Geliat Para Perempuan Pengrajin Emping dalam Roda Perekonomian Desa

Oleh: Teguh Wibowo

Siang itu, lepas dua jam dari azan zuhur. Matahari masih menyengat di atas kampung itu. Perempuan-perempuan tampak berjalan beriringan menuju sebuah tanah lapang. Mereka menggendong satu atau dua karung bekas berukuran 25 kilogram. Mereka adalah para pengrajin emping di sebuah kampung di ujung tenggara kabupaten kecil di Jawa Tengah.

Karung-karung itu berisikan emping. Emping itu telah berada dalam jamahan tangan para pengrajin itu empat hari lamanya. Emping itu bukan milik mereka sendiri. Mereka hanya menjadi buruh pengrajin saja. Mereka itu bekerja pada seorang pemilik yang kini mereka tunggu kedatangannya. Empat hari lalu, sang pemilik datang untuk mengirimkan biji-biji melinjo. Biji-biji melinjo itu diserahkannya kepada para pengrajin itu masing-masing seberat 20 atau 25 kilogram. Penyerahan ini bukan lah suatu pemberian, melainkan suatu bentuk transfer pekerjaan dari pemilik kepada para pengrajin itu.

Biji-biji melinjo itu selanjutnya diubah oleh para pengrajin menjadi kepingan emping melinjo. Hari ini adalah jadwal dimana sang pemilik akan datang untuk mengambil emping-empingnya dari para pengrajin, membayar upah pengrajin, serta menyerahkan kembali biji-biji melinjo baru untuk diolah menjadi emping.

Tak lama, sebuah truk datang dari arah barat. Sang pemilik emping bersama dengan sopirnya ada di dalam truk. Emping-emping pun akan segera diserahkan kembali oleh para pengrajin kepada pemiliknya itu. Sebagai upahnya, pengrajin dihargai 3.500 rupiah perkilogram emping yang mereka hasilkan.

Truk berhenti tepat di dekat sebuah pohon di tengah tanah lapang. Kuli nampak keluar dari bak truk pada bagian belakang. Sang pemilik keluar dari tempat duduknya pada bagian depan truk. Disiapkannya timbangan dan buku catatan kecil dari dalam tasnya. Ia duduk bersila di tempat yang agak teduh.

Biji-biji melinjo segera dikeluarkan oleh para kuli dari bak truk. Para pengrajin mulai mengantre di depan sang pemilik. Mereka mulai mengembalikan emping-emping itu, menerima upah dari pemilik, serta menerima kembali sekarung biji melinjo untuk mereka ubah menjadi emping.

Sang pemilik sibuk melakukan pembayaran dan pencatatan sederhana. Satu demi satu, karung-karung berisikan melinjo hasil karya para perempuan kampung dinaikkan ke atas bak truk. Esok, emping-emping itu akan segera didistribusikan menuju Surabaya. Para pengrajin pun tampak sumringah menerima upah atas jerih payah mereka selama empat hari. Sore nanti, toko kelontong Pak Carik akan mereka ramaikan untuk membayar utang atau membeli bahan makanan dan lauk-pauk.

***

Siklus ekonomi ini terus berlangsung tak hanya di kampung itu. Di kampung-kampung lain pun siklus ini terus terjadi dan menjadi sumber penggerak geliat perekonomian para perempuan yang menjadi pengrajin emping itu sejak puluhan tahun lamanya. Dahulu, siklus ini dilakukan oleh orang tua mereka, baik orang tua sang pemilik, maupun orang tua sang pengrajin sendiri. Kini, siklus itu diturunkan kepada mereka semua.

Mengenal Emping

http://empinglimpung.com/2012/11/19/emping-limpung-pilihan-yang-tepat-makanan-sedap.html
http://empinglimpung.com/2012/11/19/emping-limpung-pilihan-yang-tepat-makanan-sedap.html

Emping merupakan jenis makanan ringan. Bagi sebagian orang, mungkin saja belum mengenalnya. Pamor emping memang masih kalah jika dibandingkan dengan makanan kecil lain semisal keripik atau kerupuk.

Emping adalah jenis makanan kecil yang berasal dari buah melinjo. Melinjo sendiri telah lama hidup di bumi Indonesia. Sebuah sumber menyatakan bahwa tanaman ini berasal dari semenanjung Malaya, sumber yang lain menyatakan bahwa tanaman ini merupakan tanaman asli Indonesia.

Tanaman melinjo sendiri mampu hidup di pekarangan-pekarangan rumah, perkebunan, hingga di pinggir-pinggir jalan di pedesaan. Tanaman melinjo merupakan jenis tanaman multiguna. Daunnya dapat dimanfaatkan sebagai sayur-sayuran dan campuran sop, batangnya dapat dijadikan sebagai bahan bangunan atau dijadikan kayu bakar, sedang buahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan bernama emping melinjo.

Emping melinjo merupakan jenis makanan ringan yang dapat diolah dengan berbagai macam variasi hidangan. Ia dapat dijadikan sebagai cemilan di kala santai atau sebagai teman lauk pauk bersama kerupuk. Rasanya pun cukup lezat dengan harga yang  tergantung pada jumlah pasokan di pasaran.

Emping melinjo itu lah yang selama ini dibudidayakan oleh para pengrajin emping di sebuah kota kecil di pinggiran tenggara Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

http://gosipgarut-online.com/masuki-lebaran-emping-melinjo-dan-garut-laku-keras.html
http://gosipgarut-online.com/masuki-lebaran-emping-melinjo-dan-garut-laku-keras.html

Gambaran Sang Kota Emping

25072010044

25072010051

Limpung, nama kota itu. Disebut kota bukan dalam artian administratifnya yang memang setara dengan kabupaten. Penyebutan kota bagi kawasan ini lebih merujuk pada julukan semata yang tidak dapat dilepaskan dari kata emping. Secara administratif, ia merupakan sebuah kecamatan. Namun, kecamatan ini terus bertransformasi menuju kota ekonomi kecil yang berperan penting bagi kehidupan masyarakatnya.

Geliat perekonomian kecamatan ini tidak bisa dilepaskan dari keberadaan pasar tradisionalnya yang semakin bergairah. Pasar Limpung tidak hanya dikunjungi oleh masyarakat sekitarnya. Keberadaan terminal antarkota yang begitu dekat dengan kawasan pasar merupakan faktor pendukungnya. Ia menjadikan akses menuju pasar Limpung menjadi lebih mudah dan dapat dijangkau oleh masyarakat dari kota-kota lain semisal Pekalongan, Kendal, atau Semarang.

Hanya sekitar tiga kilo meter dari jalan pantura, pasar Limpung ternyata terus berkembang menuju kawasan ekonomi yang vital dengan nilai perputaran uangnya yang semakin besar. Hasilnya, pamor kecamatan Limpung pun jauh lebih unggul dari kecamatan-kecamatan lain yang ada di sekitarnya.

Patung Perempuan Pengrajin Emping sebagai simbol Sang Kota Emping
Patung Perempuan Pengrajin Emping sebagai simbol Sang Kota Emping

Para Perempuan Pengrajin Emping

http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?m=200906
http://zamrud-khatulistiwa.or.id/?m=200906

Keramaian dan kemajuan pasar Limpung itu senantiasa disokong oleh ciri khas yang membedakannya dengan pasar-pasar tradisional lain. Ciri khas pasar ini adalah emping melinjo.

Emping melinjo ini dibuat dengan tangan-tangan kokoh kaum perempuan yang hidup di sekitar Limpung. Kerajinan itu menjadikan para perempuan itu tidak melulu sebagai seorang ibu rumah tangga atau petani. Para perempuan itu menjadi pengrajin emping dan melakukan pekerjaan-pekerjaan itu di rumahnya masing-masing.

Para perempuan pembuat emping itu pada umumnya ingin membantu suami-suami mereka dalam menghidupi keluarga. Penghasilan bagi para pengrajin emping memang lumayan untuk mengurangi beban keluarga, apalagi jika harga emping di pasaran tengah mahal-mahalnya. Namun, di kala harga emping itu menurun, secara otomatis penghasilan yang mereka peroleh pun sangat rendah.

Sebagai salah satu produk pertanian, harga emping memang terbilang sangat fluktuatif, tergantung pada jumlah pasokan dan jumlah permintaan di pasaran. Harga emping mentah bisa mencapai 30 ribu rupiah perkilogram di kala harganya tinggi. Sementara di saat-saat tertentu, harganya bisa saja anjlok sampai 15 ribu rupiah  perkilogram. Alhasil, penghasilan para perempuan itu pun sangat fluktuatif dari waktu ke waktu.

Namun begitu, para perempuan itu tidak memiliki pilihan lain. Baik banyak atau sedikit penghasilan yang diperoleh, para perempuan itu tetap setia menjadi pengrajin emping. Demi meringankan beban hidup keluarga mereka sendiri.

Dibuat dengan Tangan Manual

http://empinglimpung.com/2012/11/page/9
http://empinglimpung.com/2012/11/page/9

Selama ini, emping yang diperjualbelikan di pasar Limpung dibuat secara manual menggunakan tangan-tangan para perempuan. Untuk membuatnya, biji melinjo yang telah dikupas kulit luarnya terlebih dahulu akan disangrai dalam penggorengan tanpa minyak selama beberapa menit.

Setelah biji melinjo itu matang, ia akan dipindahkan kemudian ditumbuk pada bagian ujung-ujungnya. Selanjutnya, biji melinjo yang telah matang itu akan keluar dari lapisan pelindungnya. Biji ini lah yang akan ditumbuk menggunakan batu penumbuk pada sebuah lembaran plastik di atas papan batu segi empat yang telah dihaluskan.

Hasil tumbukan itu akan menjadikan biji melinjo yang tadinya berbentuk biji lonjong menjadi lingkaran-lingkaran tipis berwarna putih dan menempel di atas plastik. Ini lah yang disebut dengan emping.

Selanjutnya, emping-emping itu akan dijemur untuk dikeringkan. Sampai tahap ini lah para pengrajin emping itu membuat empingnya.

Sistem Upahan dan Sistem Beli

Ada dua sistem dalam rantai kerajinan emping di kota Limpung. Pertama, sistem upahan. Sistem upahan terjadi ketika seorang pengrajin emping diserahi beberapa kilo biji melinjo oleh seorang pemilik. Selanjutnya, para pengrajin itu mengubah biji melinjo yang ada menjadi kepingan emping. Proses penyerahan ini pun ada dua, yakni pengrajin sendiri yang mengambil di tempat pemilik, atau pemilik sendiri yang mendatangi kampung-kampung pengrajin untuk menyerahkan biji-biji melinjo untuk diubah menjadi emping oleh para pengrajin.

Ketika pengrajin sendiri yang mengambil di tempat pemilik, maka pengrajin itu memiliki kewajiban pula untuk menyerahkan kembali emping yang telah dibuatnya. Pada mekanisme ini, umumnya upah yang diberikan akan lebih tinggi daripada jika pemilik yang mengirimkan kepada pengrajin. Hal ini dilakukan untuk mengompensasi biaya perjalanan yang harus dikeluarkan oleh para pengrajin.

Selain itu, pada beberapa kasus sebagaimana penulis ceritakan pada awal tulisan ini,  sang pemilik juga sering mendatangi pengrajin di kampung-kampung dimana para pengrajin itu tinggal. Tiga atau empat hari kemudian, pemilik akan kembali mendatangi kampung untuk mengambil emping yang telah diproduksi oleh pengrajin.

Sistem kedua adalah sistem beli. Dalam sistem ini, pengrajin membeli biji melinjo dari para penjual yang menyediakan biji-biji melinjo. Selanjutnya, biji melinjo yang telah dibeli itu menjadi hak penuh pengrajin. Ia berhak menjual emping yang dihasilkan kepada siapapun juga. Keuntungan diperoleh dari selisih antara harga beli melinjo dan harga jual emping.

Baik itu sistem upahan ataupun sistem beli, keduanya telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi ciri khas para pengrajin emping di Pasar Limpung. Dua sistem ini lah yang menyokong kemajuan kota kecil itu dengan ciri khasnya yang menawan.

Diekspor ke Negara Tetangga

Emping yang dihasilkan oleh para pengrajin, tidak hanya dijual dan didistribusikan ke kota-kota besar seperti Semarang, Surabaya, atau Batam. Emping itu juga diekspor ke negara-negara lain semisal Malaysia, Singapura, Australia, dan Brunei. Bahkan, pasar emping yang potensial telah menjangkau Jepang, beberapa negara Eropa, dan Amerika Serikat. Maka dari itu, jika dikembangkan secara optimal, bukan tidak mungkin emping ini akan menyumbang devisa yang lumayan.

Sayangnya, kini pasokan bahan baku biji melinjo dari petani di sekitar kawasan Limpung telah lama berkurang. Pasokan itu menurun seiring dengan banyaknya pohon-pohon melinjo yang telah berusia tua serta serangan penyakit misterius pada sekitar awal tahun 2000-an. Hama misterius ini menjadikan pohon melinjo gagal menghasilkan biji. Bunga-bunga melinjo banyak yang rontok dengan sendirinya, tak mampu menghasilkan biji.

Oleh karena pohon-pohon melinjo yang ada merupakan tanaman yang telah tua dengan batang pohon yang sangat tinggi, pepohonan melinjo petani itu tak bisa lagi dirawat dengan intensif. Lama-kelamaan, pohon-pohon melinjo itu pun mati satu demi satu. Akibatnya, petani kemudian sengaja menebang pohon-pohon melinjo yang mereka miliki dan menggantinya dengan pepohonan penghasil kayu seperti sengon atau jati.

Melihat kondisi itu, pasokan biji-bijian melinjo kini banyak didatangkan dari luar daerah, semisal Kabupaten Kendal, Temanggung, Purwokerto, Yogyakarta, hingga ke Provinsi Banten.

Emping melinjo dapat dibagi menjadi beberapa jenis tergantung kualitas emping.  Emping yang bermutu tinggi adalah emping yang sesuai dengan standar (SNI 01-3712-1995) yaitu emping yang tipis sehingga kelihatan agak bening dengan diameter seragam kering sehingga dapat digoreng langsung.  Emping dengan mutu yang lebih rendah mempunyai ciri lebih tebal, diameter kurang seragam, dan kadang-kadang masih harus dijemur sebelum digoreng.

Minim Peralatan, Minim Inovasi

http://catatanhariansangjournalis.blogspot.com/2011/12/menyusuri-rutinitas-pengrajin-emping.html
http://catatanhariansangjournalis.blogspot.com/2011/12/menyusuri-rutinitas-pengrajin-emping.html

Peralatan yang selama ini digunakan oleh para pengrajin emping merupakan peralatan-peralatan sederhana. Peralatan-peralatan itu terdiri atas tungku, serok, wajan sangrai, batu landasan (batu umpak), batu kecil, palu batu, dan plastik.

Tungku digunakan sebagai media untuk mematangkan biji melinjo. Perapian yang digunakan sendiri pada umumnya bersumber dari kayu bakar atau kulit melinjo lain yang telah dikupas. Wajan sangrai digunakan sebagai tempat untuk menaruh biji melinjo untuk disangrai. Serok berfungsi untuk memindahkan melinjo yang telah disangrai dari wajan sangrai ke atas batu landasan. Di atas batu landasan itu, biji melinjo dipipih menggunakan batu kecil seukuran kepalan tangan.

Plastik digunakan sebagai media yang ditempatkan di atas batu landasan. Di atas plastik ini, biji yang telah dipipih akan ditumbuk dengan menggunakan palu batu sampai tipis dan melingkar. Emping pun siap dijemur kemudian dikemas.

Semua peralatan di atas merupakan peralatan-peralatan sederhana yang digunakan para pengrajin. Hingga kini, teknologi yang digunakan merupakan teknologi tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Pada praktiknya, batu landasan yang digunakan sendiri bisa berasal dari warisan orang tua yang diturunkan kepada anaknya. Dengan peralatan sederhana itu, dalam satu jam, seorang pengrajin bisa mengubah dua kilogram melinjo menjadi sekitar satu kilogram emping.

Hingga kini, seiring dengan tradisionalnya peralatan yang digunakan itu, inovasi atas produk emping pun tidak dilakukan. Padahal, pada dasarnya emping itu dapat diolah menjadi aneka rupa makanan kecil dengan rasa yang lezat. Ia bisa diolah dalam bentuknya yang melingkar utuh, atau dalam bentuk yang lebih kecil lagi. Ia bisa digoreng begitu saja atau dibumbui dengan aneka rempah-rempah dan bumbu masak tertentu kemudian dikemas dalam kemasan yang menarik.

Namun, inovasi seperti itu tidak terjadi. Pengrajin pembeli lebih memilih menjual kembali emping-emping mentah mereka kepada pemilik. Akibatnya, nilai tambah yang diperoleh pengrajin itu masih belum bisa dioptimalkan.

Perlunya Replantasi Tanaman Melinjo

Mengingat besarnya potensi ekonomi emping itu, sudah semestinya industri kecil ini mendapat perhatian lebih dari pemerintah. Untuk memperbesar jaringan industri emping melinjo, pengembangan pada sektor hulu sudah semestinya dilakukan. Selama ini, beberapa tanaman melinjo yang menjadi andalan produksi pada sejumlah wilayah merupakan tanaman-tanaman yang telah berusia tua dengan batang pohon yang sangat tinggi. Hal ini tentu menjadikan budidaya tanaman ini menjadi kurang efektif. Terlebih lagi dengan bermunculannya hama melinjo yang mengancam panen pembudidaya.

Terhadap permasalahan ini, petani melinjo tidak bisa berbuat banyak jika tidak ada campur tangan dari pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah semestinya dapat berperan dalam proses replantasi itu. Pemerintah dapat menyediakan bibit melinjo yang unggul secara genetik untuk dapat dibudidayakan oleh petani melinjo.

Bibit melinjo unggul itu ditandai dengan kapasitas produksi yang tinggi dalam umur yang masih muda, tahan dari hama dan penyakit, dan serta memiliki batang pohon yang tidak terlalu tinggi sehingga mudah untuk dipanen.

 Selama ini, pemerintah telah memiliki Balai Penelitian Tanaman Perkebunan di sejumlah daerah. Adanya Balai Penelitian ini sudah semestinya dioptimalkan lagi.

Ekspansi Ekspor, Mungkinkah?

Mengingat selama ini emping-emping itu banyak diekspor ke negara-negara tetangga, perlu dipelajari dengan seksama apakah kelak emping itu akan diekspor secara lebih masif atau tidak. Selama ini, masyarakat luas masih belum mengenal emping. Pengalaman pribadi penulis terhadap seorang sahabat dari Makassar menunjukkan itu. Untuk itu, langkah pertama yang dapat dilakukan adalah melalui serangkaian pengenalan atau promosi kepada khalayak ramai.

Dalam tahap awal, pengenalan emping itu dapat dilakukan secara lokal pada seluruh masyarakat Indonesia. Dalam jangka penjang, pengenalan emping itu dapat dilakukan kepada masyarakat internasional secara sedikit demi sedikit.

Dalam hal masyarakat internasional telah mengenal emping dan daya tariknya cukup tinggi, pengembangan emping secara masif baru dapat dilakukan. Melihat semakin meluasnya jangkauan ekspor emping dari waktu ke waktu, sepertinya hal ini bukan merupakan sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Jika upaya ini berhasil, kelak emping melinjo itu dapat memberikan sumbangan devisa yang lumayan bagi negara kita.

Selain itu, untuk menambah nilai tukar emping melinjo, sudah waktunya para pengrajin itu diberikan pelatihan dan sejumlah modal untuk memulai melakukan inovasi. Emping yang mereka produksi itu hendaknya tidak melulu dijual secara mentah, melainkan sudah diolah dalam bentuk aneka makanan kecil siap santap layaknya keripik singkong.

Berapapun Hasilnya, Ekspor atau Tidak, Emping telah Menjadi Bagian Hidup

Pengrajin emping di sekitar Kota Limpung menyebar hingga berbagai kecamatan di sekitarnya dan masuk ke kampung-kampung penduduk. Melalui sistem upahan, para perempuan di kampung itu telah cukup terbantu dengan biji melinjo yang dikirimkan oleh seorang pemilik. Mereka memperoleh penghasilan dari keahlian yang mereka miliki dalam mengubah biji melinjo menjadi emping. Jika harganya sedang bagus, satu kilogram emping akan diberi upah oleh pemilik dengan 3.500 rupiah. Jika dalam satu minggu dua puluh kilogram emping bisa mereka hasilkan, uang senilai 70 ribu rupiah dapat mereka kantongi.

Mereka tak peduli apakah hasil dari tangan-tangan kokoh mereka itu akan dinikmati oleh siapa, baik orang-orang kota ataupun masyarakat luar negeri. Mereka hanya mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan mereka, di rumah mereka sendiri dan dengan peralatan mereka sendiri. Tak ada inovasi dan tak ada pilihan lain.

Cerita mengenai para pengrajin emping itu, menjadi bagian tersendiri dalam pergulatan hidup sebagian bangsa Indonesia.

*****

Tulisan ini, bersama dengan 3500 tulisan lain dari seluruh penjuru tanah air, diikutsertakan dalam Lomba Tulis Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebulan yang lalu. Namun sayangnya, tidak menjadi salah satu dari tiga tulisan terbaik. Hehe..😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s