Mencintai Jakarta, Belajar dari Bencana

Foto diunduh dari: Inspiring Muslim Youth Conference l Fsldk-D VII Jadebek
Foto diunduh dari:
Inspiring Muslim Youth Conference l Fsldk-D VII Jadebek

Pada bulan Januari tahun 2013 ini, ada dua tanggal yang akan senantiasa diingat oleh masyarakat Jakarta. Pertama adalah tanggal 1 (tahun baru, atau bisa juga dianggap tanggal 31 Desember 2012) dan kedua, tanggal 17. Dua peristiwa penting pada dua tanggal itu telah berhasil menyemarakkan berita di TV, internet, maupun media cetak. Hanya saja, kedua peristiwa pada tanggal tersebut adalah dua hal yang sangat berkebalikan. 1 Januari merupakan hari penuh suka cita, dimana ribuan warga Jakarta (dan juga miliaran di seluruh dunia) menyambut tahun baru. Pada malam tahun baru, berbagai macam pesta dan euforia kegembiraan menyambut tahun 2013 telah menghiasi Jakarta. Konon kabarnya, pesta satu tahun sekali itu telah menghabiskan dana dalam jumlah miliaran rupiah.

Berkebalikan dengan itu, tanggal 17 Januari merupakan hari dimana warga Jakarta dirundung duka. Bagaimana tidak, hujan yang mengguyur kawasan Jakarta dan sekitarnya tak mampu terserap oleh bumi Jakarta dalam waktu singkat. Sebagai akibatnya, banjir pun terjadi dimana-dimana. Bencana itu datang untuk kesekian kalinya, menimbulkan kerugian triliunan rupiah dalam kurun waktu satu hari saja. Yang membuat kita lebih miris, banjir yang datang itu ternyata juga merenggut nyawa warga Jakarta. Artinya, kerugian yang ditimbulkan oleh bencana banjir itu tak hanya dari segi material semata, tetapi juga menimbulkan duka yang mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan oleh para korban meninggal itu. Dalam selang waktu enam belas hari pasca pesta besar-besaran, suasana di Jakarta telah berubah. Canda tawa bahagia di malam tahun baru telah usai. Kini, suasana bahagia itu telah berganti menjadi duka.

Namun, di balik segala duka akan bencana itu, ada segumpal hikmah yang patut kita petik. Filantropi warga Jakarta begitu kental terasa. Tak ada egoisme sebagaimana yang sering kita lihat di kala kita mesti terjebak dalam kemacetan di jalan-jalan ibukota. Di jalanan, warga justru begitu bersemangat mengatur lalu lintas yang telah dipenuhi oleh air. Pengendara lalu lintas diberi petunjuk jalan mana yang bisa dilalui dan mana yang tidak. Yang lebih besar dari filantropi itu, tentu saja adalah uluran tangan berupa bantuan kepada para korban yang cukup santer mengalir dari warga masyarakat. Warga yang cukup beruntung tidak menjadi korban banjir segera membantu saudara-saudara mereka yang menjadi korban.

Di luar semua duka cita dan derasnya filantropi yang datang, bencana banjir itu bisa jadi merupakan sindiran halus Tuhan atas apa yang sudah kita lakukan. Sejumlah materi telah dihamburkan di malam tahun baru lalu. Tuhan tentu tidak menyukai segala sesuatu yang berlebih-lebihan, apalagi sebuah tindakan pemborosan. Bagi yang percaya akan eksistensi Tuhan dengan segala kuasa dan kehendak-Nya, barangkali ini merupakan momen yang tepat untuk bercermin diri. Namun begitu, disini saya tidak ingin berceramah agama. Saya hanya mencurahkan apa yang ada di dalam hati saya. Dan, oleh karena saya termasuk yang percaya dengan eksistensi Tuhan itu, saya meyakini bahwa semua bencana yang terjadi ini tidak bisa lepas dari peranan Sang Maha Kuasa itu.

Menurut catatan sejarah, bencana banjir di Jakarta pada dasarnya sudah terjadi sejak ratusan tahun yang lalu. Pada zaman penjajahan Belanda, Jakarta yang dulu disebut sebagai Batavia juga telah biasa terendam banjir, hanya saja, tentu tak separah saat ini.

Saya pernah mendengar keluhan seorang warga Jakarta terhadap warga Bogor. Menurutnya, bencana banjir yang terjadi di Jakarta adalah murni gara-gara kiriman air berlebih dari Bogor. Pendapat itu memang bisa diterima.  Memang benar adanya bahwa air yang mengalir di sungai-sungai yang melintas di Jakarta adalah berasal dari kawasan Bogor. Kasarnya, jika warga Bogor membuang apapun di sungai, warga Jakarta lah yang akan menerimanya. Tapi, logikanya, sebab musabab banjir tentu tidak sesederhana itu. Banjir terjadi ketika pasokan air yang datang tidak mampu tertampung dan terserap  dengan baik oleh suatu kawasan tertentu. Sungai tak lagi cukup untuk mengalirkan air, begitu juga selokan-selokan (got), sementara tanah juga telah terlalu kenyang untuk menyerap air itu. Akibatnya, air tak akan tertampung lagi dan akan mengalir keluar dari habitatnya, kemudian menggenangi kawasan lain di sekitarnya. Di saat itu lah banjir terjadi.

Maka dari itu, untuk mencegah banjir itu terjadi, seyogyanya logika-logika sederhana di atas lah yang patut menjadi perhatian. Sekarang mari kita lihat apa yang terjadi pada kawasan Puncak Bogor, serta bagaimana keadaan sungai, selokan, dan tanah di Jakarta. Apakah semua faktor tersebut dalam kondisi yang baik, atau justru sebaliknya, kita telah merusaknya sedikit demi sedikit?

Pertama, izinkan saya mengomentari keadaan Puncak, Bogor. Kira-kira sebulan yang lalu, kebetulan saya mendapat tugas untuk mengikuti rapat di kawasan yang begitu dingin dan sejuk itu. Meski tak banyak mengamati kondisi lingkungan alam (hutan) di sekitar kawasan itu, saya masih begitu mengingat dengan jelas bahwa kawasan itu, sedikit demi sedikit telah bertransformasi menjadi kawasan pemukiman. Ada begitu banyak hotel dan villa yang dibangun di kawasan itu. Pembangunan-pembangunan ini tentu saja akan mengurangi jumlah pepohonan dan berpotensi merusak ekosistem alami kawasan Puncak.

Kita semua tahu bahwa keberadaan hutan cukup mampu untuk mengurangi terjadinya ancaman banjir (juga tanah longsor). Hutan yang lebat akan menangkap air yang turun dari langit, akar-akar pepohonan akan menjadikan pori-pori tanah terbuka sehingga penyerapan air oleh tanah akan menjadi lebih optimal. Di kala hujan, hutan itu akan menghambat laju air dari dataran tinggi ke dataran rendah. Hutan akan menyerap air, menyimpan dan menyaringnya, kemudian menjadikan air itu mengalir dalam bentuk mata air. Ringkasnya, hutan itu bermanfaat untuk mencegah banjir sekaligus menyediakan sumber mata air yang akan sangat bermanfaat bagi manusia.

Masalahnya, yang terjadi di kawasan Puncak saat ini justru mengarah pada sebuah proses perusakan yang terjadi akibat pembangunan rumah tinggal, hotel, maupun villa-villa milik orang-orang kaya. Akibatnya, luas kawasan hutan telah semakin berkurang. Efek jangka panjangnya, tentu saja tatkala kawasan Puncak itu diguyur hujan lebat, air akan langsung mengalir dengan derasnya menuju tempat yang lebih rendah. Jakarta pun menjadi sasaran kemarahan air yang telah kehilangan rumah tinggalnya itu.

Kedua, izinkan saya mengutarakan unek-unek saya mengenai keadaan sungai dan selokan-selokan di Jakarta. Saya ingin mengajukan pertanyaan simpel, apakah selama ini air dapat melintas di sungai-sungai dan selokan-selokan itu dengan lancar? Ataukah laju air di Jakarta itu semakin lama semakin terhambat? Apa yang menghambat laju air itu? Bukankah sampah? Siapa yang membuang sampah di sungai-sungai itu? Bukankah kita? Dan, bukankah sampah-sampah itu telah turut memberikan kontribusi pada terjadinya banjir di Jakarta? Jawaban atas pertanyaan itu, bagi kita yang mau jujur, tentu saja adalah “ya”.

Ketiga, mari kita coba lihat bagaimana daya serap tanah-tanah di Jakarta terhadap air hujan. Rendah atau tinggi? Ada berapa ruang terbuka hijau di Jakarta? Luas atau beberapa puluh meter saja kawasan hijau itu? Di luar itu, dapat kita saksikan sendiri bagaimana gagah dan menjulangnya gedung-gedung dan bangunan di Jakarta serta betapa keras tanah-tanahnya. Pepohonan pun semakin sedikit ruangnya untuk tumbuh dan beranak-pinak. Alhasil, daya serap tanah terhadap air pun semakin lama semakin rendah saja. Akibatnya, ketika hujan datang, air akan tergenang di atas kerasnya tanah-tanah Jakarta, terhimpit oleh kokohnya gedung dan bangunan, dan membanjiri rumah-rumah kita.

Saya tidak akan berkomentar lebih banyak lagi mengenai faktor pertama (hutan di Bogor) dan faktor ketiga (daya serap tanah Jakarta). Saya sadar, dibutuhkan political will yang serius dari pemerintah terkait dua faktor tersebut, sedang saya hanya rakyat biasa. Rakyat yang hanya numpang hidup di Jakarta. Dan, lagipula political will itu tentu telah dipikirkan masak-masak oleh Pak Jokowi dan kawan-kawannya.

Saya justru tertarik dengan faktor nomor dua, yakni kondisi sungai dan selokan di Jakarta. Berbicara tentang sungai dan selokan itu, sudah pasti kesan yang muncul dalam pikiran kita adalah sampah, yakni sampah yang mengotori sungai dan selokan serta menghambat laju air di sungai dan selokan itu. Sebagai tempat dimana sampah banyak mampir dan tak kunjung pergi, sungai dan selokan itu tentu saja terkena dampaknya. Bau, kotor, dan menjadi tempat hidup berbagai kuman penyakit adalah gambaran khas sungai dan selokan di Jakarta.

Kita adalah pihak yang patut dipersalahkan atas kotor dan mampetnya sungai dan selokan itu. Kita yang membuang sampah di sungai-sungai dan selokan-selokan, kita yang mengotorinya. Kini, di saat banjir menyerang kita dari segala penjuru, kita baru merasakan efek negatifnya. Sampah-sampah telah turut memberikan kontribusi dalam mendatangkan bencana banjir itu. Sampah itu datang dari kita. Sampah itu turut andil menjadi penyebab banjir. Maka, secara tidak langsung dapat kita simpulkan bahwa kita pun telah turut mengundang datangnya banjir itu.

Oleh karena itu, seyogyanya banjir yang terjadi kini menjadi pelajaran bagi kita semua yang tinggal di Jakarta. Baik warga resmi ber-KTP Jakarta, maupun warga pendatang seperti saya. Hal sederhana yang dapat kita lakukan adalah dengan menjaga lingkungan kita, tanamkan kesadaran pada diri kita bahwa sampah yang kita buang secara sembarangan akan menimbulkan efek negatif berganda bagi kehidupan kita. Bibit penyakit, bau, dan kotor adalah efek jangka pendeknya. Banjir adalah efek lanjutannya.

Pernah saya mendapati seorang pendatang yang dengan santainya membuang bungkus rokok secara sembarangan ke selokan. Ketika saya tanya mengapa dia melakukan itu, dia hanya tersenyum dan menjawab enteng, “Ah, rumah kita kan nggak disini. Ini kan bukan kota kita.”

Saya geleng kepala mendapati pemikiran dangkal nan kejam seperti itu. Apakah karena rumah orang tersebut tidak berada di Jakarta, maka jika Jakarta mengalami banjir orang itu tidak akan terkena dampaknya? Bagaimana jika tempat ia bekerja juga terkena banjir? Bukankah ia juga tak akan bisa bekerja sehingga tak akan mampu meraup penghasilan?

Saya tahu bahwa sense of belonging orang tersebut terhadap Jakarta memang rendah, tapi adalah tidak arif jika ia kemudian berlaku sewenang-wenang terhadap kota ini. Nyatanya, orang-orang yang berpikiran demikian memang ada dan barangkali banyak jumlahnya. Saya sungguh berharap, kini, setelah bencana banjir ini terjadi, orang tersebut segera tersadar dari pemikiran sesatnya itu.

Kunci terhadap permasalahan sampah ada pada kita semua sebagai warga Jakarta. Tinggal kita mau belajar dari pengalaman atau tidak. Tinggal kita mau menyadarinya atau tidak. Pertama, dibutuhkan kerja keras dari orang-orang yang telah belajar dari pengalaman itu untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka sehingga anak-anak Jakarta kelak akan menjadi generasi yang sadar akan kebersihan lingkungan, yang membuang sampah tepat pada tempatnya, yang menjaga sungai-sungai dan selokan-selokan mereka dari gundukan plastik dan polutan-polutan lainnya. Kedua, dibutuhkan upaya yang nyata dari orang-orang yang telah sadar akan  pentingnya menjaga lingkungan, untuk menularkan kesadarannya kepada orang lain yang belum sadar. Upaya penularan kesadaran itu, adalah salah satu motivasi saya dalam merangkai tulisan ini. Mudah-mudahan Anda yang telah berkenan membaca ketikan sederhana saya ini merupakan golongan orang-orang yang telah tersadarkan.

Mari mencintai Jakarta, mari belajar dari bencana!

******

3 thoughts on “Mencintai Jakarta, Belajar dari Bencana

  1. Sangat Indah judul Kalimat pd Tulisan diatas ini MENCINTAI JAKARTA (belajar dari bencana).

    JAKARTA

    Sebagai ibukota negara yang menjadi idaman seluruh anak negri untuk mensinggahi,
    Jakarta sebagai kota impian untuk mewujudkan mimpi kesuksesan,
    Jakarta pun menjanjikan berjuta-juta ke-indahan dalam brosur2, dan berbagai media yg menyiarkannya,

    Akan tetapi Jakarta tdk menprokramirkan permasalahan, dan dampak kritis yg ada didalamnya, setelah terjadinya musibah, barulah sebagian permasalahan Jakarta terungkap,
    Bahkan banyak komentar sinis yg tersiar di media, walau ada beberapa pula komentar iba,
    yang ada didalamnya.

    Mensikapi titik balik Jakarta Sebagai Ibukota Negara,
    Jakarta bukan saja milik orang Betawi – Jakarta milik seluruh masyarakat Indonesia,
    Bahkan saat ini warga jakarta hanya 40% saja yg memang asli orang Betawi,
    Karna sebagian telah tergusur, dan berpindah ke daerah pinggiran Jakarta / Bogor.
    dan selebihnya penduduk Jakarta adalah pendatang yg sudah memiliki KTP DKI / non KTP DKI.

    Jakarta pun dilintasi oleh berbagai sungai yang dari hulu kehilirnya, terdapat pemukiman penduduk yang sangat padat, dan sangat kurang pula akan pengetahuan tentang kebersihan,
    dan kurangnya kesadaran akan memiliki – dan mencintai Jakarta sebagai tempat tinggalnya.
    Mereka2 ini hanya menjadikan jakarta sebagai tempat mencari nafkah, tanpa kepedulian untuk menjaga lingkungan dimana mereka tinggal dan berada selama dijakarta.
    Tidak sedikit penduduk yg tidak menetap ini berada di jakarta, bahkan mereka berada di 5 wilayah Ibukota Negara.

    Pemukiman2 padat dibantaran sungai yg tidak terakomodir dari sosialisasi kepemerintahan yang paling terbawah ( RT / RW ) menjadikan permasalahan yg sangat pelik bagi pemerintah,
    dalam pendataan penduduk / juga dalam pemberian sosialisasi lingkungan.

    Jadi sangat lah tepat pada judul tulisan diatas ini MENCINTAI JAKARTA
    Bukan saja hanya pada Penduduk asli Jakarta ( BETAWI ) akan tetapi siapapun mereka yg
    ber kontec pada Jakarta harus mempunyai kesadaran dan kecintaan pada keberadaan
    Jakarta sebagai Ibukota Negara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s