Mama dan Jiwa Petualangku

Kudekati  kembali fotoku dan mama yang terpasang tegak di meja samping tempat tidurku. Ku amati wajahku dan wajah mama. Benar kata beberapa orang, wajah kami memang begitu mirip.

Rambut kami sama-sama lurus, bibir kami sama-sama tipis, alis kami sama-sama tebal. “Kalian berdua sama-sama cantik”, begitu papa biasanya memuji kami.

Aku ingat, foto itu diambil enam tahun lalu. Papa yang memotret kami di ruang santai selepas kami sarapan pagi.

Kemiripan-kemiripan ragawi antara aku dan mama itu, ternyata tak berlanjut pada kemiripan karakter. Dari segi karakter itu, aku dan mama bahkan sangat jauh berbeda. Aku sama sekali tak menuruni karakter mama.

Mama, dalam pandanganku, adalah sosok yang keras, pendoktrin, dan dalam segala hal, semua orang harus menurut kepadanya. Aku pun mesti menuruti apa-apa yang mama mau. Terlebih lagi, aku adalah anak gadis semata wayangnya.

Saat kecil dulu, hidupku sudah diatur olehnya. Aku tak tahu pasti kemana arah hidup yang aku tuju. Aku hanya melangkah sesuai dengan arahan mama.

Aku begitu dijaga dengan ketatnya. Semua hal harus dalam pengawasannya.

Semua kebutuhanku memang selalu mama penuhi. Apapun yang aku minta tak pernah tak aku dapat, asalkan aku juga menuruti apa yang mama mau.

Namun, seiring berjalannya waktu, apa yang mama lakukan itu tak mampu membuatku merasa nyaman. Aku mulai berontak dengan kekangan demi kekangan yang mama lakukan kepadaku. Aku ingin menentukan arah hidupku sendiri.

Bermula ketika aku mendaftar kuliah, benih-benih perlawanan itu mulai muncul dalam diriku. Mama memintaku mendalami ilmu manajemen sebagaimana juga ia, sedang aku telah sangat lama memimpikan belajar ilmu pariwisata.

Sejak lama, berkali-kali memang mama mengarahkanku agar kelak aku menggantikan posisinya memimpin perusahaan keluarga. Untuk itu lah mama memintaku mendalami ilmu manajemen itu.

Aku menolaknya. Aku melawannya, memberikan ancaman kepadanya, tak akan kuliah jika tidak sesuai dengan bidang ilmu yang aku inginkan.

Mama mengalah, raut kekecewaan jelas terlihat di wajahnya kala itu. Ia marah. Saking marahnya itu, beberapa hari lamanya mama tak menyapaku, bahkan ketika aku tengah berpamitan untuk berangkat kuliah di pagi hari.

Beruntung, aku mempunyai seorang papa yang begitu mengerti dengan apa yang aku mau. Papa adalah sosok yang egaliter, begitu berbeda dengan mama yang otoriter.

Dari segi karakter, barangkali karakter papa itu lah yang menurun kepadaku. Sayangnya, papa tak mempunyai banyak waktu untuk berlama-lama di rumah. Ia mesti menjalankan tugasnya sebagai seorang tentara yang sering mendapat tugas di tempat yang jauh dan dalam waktu yang lama.

***

Tiga bulan lamanya aku menetap di daerah terpencil itu. Tempat yang jauh dari keramaian dan kemajuan zaman. Di tempat itu, bahkan aku tak bisa menjalankan rutinitasku dahulu, berseluncur dalam dunia maya atau berjalan-jalan dengan teman-temanku di mall atau tempat wisata. Pedalaman Papua memang sungguh berbeda.

Aku jatuh cinta dengan Papua sejak saat aku kuliah dulu. Papua masuk dalam daftar tempat yang mesti aku tuju. Alam Papua begitu indah, itu yang membuatku begitu terpesona.

Aku bergabung dalam sebuah tim penyiaran sejak aku masih menjadi mahasiswa ilmu pariwisata dulu. Pekerjaan kami adalah meliput keindahan alam dan seluk beluk kehidupan dari seluruh penjuru tanah air.

Kami sering berpindah-pindah lokasi. Satu lokasi berhasil kami liput, segera kami berpindah ke lokasi yang lain. Hingga saat ini, ada puluhan lokasi yang berhasil kami liput.

Kami bekerja sama dengan pemerintah dan beberapa stasiun TV swasta dalam menjalankan pekerjaan kami. Tujuan kami adalah mempromosikan keindahan alam yang selama ini tak terkuak di mata masyarakat Indonesia atau bahkan dunia. Sebuah pekerjaan yang membuatku mesti berkelana ke berbagai macam tempat. Sebuah pekerjaan yang sangat berkebalikan dengan apa yang mama inginkan.

Di pedalaman Papua itu, aku menyusuri berbagai sudut alam yang mungkin saja terlupakan oleh masyarakat Jakarta atau kota maju lainnya. Alamnya begitu indah, laut dan dedanauan tampak membiru. Ikan-ikan dan rerumputan di dalamnya bergerak rapi berirama. Pepohonan menghijau, tak ada sampah plastik berserakan. Suatu panorama alam yang indah dan belum terjamah kotornya tangan-tangan masyarakat kota. Jiwa petualangku pun benar-benar tersalurkan di alam timur Indonesia itu.

Aku terbiasa bercengkerama dengan penduduknya yang sangat ramah. Jauh dari kesan seram yang selama ini muncul dalam persepsi sebagian masyarakat. Tak ada kata perang suku di wilayah yang aku kunjungi itu.

Namun disana, orang-orang sama sekali tidak mengerti baca tulis atau hitung-menghitung. Aku yang juga sebagai duta pemerintah merasa memiliki tanggung jawab moral. Aku ajarkan mereka huruf dan angka. Aku ajarkan mereka membaca dan menghitung. Aku kenalkan mereka peralatan fotografiku. Aku ajak mereka menonton film-film yang telah aku buat.

Aku bersama dengan timku pun membawa bekal pakaian yang kami sumbangkan kepada mereka. Mereka tersenyum menerimanya. Aku ajarkan mereka cara memakainya. Keramahan mereka semakin terlihat saja.

Ada rasa sedih ketika aku harus kembali ke Jakarta meninggalkan mereka di pedalaman hutan itu.

***

Kulitku tak sebersih dulu. Wajahku kusam, rambutku acak-acakan. Selama di Papua, aku tak sempat memerhatikan kecantikanku lagi.

Di rumah, mama masih seperti yang dulu. Sifat pendoktrin masih menyelimuti pikirannya. Karakter dan kemauan kami masih sangat berseberangan.

Melihat tak karuannya penampilanku, mama memarahiku habis-habisan. Aku diam tak memedulikannya.

Secara tiba-tiba, seorang kapster langganan mama datang menemuiku di kamar. Barangkali mama yang memanggilnya. “Ada-ada saja”, begitu pikirku.

***

Siang itu mama mengajakku menuju kantornya. Ia ingin memperkenalkan usaha barunya kepadaku. Aku enggan mengikuti kemauannya itu.

Mama terus mendesakku hingga akhirnya aku tak kuasa menolaknya. Ia berharap aku akan tertarik dengan usaha kecantikan yang baru dirintisnya itu.

“Bagaimana, Kamu tertarik dengan usaha baru mama?”, mama menanyaku penuh harap.

Aku tak menjawab.

Tidak. Aku tidak tertarik dengan dunia bisnis itu. Seberapa besar pun keinginan mama kepadaku dan seberapa sering pun mama mendesakku, aku tak akan menuruti apa yang mama mau.

Aku tetap setia dengan jiwa petualangku. Aku tak ingin hidupku terus-terusan berada pada bayang-bayang mama. Aku tak ingin hidupku selalu dalam arahannya. Aku menikmati pekerjaan yang aku jalani bersama dengan rekan-rekan pecinta alam yang lain.

Hasil dari pekerjaan kami memang tidak sebanding dengan bisnis yang mama tekuni. Namun, justru disana aku bisa merasakan indahnya hidupku. Aku tak ingin terus-terusan dikekang oleh aturan-aturan mama.

***

Selama berhari-hari aku bersama dengan rekan-rekan satu tim mesti menyelesaikan film dokumenter yang kami buat. Berbagai macam editing kembali kami lakukan.

Rangkaian pekerjaan itu cukup banyak menyita waktuku. Aku tidak ingin diganggu. Aku sengaja tidak pulang ke rumah agar dapat fokus dengan pekerjaanku itu. Ponsel pun sengaja aku matikan. Mama secara otomatis tak bisa menghubungiku.

Aku dan timku mempuyai sebuah mess sebagai tempat kami menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan kami. Di mess sederhana itu lah aku tinggal selama beberapa hari bersama dengan timku. Aku tak akan pulang sampai film kami benar-benar jadi secara sempurna dan siap diikutsertakan dalam festival film itu. Kami bertekad memenanginya.

***

Festival film pun digelar di Gedung Kesenian Jakarta selama tiga hari berturut-turut. Total, sepuluh hari sudah aku tak juga pulang ke rumah. Selama berhari-hari itu pun aku tak memberi kabar sama sekali kepada mama. Anehnya, mama pun tak mengirimkan orangnya untuk mencariku. Mama tak pernah peduli dengan pekerjaanku.

Puluhan kontestan ikut dalam festival film itu. Mereka semua berusaha menampilkan karya terbaik mereka di depan juri dan khalayak.

Kami pun telah siap dengan film yang kami buat di pedalaman Papua itu. Berharap mendapat sambutan yang hangat dari juri dan khalayak.

Hari itu, hari yang sangat membahagiakan bagiku. Film kami menjadi yang terbaik dari semua film. Penghargaan pertama dapat kami raih. Usaha dan kerja keras kami sepertinya terbayar lunas.

Terbayang kembali dalam benakku wajah-wajah ramah warga pedalaman Papua kala itu. Aku persembahkan penghargaan itu kepada mereka semua. Sayangnya, tak ada ucapan selamat dari mama atau papaku dalam acara itu. Mereka tak hadir disana. Aku memang sengaja tak memberi mereka kabar.

***

Setelah berhari-hari tak pulang ke rumah, aku pun ingin segera kembali ke peraduanku. Badanku sungguh lelah luar biasa. Pegal-pegal begitu terasa di punggung dan kakiku.

Pukul 12 malam aku baru sampai di rumah. Aku membawa kunci rumah yang aku gandakan sendiri secara diam-diam. Aku bisa segera menuju ke kamar tidurku tanpa hadangan mama. Aku cukup takut mama akan memarahiku karena aku tak memberinya kabar selama berhari-hari.

Segera aku buka kamarku dan merebahkan diri disana. Tak perlu lama, aku telah terlelap bersama piala yang aku menangkan. Aku menggenggamnya dalam tidurku.

***

Belum terasa lama aku tertidur, seseorang telah memijit-mijit punggungku. Kubuka perlahan mataku yang masih berat. Kulihat ke samping jendela, gorden telah terbuka, matahari rupanya telah meninggi.

Kubalikkan tubuhku melihat ke arahnya, mama tersenyum kepadaku dan berganti memijit kakiku. Tak biasanya mama melakukan itu.

“Mama bangga denganmu”, mama mendekatkan wajahnya ke wajahku.

Aku terbingung.

“Maksud Mama?”

“Mama diam-diam ikut menonton festival film yang Kamu ikuti. Kamu hebat. Kamu layak memenangkannya.”

Mama memeluk dan menciumiku. Dielusnya punggungku dengan lembutnya. Sudah lama rasanya mama tidak melakukan itu kepadaku.

Aku begitu menikmati pelukan mama yang telah lama tak aku dapati sejak aku berani menentang kemauannya. Mataku terpejam.

Tak beberapa lama, tiba-tiba mama berbisik di telingaku. “Kamu sudah sangat dewasa, kapan Kamu akan menikah? Mama sudah ingin punya menantu dan menimang cucu.”

Aku terdiam dan hanya bisa tersenyum simpul.

Dalam batin aku berharap, “Mudah-mudahan saja selera kita kali ini tak berbeda, Ma…”

*****

 Oleh: Teguh Wibowo, dibuat dengan sekenanya pada suatu malam yang tak mampu membuat mataku terpejam.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s