Optimalisasi Potensi Pengembangan Wisata Sejarah Pabrik Gula pada PTPN X

http://www.ptpn10.com/Berita.aspx?id=673
http://www.ptpn10.com/Berita.aspx?id=673

 A.       Latar Belakang

Setiap hari, hampir pasti kita berjumpa dengan gula, zat pemanis yang dihasilkan dari tumbuhan bernama tebu. Gula merupakan senyawa organik yang aman untuk dikonsumsi, berbeda dengan zat pemanis kimia buatan seperti sakarin.

Gula seringkali menghiasi meja kita, tercampur dengan manisnya air teh maupun sedapnya kopi susu. Gula juga menjadi bahan baku aneka kue dan makanan yang sangat sering kita jumpai di meja-meja kita.

Namun begitu, jarang diantara kita yang mengenal dan mengerti mengenai asal-usul gula itu. Kita lebih suka menikmati hasil akhirnya, yakni gula yang siap konsumsi, tanpa memikirkan proses ataupun asal-usul gula itu.

Berbicara mengenai asal-usul gula, ini berarti kita telah mengarahkan diri kita untuk membicarakan sejarah gula. Gula yang beredar di pasaran Indonesia sebagian diantaranya merupakan hasil dari pabrik-pabrik gula yang tersebar pada beberapa wilayah. Pabrik-pabrik gula itu sebagian besar didirikan oleh penjajah Belanda lebih dari seratus tahun lalu. Jarang diantara kita yang mau memikirkan itu.

Kita seringkali mendengar sebuah adagium terkenal yang keluar dari mulut presiden pertama bangsa Indonesia, Soekarno. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah”, begitu bunyi adagium itu. Sejarah mungkin saja berulang, hanya tokoh dan kondisi formalnya yang berbeda, sementara substansinya tetap sama. Mempelajari sejarah berarti mempelajari seluk-beluk kehidupan di masa lalu, sebagai cerminan diri dan bekal untuk menyongsong masa depan.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mengakui sejarah bangsanya”, adagium ini juga seringkali kita dengar dan memperkuat hegemoni adagium Soekarno. Mengenali sejarah bangsa berarti mengenali dirinya sendiri. Maka, sebagai bagian dari sejarah bangsa itu, sudah selayaknya pabrik-pabrik gula peninggalan zaman penjajahan Belanda itu kita kenali. Sudah saatnya kita memahami jejak-jejak sejarah pergulaan itu, hingga mengarah pada proses pembuatan gula itu sendiri.

Sementara itu, pada sisi yang lain, upaya pengembangan pabrik gula menjadi wisata sejarah itu pada dasarnya telah mulai dilakukan oleh PTPN X. Pengembangan wisata sejarah pabrik gula itu akan memperkaya khasanah sejarah bangsa. Sebuah upaya yang patut diapresiasi dan ditunggu realisasinya.

Tulisan ini bermaksud untuk mengutarakan seluk beluk pengembangan wisata sejarah pabrik gula itu, aspek-aspek apa yang perlu diperhatikan, serta bagaimana cara memasarkannya sehingga dapat memenuhi kriteria sebagai objek wisata yang dapat diandalkan.

B.       Sejarah Perkembangan Pabrik Gula Indonesia

Keberadaan pabrik gula di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran kolonialis Belanda. Hal ini cukup mudah dimengerti karena pada masa itu, sektor yang paling mudah dan paling mungkin untuk dieksploitasi dari bumi Indonesia adalah sektor agraris.

Dengan berpegang pada 3G (Gold, Glory, dan Gospel), penjajah Belanda datang menghampiri bumi Indonesia untuk merampas rempah-rempah yang bernilai sangat tinggi bagi negara-negara Eropa yang beriklim dingin. Maka tak heran jika kemudian cengkeh, pala, dan lada menjadi sasaran mereka.

Namun demikian, keserakahan sebagai bangsa penjajah tak hanya akan berhenti pada tanaman rempah itu. Sejarah mencatat bahwa Belanda juga telah mengupayakan tanaman perkebunan lain yang mereka bangun sendiri namun dengan mempekerjakan buruh dan petani di Indonesia secara paksa. Langkah nyata terhadap strategi penjajahan ini dilakukan dengan membangun perkebunan baru. Tanaman penghasil gula (dalam hal ini adalah tebu) dipaksakan untuk ditanam para petani di Indonesia.

Selanjutnya, penjajah Belanda kemudian membangun pabrik-pabrik gula di Pulau Jawa untuk mengolah tebu-tebu yang dihasilkan petani itu menjadi gula. Dan, lagi-lagi, rakyat miskin Indonesia yang menjadi korban. Mereka dipekerjakan secara paksa di pabrik-pabrik gula itu dengan bayaran rendah atau tanpa bayaran sama sekali.

Melihat kenyataan itu, maka tidak berlebihan kiranya bahwa gula yang selama ini kita konsumsi, secara historis tidak bisa lepas dari keringat dan darah para pendahulu bangsa kita. Mereka dipaksa, diperas keringat dan darahnya oleh bangsa Belanda.

Penjajah Belanda sangat serius dengan program pembangunan pabrik gula yang mereka dirikan. Bahkan, mereka pun melakukan pembangunan Pusat Penelitian Gula (Het Proefstation voor de Java Suiker Industrie) pada tahun 1887 di Pasuruan. Dari pusat penelitian ini, dihasilkan tanaman tebu unggul yang tahan penyakit dengan kapasitas produksi tinggi. Tanaman tebu jenis POJ 2878 dan POJ 3016, misalnya, bahkan dikatakan pernah menjadi andalan dunia dan menjadi penyelamat krisis gula dunia sebagai akibat tingginya serangan hama terhadap tanaman tebu. Pada tahun 1930-an, Indonesia pernah menjadi pengekspor gula terbesar di dunia di bawah Quba.

Kini, PTPN X sendiri memiliki sebelas pabrik gula (PG) yang tersebar di wilayah Jawa Timur, yaitu : PG. Watoetoelis, PG. Toelangan, PG. Kremboong, PG. Gempolkerep, PG. Djombang Baru, PG. Tjoekir, PG. Lestari, PG. Meritjan, PG. Pesantren Baru, PG. Ngadirejo dan PG. Modjopanggoong. Pada pabrik gula-pabrik gula itu lah pengembangan wisata sejarah pabrik gula dapat dilakukan.

C.        Potensi Pengembangan Wisata Sejarah Pabrik Gula pada PTPN X

Pengembangan wisata sejarah pabrik gula pada dasarnya telah dicanangkan oleh PTPN X. Hal demikian adalah sesuatu yang logis mengingat pabrik gula tersebut memang memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan.

Pertama, eksistensi pabrik gula, sebagaimana dijelaskan di atas, tidak bisa dilepaskan dari masa penjajahan Belanda. Maka, dengan menapaki jejak-jejak penjajah Belanda itu, akan memberikan ketertarikan masyarakat Indonesia pada sejarah bangsanya sendiri. Sejarah itu kini telah bertransformasi tidak hanya sebagai sebuah ilmu, tetapi juga sebuah rekreasi.

Kedua, hingga kini, mesin-mesin peninggalan Belanda masih banyak yang digunakan dalam  proses produksi. Dengan demikian, nuansa sejarah dari wisata pabrik gula masih benar-benar dapat dirasakan oleh pengunjung.

Ketiga, potensi dukungan lahan pabrik gula juga masih memadai. Saat ini, pabrik gula pada PTPN X memiliki lahan yang masih cukup luas untuk dikembangkan sebagai objek wisata pendukung maupun infrastruktur lain guna memberikan kenyamanan kepada pengunjung.

Keempat, faktor lokasi pabrik gula umumnya berdekatan dengan lokasi pariwisata lain di berbagai daerah. Dengan begitu, integrasi antarlokasi wisata itu kelak akan mudah untuk dilakukan sehingga memungkinkan pemaketan wisata untuk menjaring sebanyak-banyaknya pengunjung.

Kelima, kondisi keuangan PTPN X tengah dalam kondisi yang sehat. Sebagaimana diketahui bahwa pada tahun 2012 ini, PTPN X membukukan keuntungan yang tidak sedikit. Hal ini dapat menjadi bukti bahwa keuangan perusahaan telah dalam keadaan yang sehat. Maka dari itu, dari segi pendanaan itu, upaya pengembangan wisata sejarah pabrik gula itu dapat dikatakan tidak terdapat kendala.

Kelima potensi di atas menurut penulis sudah cukup menjadikan wisata pabrik gula layak untuk dikembangkan. Namun demikian, terdapat beberapa hal lain yang juga patut untuk diperhatikan agar pembangunan wisata pabrik gula itu dapat terlaksana secara optimal.

D.       Hal-Hal yang Harus Dipersiapkan dalam Pengembangan Wisata Sejarah Pabrik Gula

Untuk mengembangkan wisata sejarah pabrik gula itu, beberapa aspek berikut merupakan hal-hal yang penting untuk mendapat perhatian sehingga pengembangan wisata sejarah itu akan optimal sebagaimana yang diharapkan.

1.       Aspek pendanaan

Pembangunan inovasi bisnis tidak bisa dilepaskan dari dana. Untuk membangun wisata sejarah itu dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Maka dari itu, dana yang dibutuhkan itu harus dihitung dan dipersiapkan secara dini.

Alokasi dana untuk membangun wisata sejarah pabrik gula itu tidak boleh mengganggu kestabilan, ekspansi produksi, dan pemasaran terhadap produk-produk sesuai dengan core-business yang utama. Jika dimungkinkan, alokasi dana pembangunan wisata itu sepenuhnya berasal dari perusahaan. Perusahaan sebaiknya menghindari penggunaan utang dalam pembangunan wisata sejarah itu. Kalaupun dana pengembangan wisata sejarah itu terbatas, perusahaan dapat menawarkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah atau melalui penambahan modal negara. Namun demikian, melihat sehatnya kondisi keuangan perusahaan, rasa-rasanya dari aspek pendanaan ini tidak terdapat kendala yang berarti.

 2.       Aspek legalitas

Aspek legalitas terkait erat dengan izin dari pemerintah setempat. Dalam hal ini berarti perusahaan mesti menjalin kerjasama yang aktif dengan Pemerintah Daerah setempat. Jangan sampai pembangunan wisata sejarah pabrik gula beserta infrastrukturnya itu menyalahi Rencana Umum Tata Ruang dan regulasi perizinan yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Daerah.

3.       Aspek infrastruktur

Pariwisata yang baik adalah pariwisata yang didukung dengan infrastruktur yang memadai. Infrastruktur itu dapat berupa jalan untuk mempermudah akses para wisatawan menuju lokasi wisata. Beberapa infrastruktur lain semisal kamar mandi, mushola, dan tempat parkir juga mesti diperhatikan sehingga memberikan kenyamanan bagi para wisatawan.

Guna mempersejuk lokasi wisata serta sebagai upaya untuk memberikan kesan hijau sesuai dengan ciri khas agrowisata, perlu dilakukan penghijauan di sekitar lokasi wisata melalui penanaman pohon-pohon.

4.       Aspek objek wisata utama

Objek wisata utama yang dimaksud disini adalah pabrik gula itu sendiri. Dalam hal ini dapat berupa mesin-mesin peninggalan zaman penjajahan, gedung dan bangunan, serta kereta api mesin uap yang dahulu digunakan sebagai pengangkut tebu dan produk. Keadaan pabrik gula yang dikunjungi wisatawan mesti terawat dan terjaga baik dari segi kebersihan maupun keamanannya. Penting diketahui bahwa objek wisata yang utama ini merupakan aset bersejarah sebagai bukti sejarah bangsa Indonesia. Maka dari itu, aspek keterawatan itu mesti mendapat perhatian lebih.

Mengenai hal itu, pesan Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan, beberapa waktu lalu patut menjadi perhatian. Ia mengharapkan agar gedung, bangunan, dan mesin-mesin dapat terjaga kebersihan, keteraturan, dan keterawatannya. Ia bahkan mengibaratkan bahwa kelak pabrik gula itu mesti sebersih dan serapi mal di tengah-tengah kebun tebu.

Di sekitar objek-objek wisata sejarah itu, dipasang juga berbagai petunjuk informatif, semisal tulisan mengenai waktu dibangun dan foto-foto sejarah yang terkait. Dengan demikian, wisata sejarah pabrik gula ini pun dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai sejarah pabrik gula itu sendiri.

Kereta pengangkut yang masih berfungsi dapat dioptimalkan sebagai media bagi para wisatawan untuk berkeliling di sekitar pabrik gula dan perkebunan tebu. Jika ini bisa dioptimalkan, bukan tidak mungkin akan menambah daya tarik wisata sejarah pabrik gula itu bagi para wisatawan.

Di sisi yang lain, wisata sejarah pabrik gula juga mesti memberikan pemahaman kepada wisatawan mengenai proses pembuatan gula itu sendiri, dari sektor hulu hingga sektor hilir. Hal demikian akan memberikan pengetahuan tersendiri bagi generasi muda dan anak-anak sekolah pada khususnya. Sebagai hasilnya, seorang wisatawan tidak hanya tengah berwisata sejarah, tetapi juga tengah memperoleh pengetahuan baru mengenai seluk-beluk pergulaan itu.

5.       Aspek objek wisata pendukung

Objek wisata pendukung merupakan sarana rekreasi guna mendukung ketertarikan dan kenyamanan wisatawan. Objek wisata pendukung ini dapat berupa kebun binatang mini, taman bermain untuk anak-anak, kolam-kolam ikan, kolam renang, hingga fasilitas outbond. Sedapat mungkin wisata sejarah pabrik gula itu tidak melulu mengandalkan objek sejarah semata, melainkan juga objek lain yang memberikan kenyamanan tersendiri bagi para wisatawan.

6.       Aspek kemitraan

Aspek kemitraan penting untuk dijalankan oleh perusahaan. Kemitraan ini dapat dilakukan dengan Dinas Pariwisata Pemerintah Daerah setempat terkait izin dan promosi, serta integrasi dengan tempat wisata lain di sekitar pabrik gula. Kemitraan dengan Biro Pariwisata juga diperlukan guna mengikutsertakan tempat wisata sejarah pabrik gula dalam paket wisata yang ditawarkan oleh Biro Pariwisata. Kemitraan dengan masyarakat setempat diperlukan terkait pemberian izin usaha bagi masyarakat yang berniat untuk membuka usaha di sekitar tempat wisata.

7.       Aspek mitigasi risiko

Dengan semakin banyaknya pengunjung wisata, maka semakin penting pula peningkatan keamanan di sekitar lokasi wisata. Guna meminimalisasi risiko semisal pencurian atau perusakan lokasi wisata oleh pengunjung, perusahaan mesti menjalin kerjasama dengan masyarakat setempat agar turut mengamankan lokasi wisata. Masyarakat setempat mesti diajak untuk turut berpartisipasi dalam pembangunan dan pelestarian wisata sejarah pabrik gula. Ini dimaksudkan agar tercipta sense of belonging yang tinggi dari masyarakat tersebut terhadap keberadaan pabrik gula itu.

E.        Strategi Pemasaran

1.       Wisatawan yang menjadi sasaran pasar

Wisatawan yang menjadi sasaran pasar dalam wisata sejarah pabrik gula itu, dalam tahap awal adalah wisatawan lokal. Lebih khusus lagi, wisata tersebut dapat disasarkan kepada masyarakat pecinta sejarah.

Dalam dunia pendidikan, wisatawan yang menjadi sasaran adalah anak-anak sekolah, dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Sasaran anak-anak sekolah ini merupakan sesuatu yang logis mengingat sejarah penjajahan sendiri telah menjadi bagian dari pendidikan yang diajarkan di sekolah-sekolah.

Selain untuk memperdalam pengetahuan anak-anak sekolah mengenai sejarah, anak-anak sekolah itu dapat pula dikenalkan dengan teknis pembuatan gula mulai dari hulu hingga ke hilir. Pada sisi yang lain, pembangunan infratruktur wisata lain, semisal kebun binatang mini atau tempat outbond dapat menjadi ajang rekreasi yang menarik dan menghibur bagi para wisatawan.

2.       Membangun kemitraan dan integrasi

Di sekitar pabrik gula, telah juga dibangun beberapa lokasi wisata oleh Pemerintah Daerah. Maka dari itu, jalinan kerjasama dengan Pemerintah Daerah juga mesti dilakukan. Dalam Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan sendiri, Pemerintah Daerah memiliki kewajiban untuk turut menyediakan informasi pariwisata di daerahnya masing-masing. Mengenai hal ini, agar kemitraan ini dapat berjalan dengan lebih formal, dapat dituangkan dalam bentuk penandatanganan nota kesepahaman dengan Pemerintah Daerah setempat.

Selanjutnya, dilakukan pula upaya pemaketan wisata dengan tempat-tempat wisata yang lain. Dalam hal ini, pabrik gula dapat menjalin kerjasama dengan Biro Pariwisata. Kerjasama dengan Biro Pariwisata tersebut akan efektif untuk mempromosikan wisata kepada khalayak, sekaligus menjaring sebanyak mungkin wisatawan yang menggunakan fasilitas paket wisata itu.

Kemitraan ketiga dilakukan dengan masyarakat setempat. Sesuai dengan asas pembangunan tempat wisata, sebuah wisata sedapat mungkin juga memberikan efek manfaat kepada masyarakat setempat. Masyarakat setempat, misalnya, dapat diajak untuk turut berpartisipasi dalam mengelola wisata. Mereka dapat berjualan berbagai macam suvenir ataupun makanan kecil di sekitar tempat wisata. Dengan begitu, ekonomi masyarakat akan lebih bergairah. Sense of belonging masyarakat sekitar pun akan terbangun dengan sendirinya.

3.       Promosi

Kegiatan promosi wisata gula dapat dilakukan dengan menjalin kerjasama dengan Pemerintah Daerah dan Biro Pariwisata. Selain itu, perusahaan dapat pula merekrut atau mendidik masyarakat setempat sebagai seorang promotor wisata maupun sebagai pemandu wisata. Promotor wisata dapat berkunjung ke sekolah-sekolah guna memperkenalkan serta menyosialisasikan wisata sejarah pabrik gula itu kepada anak-anak sekolah.

Secara umum, pada dasarnya promosi itu dapat dilakukan melalui tiga bentuk kegiatan utama sebagai berikut:

a.        Advertising

Advertising merupakan suatu cara yang tepat untuk memperkenalkan wisata sejarah pabrik gula kepada masyarakat. Keuntungan penggunaan advertising ini terutama karena dapat menjangkau banyak orang melalui media cetak maupun media elektronik.

Melalui media cetak, promosi dapat dilakukan dengan memasang iklan di koran atau majalah. Sementara melalui media elektronik, PTPN X dapat mengoptimalkan promosi melalui televisi, radio, hingga internet. Maka dari itu, kerja sama dengan Kementerian Negara BUMN, Pemerintah Daerah, BUMN-BUMN lain, stasiun TV, dan radio lokal menjadi perlu untuk dilakukan.

Khusus untuk promosi menggunakan media internet, PTPN X dapat menggunakan website resmi perusahaan maupun membentuk website baru yang khusus mempromosikan wisata sejarah pabrik gula. Tersedianya jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter akan semakin mudah bagi perusahaan untuk mempromosikan wisata pabrik gula itu. Promosi melalui jejaring sosial itu akan sangat efektif dalam upaya memperkenalkan wisata sejarah pabrik gula kepada masyarakat luas, terlebih lagi kepada generasi muda yang biasa berinteraksi secara intensif dalam berbagai situs jejaring sosial.

b.        Sales Support

Sales support merupakan media pedoman atau panduan yang dapat digunakan oleh wisatawan dalam memahami mengenai wisata sejarah pabrik gula itu, baik dari segi lokasi, aksesabilitas, hingga fasilitas lain yang tersedia. Beberapa sales support yang dapat digunakan antara lain brosur-brosur, leaflets, booklets, guide book, dan wall-poster.

Sales support ini mesti dibuat semenarik dan seinformatif mungkin sehingga menambah daya tarik dan keingintahuan wisatawan agar segera berkunjung ke wisata sejarah pabrik gula. Di dalamnya tersedia rute perjalanan, fasilitas, gambar-gambar dan foto-foto yang menarik, serta artikel-artikel singkat mengenai wisata sejarah pabrik gula.

Sales support ini dapat diletakkan di sekitar lokasi wisata, di kantor Biro Pariwisata, travel agency, hotel, tempat-tempat wisata yang lain, universitas, sekolah, Dinas Pariwisata setempat hingga tempat-tempat srategis lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaring sebanyak mungkin wisatawan.

c.         Public Relation

Dalam pengertian sehari-hari, public relation dikenal dengan hubungan masyarakat. Dalam artian luas, public relation ini bertujuan untuk memelihara hubungan dengan dunia luar, serta memberi informasi yang diperlukan kepada masyarakat.

Untuk membuat public relation yang efektif, PTPN X dapat menjalin kerjasama dengan media massa maupun universitas sehingga media massa maupun universitas itu dapat membuat sebuah media informatif seperti travel documentary, press release, pemberitaan, karya tulis, ataupun artikel yang memang secara khusus membahas mengenai wisata sejarah pabrik gula itu. Dengan demikian, masyarakat yang memanfaatkan media informatif sebagaimana di atas dapat mengenal wisata sejarah pabrik gula itu dan memberikan kesan positif terhadapnya.

Sebagai contoh, dewasa ini, pada stasiun TV swasta telah banyak disiarkan acara perjalanan wisata ke daerah atau lokasi wisata tertentu. Dalam acara itu ditayangkan keunikan dan berbagai keunggulan lain sebuah lokasi wisata. Dalam hal seperti inilah public relation memegang peranan penting. Kelak dapat diusahakan agar wisata sejarah pabrik gula itu dapat menjadi objek dokumentasi dalam acara itu sehingga dapat disiarkan secara luas kepada masyarakat. Untuk itu, dibutuhkan komunikasi dan kerja sama yang efektif dengan stasiun TV yang biasa membuat travel documentary itu.

Dalam skala yang lebih kecil, public relation ini dapat melibatkan media cetak seperti koran atau majalah. Sebagaimana diketahui, pada beberapa koran atau majalah seringkali memuat halaman khusus yang membahas mengenai pariwisata. Kelak, dapat diusahakan agar wisata sejarah pabrik gula itu dapat termuat dalam koran atau majalah itu.

F.        Estimasi Manfaat yang Diperoleh atas Pengembangan Wisata Sejarah Pabrik Gula

 1.       Aspek sejarah bagi bangsa Indonesia

Wisata sejarah pabrik gula akan memberikan dampak yang positif bagi pengenalan sejarah bangsa kepada masyarakat. Dalam kerangka berpikir yang lebih luas, pengembangan wisata sejarah pabrik gula itu akan mendukung upaya pendidikan sejarah yang selama ini lebih banyak dilakukan oleh pemerintah melalui sekolah-sekolah. Dengan demikian, pengembangan wisata sejarah pabrik gula itu akan memperkaya khasanah sejarah bangsa Indonesia, sebagai bukti sejarah, dan menjadi salah satu alat untuk menanamkan rasa nasionalisme bagi generasi muda dan masyarakat pada umumnya.

2.       Aspek profitabilitas perusahaan

Bagi perusahaan, pengembangan wisata sejarah pabrik gula merupakan salah satu inovasi bisnis yang akan mendatangkan keuntungan secara ekonomi, selaras dengan usaha utama perusahaan dalam memproduksi gula, dan beberapa produk lainnya.

Jika industri gula mengalami kelesuan, wisata sejarah pabrik gula dapat menjadi salah satu alternatif penyangga keuangan perusahaan sebagai upaya diversifikasi risiko.

3.       Aspek ekonomi masyarakat

Keberadaan lokasi wisata akan mengasilkan efek berganda pada perkenomian masyarakat. Geliat ekonomi masyarakat pun dapat bergerak dengan cukup masif. Masyarakat dapat membuka usaha baru di sekitar lokasi wisata, misalnya dengan berjualan suvenir, makanan, atau oleh-oleh.

Perusahaan bahkan dapat mengalokasikan dana Corporate Social Responsibility (CSR)-nya untuk membina masyarakat sekitar itu dalam bentuk pelatihan usaha guna mendukung daya tarik tempat wisata atau pemberian bantuan dana. Dengan demikian, alokasi dana CSR itu dapat mencapai sasaran yang tepat dengan hasil yang efektif bagi masyarakat sekitar.

G.       Kesimpulan dan Harapan

Melihat segala potensi yang ada, pengembangan wisata sejarah pabrik gula merupakan inovasi bisnis yang layak untuk dikembangkan oleh PTPN X. Namun demikian, hal itu tidak bisa dilakukan secara serta-merta atau tanpa perencanaan yang matang. Perlu dikaji kembali mengenai aspek keuangan, infrastruktur, maupun objek wisata itu sendiri.

Selain itu, perlu juga dilakukan serangkaian upaya kerjasama dengan Pemerintah Daerah setempat, masyarakat, dan pihak-pihak lain yang terkait. Kemitraan itu penting sebagai upaya penyinergian tempat wisata sejarah pabrik gula dengan para stakeholder itu, baik dalam pembangunan, operasional, maupun pemasaran tempat wisata.

Sebagai insan yang menyukai kajian mengenai sejarah, saya berharap pengembangan wisata sejarah itu dapat terealisasikan dengan optimal. Dalam jangka pendek, wisata sejarah itu dapat menjaring wisatawan lokal di sekitar lokasi pabrik gula, sementara dalam jangka panjang, dapat diperluas dengan menjaring wisatawan luar daerah atau bahkan mancanegara.

 *****

Daftar Referensi:

Website:

“Catatan Dahlan Iskan: Semua Luh dan Las sudah Berganti Tus”, http://dahlaniskan.wordpress.com/2012/12/17/semua-luh-dan-las-sudah-berganti-tus/.

“Data Keuangan PTPN X”, http://www.ptpn10.com/Vpage.aspx?mnkanan=true&id=220.

“Gali Potensi Wisata, PTPN X Kembangkan Wisata Sejarah Pabrik Gula”, http://www.ptpn10.com/Berita.aspx?id=673.

“Pelatihan Bisnis Pariwisata bagi Masyarakat”, http://www.ptpn10.com/Berita.aspx?id=824.

“Profil P3GI”, http://sugarresearch.org/index.php/profil.

“PTPN X Kembangkan Wisata Sejarah Pabrik Gula”, http://antarajatim.com/lihat/berita/89745/ptpn-x-kembangkan-wisata-sejarah-pabrik-gula.

“11 Pabrik Gula Jadi Wisata Heritage”, http://www.tribunnews.com/2012/06/16/11-pabrik-gula-jadi-wisata-heritage.

Buku:

DM, Abhisam, dkk. 2011. Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek. Jakarta: Penerbit Kata-Kata.

Hafsah, Mohammad Jafar. 2002. Bisnis Gula di Indonesia. Jakarta: Sinar Harapan.

Khudori. 2005. Gula Rasa Neoliberalisme: Pergumulan Empat Abad Industri Gula. Jakarta: LP3ES.

Yoeti, A. Okta. 1996. Pemasaran Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.

Yoeti, A. Okta. 1996. Pengantar Ilmu Pariwisata. Bandung: Penerbit Angkasa.

Undang-Undang Nomor 10 tahun 2009 tentang Kepariwisataan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s