorang anak adalah cermin dari bentuk keluarga

    dan Rumah adalah tempat dimana seorang anak akan memulai langkah awalnya,

    Positif / Negatif seorang anak terlukis dari apa yg digoreskan didalam rumahnya.

    • Ada gap budaya, Nduk. Rata2 org tua mereka itu tdk familiar dgn yg namanya internet, mereka bahkan tdk tahu fungsinya, tdk tahu apa yg biasa dimainkan anak2 mereka, juga situs apa yg mereka kunjungi. Ini yg berbahaya. Sementara qta tahu bahwa internet, di zaman skrg ini sudah begitu mengglobal dan menjejali kehidupan anak2 itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s