Hutanku Dibabat, Mata Airku Lenyap

http://www.voaindonesia.com/content/bantuan-pemerintah-atasi-rawan-pangan-dan-kekeringan-130065648/98329.html
http://www.voaindonesia.com/content/bantuan-pemerintah-atasi-rawan-pangan-dan-kekeringan-130065648/98329.html

Yogyakarta,  Agustus 2040…

Sudah begitu lama aku tak menginjakkan kakiku di kota kelahiranku ini. Rasa-rasanya kota ini telah semakin panas saja. Tak ada pepohonan di bukit itu, tak ada taman hijau di pusat kota, tak ada lagi kicauan burung di pepohonan. Secara ekonomi kota ini memang semakin maju, namun tidak secara ekologi.

Ayah dan ibu memboyongku menuju Inggris sejak 28 tahun yang lalu. Kala itu, ayah tengah berpindah dinas kesana, melanjutkan pekerjaannya sebagai duta PBB yang menangani lingkungan hidup. Sampai ayah pensiun, kami tetap tinggal disana hingga aku pun memiliki kewarganegaraan ganda.

Aku meneruskan pekerjaan ayah, sama-sama bekerja untuk PBB. Kami memang sama-sama berjiwa aktivis. Hanya saja, fokusku lebih banyak tertuju pada pengembangan pendidikan dunia.

PBB mengutusku untuk berkunjung ke Indonesia selama dua bulan ke depan. Beruntung, aku masih sangat fasih berbahasa Indonesia dan bahkan bahasa lokal, Jawa.

Hari ini adalah jadwalku berkunjung ke sebuah sekolah di pinggiran selatan Gunung Kidul. Sesuai dengan jadwal yang aku terima dari koordinator, aku diminta untuk mengajar anak-anak sekolah dasar di sebuah desa. Aku begitu bersemangat.

Aku berangkat pagi-pagi, menghindari kemacetan, pekatnya debu, dan panasnya matahari. Dua jam lebih perjalanan yang mesti aku tempuh.

Tepat pukul 8, aku sudah ada di ruangan kelas yang mesti aku ajar. Anak-anak telah menantiku.

Aku berdiri di depan anak-anak polos itu. Aku pandangi wajah mereka satu demi satu. Jumlahnya dua puluh murid, sesuai dengan yang tertera dalam daftar absensi siswa di mejaku. Sebelas orang laki-laki dan sembilan orang perempuan. Mereka semua duduk di kursinya masing-masing dengan tangan bersedekap di meja. Hari ini aku mulai mengajar disini. Di sekolah di atas tanah yang tandus ini.

Ada rasa nostalgia muncul kembali dalam benakku. Aku ingat, aku pun pernah berseragam merah putih sebagaimana mereka. Aku ingin berinteraksi dengan mereka, mengamati keadaan pendidikan di kawasan selatan ini.

Aku perkenalkan diriku kepada murid-murid yang lugu itu. Aku panggil nama mereka satu demi satu, mereka mengacungkan tangan setiap kali aku memanggil nama mereka.

Air, tema pelajaran yang akan aku ajarkan pada pada anak kelas 5 sekolah dasar itu. Sebuah tema yang merupakan bagian dari mata pelajaran sains.

Berbagai macam seluk beluk mengenai air aku ajarkan kepada murid-murid baruku. Sifat-sifat air, manfaat air, perubahan wujud air, dan siklus air adalah yang utama.

Aku ajarkan mereka dengan semangat yang aku punya layaknya seorang guru. Mereka pun terlihat serius dengan apa yang aku ajarkan. Aku terus melaju.

Wajah-wajah mereka kelihatan kosong ketika melihat presentasi demi presentasi yang aku tampilkan. Aku tampilkan aneka gambar dan video agar mereka tertarik dengan metode pengajaran yang aku berikan.

Namun, benarkah mereka tertarik dengan presentasiku? Mengapa mereka justru kelihatan bingung dan bukan antusias?

Aku lanjutkan presentasiku di depan mereka. Aku terus berbicara di depan mereka. Hingga tiba-tiba, seorang murid laki-laki yang duduk di pojokan kelas mengacungkan tangannya kemudian bertanya kepadaku.

“Pak Guru, tadi Bapak bilang kalau jumlah air di bumi itu tetap, tapi kenapa Tuhan tidak adil membagi air itu? Kenapa di tempat kami jarang ada air, tidak seperti dengan gambar-gambar yang Bapak tampilkan itu?”

Aku terdiam. Aku tak menyangka bahwa gambar-gambar yang aku tampilkan di depan mereka itu telah menyentuh dan menyinggung mereka. Aku lupa bahwa mereka selama ini telah mengalami betapa sulitnya mereka untuk mendapatkan air. Sementara berkebalikan dengan itu, aku telah menampilkan berbagai gambar yang menunjukkan melimpahnya air di Inggris, negeri keduaku. Aku lupa bahwa sebagian besar dari mereka pasti tidak mandi pagi tadi, karena minimnya cadangan air yang mereka punya.

Benar bahwa sesuai dengan yang aku dapati dari sekolah dulu, jumlah air adalah relatif tetap. Air hanya mengalami siklus, berubah wujud menjadi gas, terkumpul di langit dalam bentuk awan, diterbangkan oleh angin, kemudian turun kembali menjadi air dalam bentuk hujan. Tapi, masalahnya, kenapa ada tempat-tempat yang kaya akan air, sementara di tempat lain terjadi kelangkaan? Kenapa ada tempat-tempat yang sering mengalami kekeringan, sementara di tempat lain justru mengalami kebanjiran?

Aku berusaha menghibur mereka.

“Anak-anak, Tuhan itu Maha Adil. Ia hanya ingin kita berusaha keras, termasuk untuk mendapatkan air itu.”

Jawabanku masih terlalu abstrak, aku yakin itu tidak mengena nalar mereka.

“Anak-anak, satu hal yang membuat tempat-tempat yang bapak gambarkan tadi melimpah dengan air bersih hanya satu. Ia adalah hutan. Jika ada hutan yang lebat, maka percaya lah, disitu akan tersedia mata air yang bersih dan melimpah. Maka dari itu, jika kita ingin agar tanah-tanah kita ini mengeluarkan mata air yang banyak, mau tidak kita mesti menanami tanah-tanah yang kosong itu dengan pepohonan.”

Aku buka file-file yang aku punya mengenai keadaan hutan di Indonesia. Di Indonesia, pada tahun 2040 ini, hutan telah mengalami kerusakan yang sangat parah. Sebagai akibatnya, bencana pun seringkali datang, mata air mengering, petani gagal panen. Sementara di kala hujan, banjir justru terjadi.

Beruntung aku termasuk pemerhati hutan makanya aku memiliki cukup data mengenai parahnya kerusakan hutan di Indonesia. Aku tampilkan beberapa foto dan data sederhana mengenai kerusakan hutan itu. Berharap mereka akan memahami.

Beberapa mengangguk, beberapa yang lain masih memberikan tatapan kosong. Aku tahu, kerusakan hutan juga telah melanda kawasan ini. Di sisi yang lain, keadaan tanah yang tersusun atas batu kars telah menjadikan air tak terserap dalam tanah-tanah di kawasan pegunungan ini. Air langsung saja mengalir, membanjiri kawasan utara yang lebih rendah.

Sementara itu, kawasan lain di sekitarnya yang sedikit lebih subur telah mengalami kegundulan. Pada beberapa tempat, justru terjadi penambangan batu kars itu oleh masyarakat setempat yang juga telah merusak hutan di sekitarnya.

Aku buka kembali data yang aku dapati dari ayahku. Sebagai seorang aktivis, ayah memiliki cukup data yang selalu ia simpan dengan rapi dalam file. Mataku tertuju pada file bernama Indonesia-2012-hutan. Aku merujuk data 28 tahun silam yang dicatat oleh ayahku.

Disebutkan dalam file itu bahwa kerusakan hutan di Indonesia telah terjadi dengan sangat masif sejak awal era reformasi dan berlanjut hingga kini. Data tahun 2012 menyebutkan bahwa kerusakan hutan yang terjadi di negara ini sebesar 300 ribu hektare per tahun.

Di Gunung Kidul sendiri, berdasarkan data itu, pada tahun 2012 masih terdapat sekitar 14.900 hektare hutan negara yang difungsikan sebagai hutan lindung, suaka margasatwa, serta hutan produksi. Hutan rakyat mendominasi sebesar 35.400 hektare.

Namun kerusakan terus saja terjadi. Kini, 28 tahun berlalu, hampir semua hutan telah menggundul, ditebang tanpa ditanami kembali.

Kerusakan hutan yang terjadi di negara ini seringkali memicu dua bencana dalam dua musim yang berbeda. Di kala musim hujan, akan banyak terjadi banjir pada beberapa tempat di Indonesia oleh karena kawasan hutan tidak bisa lagi menampung air yang turun dari langit, sementara di kala musim kemarau, akan menjadikan tempat-tempat di sekitar hutan yang mengalami kerusakan itu mengalami kesulitan air hingga terjadi kekeringan.

Dua bencana itu, efeknya sungguh sangat besar bagi kehidupan. Ia telah menimbulkan dampak kerugian sosial dan ekonomi. Indonesia tengah mengalami kesulitan air bersih. Lahan pertanian mengalami gagal panen. Yang parah, bencana itu telah juga memakan korban jiwa.

Kini, di Gunung Kidul sendiri, beberapa mata air justru telah berhenti memancarkan airnya. Sebuah pertanda bahwa daerah ini telah semakin menandus saja. Tak mungkin mata air itu akan kembali basah jika tidak diikuti dengan konservasi hutan dan perawatan yang intensif dari pemerintah dan warga setempat.

Aku jelaskan pula kepada anak-anak itu mengenai kekeringan yang juga terjadi di tempat-tempat lain di Indonesia. Sumatera, Kalimantan, dan Nusa Tenggara pun mengalami hal serupa ketika musim kemarau tiba. Sementara di musim hujan, tempat-tempat itu justru mengalami hal yang sebaliknya. Terkena serangan banjir bandang yang datang dari gunung-gunung yang menggundul, longsor di perbukitan, atau terendam genangan air yang tak mampu diserap tanah.

Semua bencana itu terjadi karena keserakahan manusia-manusia Indonesia yang tak mau bersahabat dengan hutan. Indonesia yang kata ayahku dahulu merupakan paru-paru dunia berkat luasnya hutan hijau yang dimiliki, kini menjadi pasien rutin PBB yang membutuhkan bantuan makanan hingga bahkan pasokan air bersih.

Begitulah yang terjadi pada negeri kelahiranku di tahun 2040 ini.

***

Pelajaranku telah bergeser menjadi pelajaran seputar hutan, tak lagi berfokus pada air. Tapi, bagaimanapun, hutan adalah rumahnya air bersih. Hutan adalah sumber mata air. Jadi, ketika berbicara dengan sumber air, maka kita tidak bisa melepaskannya dari kondisi hutan di sekitarnya.

Aku pandangi kembali wajah-wajah murid-murid itu. Mudah-mudahan mereka tidak tengah mendendam kepada para pendahulu mereka yang telah merusak alam dan mewariskan derita kepada mereka.

Setengah jam lebih aku menerangkan itu kepada murid-murid. Mereka nampak manggung-manggut, entah memahami apa yang aku bicarakan atau tidak. Satu hal yang pasti, aku berharap, kelak mereka akan menjadi patriot di tempat ini, merawat dan menghijaukan desa ini, guna mendapatkan pasokan air yang melimpah sebagaimana yang mereka harapkan.

Andai saja aku bisa kembali ke masa 28 tahun silam, saat dimana kerusakan hutan di negeri ini belum begitu menyeluruh, aku akan berteriak sekeras mungkin memperjuangkan pelestarian hutan dan sumber mata air di bumi kelahiranku ini. Sayang, aku tak punya mesin waktu. Aku menyesal kenapa tahun 2012 dulu telah meninggalkan negeriku. Ayahku pun pasti tengah merasakan hal yang sama sebagaimana diriku. Aku mengumpat dalam hati, kenapa pendahulu murid-murid itu begitu rakus memakan bumi? Kenapa mereka tak memikirkan masa depan anak cucu mereka sendiri? Kenapa mereka wariskan rusaknya alam itu kepada anak cucu mereka? Kenapa mereka tak merawat alam untuk generasi selanjutnya?

Bel istirahat berbunyi. Aku berhenti berceramah. Aku persilakan murid-murid itu keluar kelas untuk beristirahat. Aku duduk di kursiku, mengingat betapa serakahnya para pendahulu anak-anak itu. Apa yang aku ajarkan pada hari pertama itu, sudah terlalu banyak melenceng dari apa yang aku rencanakan malam tadi.

Fotok kerusakan hutan di Indonesia. http://pahlawanlangitbiru.wordpress.com/2012/04/22/hari-bumi-sebuah-refleksi-kehidupan/
Foto kerusakan hutan di Indonesia. http://pahlawanlangitbiru.wordpress.com/2012/04/22/hari-bumi-sebuah-refleksi-kehidupan/
http://kholidazia.student.umm.ac.id/2010/07/08/penggundulan-hutan-tak-dapat-dihindari/
http://kholidazia.student.umm.ac.id/2010/07/08/penggundulan-hutan-tak-dapat-dihindari/

*****

## Gambaran kisah di atas adalah bayangan buruk saya jika kita tidak mau lagi bersahabat dengan lingkungan. Anak cucu kita yang akan mewarisi deritanya. Bukan indahnya alam dan melimpahnya sumber daya yang kita persembahkan untuk mereka, tapi justru keadaan yang sebaliknya.

Air adalah salah satu sumber kehidupan yang utama bagi kita. Bagaimana tidak, sekitar 80% tubuh kita sendiri tersusun atas air. Berkurang sedikit saja, kita akan merasa haus. Berkurang lebih banyak lagi, kita akan terkena dehidrasi yang bisa mengancam kehidupan kita.

Air, selain kita gunakan untuk minum, juga banyak kita gunakan untuk keperluan lain, dari hal mikro semisal masak, mencuci, mandi, menyiram tanaman, hingga hal makro semisal pembangkit listrik, irigasi pertanian, hingga peternakan. Peran air bagi kehidupan, tak akan pernah bisa tergantikan. Kita mutlak membutuhkannya.

Satu hal yang patut membuat kita khawatir adalah jika air itu tak tersedia lagi di sekitar tempat kita hidup. Ini berarti sebuah ancaman terhadap kehidupan telah menghampiri kita. Hal demikian terkadang masih mewarnai kehidupan bangsa kita, terlebih di kala musim kemarau. Gunung Kidul dan Nusa Tenggara Timur adalah yang paling sering terlanda kekeringan itu.

Di sisi yang lain, tempat-tempat rendah seperti Jakarta, Semarang, dan beberapa kota di Sumatera, seringkali terendam banjir di kala musim hujan. Ini artinya telah terjadi sebuah kondisi yang paradoks di negara kita.

Pada negara tropis seperti Indonesia, saya meyakini bahwa ada hubungan yang nyata antara kondisi hutan dengan pasokan air di sekitarnya. Jika kondisi hutan bagus, bisa dipastikan pasokan air di sekitarnya pun akan bagus dan teratur. Tak ada kata kekeringan, tak ada pula kata banjir bandang. Sebaliknya, jika kondisi hutan telah rusak, keteraturan pasokan air di sekitarnya pun akan terganggu, di kala musim kemarau akan kekeringan, dan di kala musim hujan akan kebanjiran. Hutan adalah penyimpan, pengatur, dan penyaring pasokan air di bumi kita.

Tak mungkin kita bisa melestarikan air di tanah-tanah kita, jika kita tidak memulainya dengan merawat hutan. Jika kita ingin Gunung Kidul terbebas dari kekeringan di musim kemarau suatu saat kelak, sementara kota-kota di sebelah utaranya terbebas dari banjir di musim hujan, hutan di Gunung Kidul lah yang mesti terlebih dahulu kita jaga. Jika kita ingin Bogor terbebas dari kekeringan di musim kemarau suatu saat kelak, sementara Jakarta terbebas dari banjir di musim hujan, kita harus memulai dari kondisi hutan di kawasan Bogor. Kita harus mulai merawatnya dari hulu, dari hutan-hutan pegunungan yang menyediakan sumber mata air bagi kita.

Masalahnya, kerusakan hutan terus saja terjadi. November lalu, misalnya diperkirakan bahwa kerusakan hutan yang terjadi di negara kita sebesar 300 ribu hektare per tahun. Pada awal era reformasi, kerusakan hutan itu bahkan diperkirakan sebesar 3,5 juta hektare pertahunnya. Kini, hutan primer yang tersisa di Indonesia hanya sekitar 64 juta hektare saja.

Namun begitu, perkiraan angka kerusakan hutan itu berbeda antar beberapa pihak yang melakukan pengamatan. Bank Dunia memperkirakan bahwa angka kerusakan hutan di Indonesia itu berkisar antara 700 ribu hingga 1,2 juta hektare pertahun. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sebesar 1.315.000 hektare pertahun, sementara Greenpeace memperkirakan angka kerusakan yang jauh lebih besar lagi, yakni sebesar 3,8 juta pertahun.

Apapun itu, semuanya sepakat bahwa kerusakan hutan itu merupakan sesuatu yang sangat berbahaya apabila dibiarkan begitu saja. Tanpa ada upaya yang serius dari para pihak yang terkait, bukan tidak mungkin hutan di Indonesia akan habis dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Ini berarti, sebagai dampak ikutannya, kelak kita juga akan mengalami krisis sumber mata air alami yang merupakan media bagi kita untuk memenuhi kebutuhan akan air yang bersih dan sehat.

Sejatinya, hutan dan mata air selalu bersahabat. Jika hutan itu lebat, mata air akan banyak. Jika hutan itu dibabat, mata air pun akan lenyap. Jika hutan habis ditebang, maka mata air pun akan menghilang.

Maka dari itu, jika kita ingin anak cucu kita hidup tanpa kekurangan air, mari kita jaga hutan kita. Jika kita ingin anak cucu kita kita aman dari bencana banjir, mari kita jaga hutan kita.

Upaya perawatan hutan merupakan sebuah langkah strategis untuk mengamankan pasokan air dari aspek hulu. Namun begitu, tata kelola air dari aspek hulu ini, bukan berarti mengabaikan begitu saja aspek-aspek lain pada sektor hilir, semisal penjagaan air dari pencemaran limbah dan sampah, hingga upaya penghematan penggunaan air. Kesimpulannya, tata kelola air itu, mesti lah terintegrasi dari sektor hulu terkait pasokan (dalam hal ini adalah kondisi hutan), hingga sektor hilir terkait kebersihan dan upaya penghematan air.

Terkait pasokan, pemeliharaan hutan adalah langkah yang utama. Terkait dengan  kebersihan, menghentikan pencemaran air dengan mengelola limbah dan sampah adalah dua hal yang perlu dilakukan. Jangan sampai sampah dan limbah memenuhi saluran-saluran air kita yang tak hanya akan mencemari perairan kita, tetapi juga memicu terjadinya banjir di sekitar kita. Sementara terkait dengan penggunaan, penghematan air juga mesti kita canangkan.

Mari, kita turut berpartisipasi menjaga kelestarian hutan. Kita tanami lahan-lahan kosong yang kita punya dengan pepohonan. Kita ikuti program one man one tree yang seringkali diadakan oleh berbagai pihak. Kita awasi praktik pengelolaan hutan di sekitar kita. Kita kritisi jika memang ada indikasi praktik pengelolaan hutan yang tak selaras dengan upaya pelestarian hutan.

Mari, kita jaga kebersihan lingkungan kita. Jangan sampai kita membuang sampah secara sembarangan. Jangan cemari lingkungan kita. Jangan cemari perairan kita.

Mari, kita hemat penggunaan air. Jangan manja dengan pasokan air yang masih melimpah. Jangan arogan dalam menggunakan air meski memang kita mampu untuk membayarnya kepada perusahaan penyedia pasokan air. Gunakan air seperlunya saja. Matikan kran air jika sudah selesai kita gunakan.

Semua itu, demi lestarinya sumber air kita. Demi anak cucu kita.

Demikian. Semoga tulisan ini bermanfaat.

*****

Sumber referensi:

http://www.antaranews.com/berita/264395/laju-kerusakan-hutan-capai-07-juta-hektar

http://www.pusdalhutreg2.org/index.php?option=com_content&view=article&id=234:kepedulian-warga-rendah-hutan-gunungkidul-terancam&catid=56:di-jogjakarta&Itemid=82

http://www.tekmira.esdm.go.id/currentissues/?p=2187

http://www.republika.co.id/berita/nasional/jawa-tengah-diy-nasional/12/04/24/m2z0ro-delapan-telaga-di-gunungkidul-kering

http://jogja.tribunnews.com/2012/09/21/217-telaga-di-gunungkidul-kering

http://timorexpress.com/index.php/index.php?act=news&nid=49386

http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/11/163868/Kerusakan-Hutan-di-Jambi-Mencapai-30-Persen/6

http://www.padangmedia.com/1-Berita/77696-Kerusakan-Hutan-di-Indonesia-300-Ribu-Hektar-Pertahun.html

http://www.bisnis-jatim.com/index.php/2012/11/25/kerusakan-hutan-obral-izin-serikat-tani-tuding-menhut-ikut-merusak-hutan/

http://www.irwantoshut.net/kerusakan_hutan_indonesia.html.

2 thoughts on “Hutanku Dibabat, Mata Airku Lenyap

  1. bagus banget tulisannya. Ngeri ya membayangkan kondisi masa depan kalau skrg kita tdk aware terhadap sumber daya air.
    salam kenal mas. ijin masukin blognya ke blog list ku🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s