JK, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Abraham Samad di Mata Najwa

Gambar diunduh dari jpnn.com
Gambar diunduh dari jpnn.com

Jusuf Kalla, Mahfud MD, Dahlan Iskan, dan Abraham Samad. Keempatnya adalah tokoh yang sering menghiasai layar televisi kita. Nama pertama adalah wakil presiden kita sampai dengan beberapa tahun yang lalu, ia kini aktif sebagai ketua Palang Merah Indonesia (PMI). Nama kedua adalah ketua Mahkamah Konstitusi negara kita, ia adalah guru besar Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. Nama ketiga adalah Menteri Negara BUMN kita, setelah sebelumnya menjadi Dirut PLN. Nama terakhir adalah ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang sebelumnya getol menjadi aktivis pemberantasan korupsi di negara kita.

Keempat tokoh pemimpin itu hadir dalam acara yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanudin Makassar dan Mata Najwa bulan Desember silam. Acara itu dihadiri oleh beberapa tokoh dan mahasiswa Makassar. Dan, saya, meski tak beruntung untuk datang dan menyaksikan secara langsung acara tersebut, masih cukup berpuas diri dengan melihat tayangan tundanya oleh Metro TV kamis malam lalu.

Sebagaimana yang tergambar sejak lama, ketika keempat tokoh tersebut diwawancara oleh Najwa, gaya bicara dan substansi jawaban yang diberikan adalah sama. JK masih sebagaimana dulu, ngomong tanpa tedeng aling-aling dengan logat khas ala Makassar-nya. Mahfud juga masih tetap sama, gaya bicaranya penuh dengan logika sistematis dan runtut. Latar belakang hukumnya barangkali menjadi penyebab. Dahlan tetap mempertahankan gayanya, datang dengan mengenakan baju putih dan spatu kets, ia menjawab semua pertanyaannya Najwa dengan penuh canda, namun tetap menyentuh substansi. Abraham masih kelihatan berapi-api dalam menjawab pertanyaan seputar korupsi yang diajukan Najwa.

Tema utama kala itu adalah seputar kepemimpinan keempat tokoh itu yang diserempetkan ke masalah pencalonan presiden 2014. Ketika ditanya seputar capres 2014 itu, yang menarik, tak ada yang terlihat begitu berambisi untuk mencalonkan dirinya menjadi presiden. Hanya JK yang kelihatan masih cukup menyimpan hasrat. “Gemas”, itu yang dikatakan olehnya ketika melihat permasalahan bangsa semakin banyak saja, ia tahu solusinya namun tak punya lokomotif partai sebagai kendaraan politiknya.

Mahfud kelihatan enggan memberikan jawaban pasti. “Memang secara tidak resmi ada yang berniat melamar saya, tapi saya belum mau memikirkannya, resminya ya nanti 2014”, begitu gambaran sederhana jawaban darinya. Sementara ketika ditanya seputar isu pencitraan tatkala ia mempertanyakan grasi presiden terhadap seorang terpidana narkoba, ia menjawab bahwa apa yang dipertanyakannya adalah sesuatu yang sangat wajar. “Bagaimana tidak, dari peradilan tingkat pertama hingga peninjauan kembali, semua hakim memutuskan bahwa terpidana itu (Ola) benar-benar seorang mafia narkoba, tiba-tiba presiden kemudian menyebut bahwa Ola hanyalah kurir sehingga layak diberi grasi”. Logika ini memang sangat masuk akal.

Dahlan pun sama sebagaimana Mahfud. Terlebih saat dirinya ditanya soal isu pencitraan yang kerap kali disematkan kepadanya. “Saya nggak mau memikirkan soal itu. Saya hanya ingin kerja, kerja, dan kerja. Bangsa kita terlalu banyak orang yang hanya berbicara, namun enggan untuk bekerja”, begitu jawaban Dahlan.

Sementara itu, sebagai tokoh termuda, Abraham Samad diminta untuk memberikan pendapat atas ketiga tokoh yang lebih tua darinya itu. Ia memuji ketiganya. “Ketiga tokoh di depannya adalah sosok yang egaliter. Indonesia kekurangan tokoh-tokoh seperti itu”, begitu inti dari jawaban darinya.

Yang juga menarik, keempat tokoh itu terlihat saling memuji satu dengan yang lainnya. Masing-masing beranggapan bahwa jika ketiga tokoh yang lain kelak memimpin Indonesia, Indonesia pasti akan semakin sejahtera, bersih, dan bebas dari korupsi.

Bagi saya pribadi, jujur saja, saya masih mengharapkan agar dari keempat tokoh itu, ada yang kelak memimpin negara kita. Atau paling tidak, gaya kepemimpinan, kesederhanaan, dan egalitarianisme dari keempatnya menjadi inspirasi bagi siapapun, sehingga kelak terlahir pemimpin-pemimpin yang mengerti betul kemauan rakyatnya.

Ya, kita memang rindu tokoh-tokoh seperti itu. Terlalu banyak pemimpin kita yang terlalu concern mengurus kepentingan partai politiknya masing-masing, terlalu banyak tokoh kita yang bergaya layaknya seorang priyayi, bahkan banyak diantara mereka yang “omdo”, manja, dan justru ingin dilayani oleh rakyatnya.

Tak terbayang jika dalam acara itu, hadir juga gubernur baru Jakarta, Jokowi, pasti acara akan semakin seru saja. Hehe..😀

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s