Mari Bersahabat dengan Hutan: Lestari Hutanku, Lestari Mata Airku, Lestari Hidupku

http://indonesiapesat.blogspot.com/2010_05_01_archive.html
http://indonesiapesat.blogspot.com/2010_05_01_archive.html

Sahabat, kita semua tahu bahwa air adalah salah satu sumber kehidupan yang utama. Tubuh kita sendiri, sekitar 80 persennya tersusun atas air. Tanpa air, tak akan ada lagi kehidupan di bumi kita ini.

Ketika SMA dulu, mungkin kita semua pernah mendengar bahwa jumlah air yang terkandung di bumi adalah tetap, tidak berkurang dan tidak bertambah. Argumentasinya simpel saja, air itu hanya mengalami siklus.

Sederhananya begini, air akan mudah menguap jika terkena panas. Ia akan berubah wujud menjadi gas yang terbang membentuk awan dan berkumpul di langit. Selanjutnya, awan-awan yang telah terkumpul dalam jumlah banyak itu akan mencair dan turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Begitu seterusnya.

Siklusair

Siklus Air, gambar diunduh dari wikipedia.com
Siklus Air. Gambar diunduh dari wikipedia.com

Masalahnya, jika memang jumlah air itu tetap, kenapa kita mesti khawatir bahwa kita akan mengalami kelangkaan air?

Problemnya ternyata tidak sesimpel itu. Boleh kita meyakini bahwa jumlah air di bumi itu tidak akan berkurang. Hanya saja, yang lebih penting untuk kita cermati adalah bagaimana distribusi air di muka bumi sehingga kita dapat dengan mudah mengaksesnya.

Aksesabilitas air itu ditentukan oleh seberapa mudah kita untuk mendapatkan air yang akan kita gunakan untuk berbagai keperluan. Kita semua menginginkan bahwa akses akan air itu sedapat mungkin bisa dengan mudah kita jangkau.

Ditilik dari aspek aksesabilitas akan air itu, bagaimana yang kini terjadi di bumi pertiwi kita?

Berbagai macam literatur menunjukkan bahwa kondisi sumber air di Indonesia semakin mengering seiring dengan berjalannya waktu. Beberapa mata air pada sejumlah tempat yang dulunya merupakan “sarang air” nampak mulai berhenti mengalirkan air, menyusut, dan semakin mengering dari waktu ke waktu.[1]

Pada saat musim kemarau, kita sering mendengar pemberitaan mengenai bencana kekeringan pada beberapa tempat di penjuru tanah air kita. Paradoks dengan itu, pada musim hujan, kita justru sering mendengar bahwa telah terjadi banjir pada beberapa wilayah di negara kita. Ini artinya, ada distribusi air yang tidak berimbang di bumi kita di kala kita mengalami dua musim yang berbeda itu.

Baik itu kekeringan maupun banjir, dua-duanya adalah bencana yang sangat berlawanan. Ketika kita kekeringan, berarti kita tengah kekurangan air, sementara ketika kita kebanjiran, berarti kita tengah mendapati kelebihan pasokan air. Pertanyaannya, kenapa dua bencana itu bisa terjadi di negara kita?

http://www.pikiran-rakyat.com/node/202010
http://www.pikiran-rakyat.com/node/202010
http://nurul-veranurul.blogspot.com/2009/11/banjir-bandang.html
http://nurul-veranurul.blogspot.com/2009/11/banjir-bandang.html
Dua kondisi yang bertolak belakang. Ketika musim kemarau sejumlah tempat mengalami kekeringan, sementara pada musim hujan, beberapa tempat terjadi banjir bandang.

Mari Kita Lestarikan Hutan

Hutan adalah ekosistem yang semestinya menjadi sahabat kita yang harus kita jaga dan kita lestarikan keberadaannya. Manfaat hutan itu sungguh luar biasa bagi kita. Hutan adalah penyeimbang kehidupan, buffer, penyedia pasokan oksigen sebagai senyawa yang kita butuhkan untuk bernafas, serta penyeimbang ketersediaan sumber air bagi kita.

Sebagai penyeimbang ketersediaan air itu, hutan berperan besar untuk mengatur distribusi air secara alamiah. Ketika musim hujan tiba, hutan akan menyimpan air hujan yang turun dari langit di dalam tanah. Keberadaan pohon-pohon yang besar dengan akar-akarnya yang dalam akan menjadi penyimpan air yang efektif yang akan menghasilkan mata air. Tanah dan akar-akar itu selanjutnya akan menjadi media penyaring bagi air yang ditampungnya dan menjadikan air itu menjadi jernih dan bersih. Pada musim kemarau, air yang tersimpan dalam jumlah melimpah di hutan-hutan itu akan tetap mengalir dan memenuhi kebutuhan kita.

Namun sayangnya, hutan-hutan yang semestinya menjadi sahabat kita itu kini nampak semakin menggundul saja. Kondisi hutan di Indonesia telah mengalami kerusakan secara masif dan berlangsung terus-menerus. Penyebabnya adalah keserakahan kita semua yang tak mau bersahabat dengannya.

Kerusakan hutan itu terjadi sebagai akibat penebangan yang terus saja dilakukan sementara reboisasi tidak segera digalakkan. Pada beberapa tempat telah terjadi alih fungsi hutan menjadi lahan-lahan industri dan pertanian, beberapa yang lain sengaja dibakar dan dibalak oleh pihak-pihak tertentu demi menuruti keserakahan pihak-pihak itu.

Kerusakan hutan itu tak hanya mengancam ketersediaan mata air sebagai sumber air alami bagi kita, tetapi juga telah mengundang datangnya berbagai macam bencana. Seperti yang saya jelaskan tadi, bencana itu berupa kekeringan pada musim kemarau, semakin merebaknya polusi udara, serta bencana banjir pada musim hujan.

November lalu, misalnya diperkirakan bahwa kerusakan hutan yang terjadi di negara kita sebesar 300 ribu hektare per tahun. Angka ini sudah jauh menurun daripada tahun-tahun sebelumnya. Pada awal era reformasi, kerusakan hutan itu diperkirakan sebesar 3,5 juta hektare pertahunnya. Kini, hutan primer yang tersisa di Indonesia hanya sekitar 64 juta hektare saja.[2]

Namun begitu, perkiraan angka kerusakan hutan itu masih fluktuatif. Bank Dunia memperkirakan bahwa angka kerusakan hutan di Indonesia itu berkisar antara 700 ribu hingga 1,2 juta hektare pertahun. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan sebesar 1.315.000 hektare pertahun, sementara Greenpeace memperkirakan angka kerusakan yang jauh lebih besar lagi, yakni sebesar 3,8 juta pertahun.[3]

Apapun itu, semuanya sepakat bahwa kerusakan hutan itu merupakan sesuatu yang sangat berbahaya apabila dibiarkan begitu saja. Tanpa ada upaya yang serius dari para pihak yang terkait, bukan tidak mungkin hutan di Indonesia akan habis dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan. Ini berarti, sebagai dampak ikutannya, kelak kita juga akan mengalami krisis sumber mata air alami yang merupakan media bagi kita untuk memenuhi kebutuhan akan air yang bersih dan sehat.

gambar-foto-kerusakan-hutan-6gambar-foto-kerusakan-hutan-12
http://alamendah.wordpress.com/2011/02/13/gambar-kerusakan-hutan-foto-kerusakan-hutan/#
http://hermawanituboim.blogspot.com/2011/06/fakta-50-lebih-hutan-indonesia-rusak.html
http://hermawanituboim.blogspot.com/2011/06/fakta-50-lebih-hutan-indonesia-rusak.html
Potret kerusakan hutan di Indonesia yang tak hanya mengancam kelestarian ekosistem, tetapi juga mengundang bencana kekeringan dan banjir.

Miris bukan ketika kita melihat data dan gambar-gambar di atas?

Lalu, apa yang semestinya kita lakukan untuk menjaga kelestarian hutan itu?

Untuk menjaga ketersediaan sumber air, sudah semestinya kita memperhatikan aspek hulu, yaitu keberadaan hutan itu sendiri.

Bagi kita rakyat biasa yang tidak bisa membuat kebijakan apapun terhadap pengelolaan hutan itu, kita hanya bisa berharap dari keseriusan pemerintah dalam menjaga hutan kita. Pemerintah selaku wakil kita semestinya dapat dengan mudah merumuskan dan melaksanakan serangkaian kebijakan untuk menjaga hutan kita itu.

Bagaimanapun, dalam filosofi ketatanegaraan kita, hutan merupakan bagian dari bumi kita yang dikuasai oleh negara. Apabila kita kaitkan hutan itu dengan air, maka akan semakin kelihatan saja betapa negara sangat menguasai hutan dan air itu. “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat,” begitu bunyi pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar negara kita.

Proses penjagaan hutan itu sebenarnya sudah ada payung hukumnya. Selain telah tercantum dalam konstitusi kita, pengaturan hutan itu juga telah dijabarkan lebih lanjut dalam berbagai peraturan perundang-undangan, yakni melalui Undang-Undang Kehutanan serta beberapa peraturan pelaksanaannya. Maka dari itu, secara hukum, negara kita pada dasarnya telah memiliki dasar yang kuat untuk menjaga kelestarian hutan itu. Tinggal kita mau serius untuk menjalankannya atau tidak.

Reboisasi merupakan hal yang urgen untuk dilakukan jika kita benar-benar ingin agar hutan kita terus lestari. Pada sisi yang lain, sudah semestinya negara kita menghentikan konsesi-konsesi di sektor kehutanan yang membuka peluang bagi masyarakat untuk merambah dan mengeksploitasi hutan.

Penegakan hukum terhadap kasus pembalakan liar juga mesti terus digalakkan. Tidak boleh ada pembalakan liar lagi di hutan-hutan kita. Pelaku pembalakan liar harus dihukum seberat-beratnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Bagi kita para blogger, mari kita sama-sama mengawasi pelaksanaan perlindungan hutan kita itu sesuai dengan kemampuan kita. Jika di sekitar kita masih terjadi praktik-praktik pengelolaan hutan yang tidak sehat atau pembalakan hutan, mari kita sama-sama kritisi, mari kita laporkan kepada aparat.

Di sisi yang lain, mari kita sama-sama turut aktif untuk memelihara hutan itu. Jika ada kesempatan program satu orang satu pohon, mari kita ikuti program itu dengan senang hati. Demi hutan kita yang lestari.

Bagi para blogger yang memiliki lahan-lahan yang terbengkalai, dapat segera menanami lahan-lahan itu dengan berbagai pohon yang bermanfaat.

Sementara itu, untuk menghindari kebakaran hutan yang seringkali terjadi pada musim kemarau, kita mesti berhati-hati jika tengah melewati jalanan di sekitar hutan, mari kita hindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan itu. Para blogger perokok jangan sampai membuang punting rokoknya di sekitar hutan.

Untuk melestarikan sumber air, adalah sesuatu yang mustahil jika kita tidak mulai mengelolanya dari aspek hulu, yakni dari hutan-hutan yang merupakan bendungan dan penyaring alamiah air yang turun dari langit itu. Mari kita jaga hutan kita, mari lestarikan hutan kita, demi kelangsungan hidup kita, demi anak cucu kita.

Persahabatan antara http://www.panoramio.com/photo/45954954
Persahabatan antara hutan dengan mata air. Gambar diunduh dari  http://www.panoramio.com/photo/45954954
Hutan adalah rumah sumber mata air. Gambar diunduh dari http://cepublora.blogspot.com/2012/08/mata-air-hutan-giyanti-sambong-cepu.html
Hutan adalah rumah sumber mata air. Gambar diunduh dari http://cepublora.blogspot.com/2012/08/mata-air-hutan-giyanti-sambong-cepu.html

Mari Menghemat Penggunaan Air

http://www.ecopromotionsonline.com/products_details.cfm?prod_id=563&category=Conservation%2CTags%20%26%20Pins%2CTrade%20Show
http://www.ecopromotionsonline.com

Jika pelestarian hutan merupakan sebuah upaya menjaga ketersediaan sumber mata air, bukan berarti kita boleh menggunakan air yang telah ada dalam bak-bak penampungan kita dengan sewenang-wenang. Kita juga mesti berusaha agar penggunaan air itu dapat kita lakukan dengan sehemat mungkin, sesuai dengan kebutuhan kita.

Jangan mentang-mentang kita membayar pasokan air itu kepada perusahaan penyedia air, kita boleh seenaknya menggunakan air itu untuk hal-hal yang sebenarnya tidak penting. Saya sendiri pernah menegur seorang kawan yang menggunakan air secara semena-mena untuk dia mandi hingga bahkan berwudhu.

Ketika kita mandi atau berwudhu atau apapun, gunakanlah air yang ada itu secukupnya saja, tak perlu berlebihan. Sisa air wudhu yang tidak begitu kotor, misalnya, bisa kita kumpulkan untuk kita gunakan menyiram tanaman-tanaman di halaman rumah kita.

Hijau Hutanku, Bening Airku, Lestari Hidupku

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_berbak.htm
Kondisi hutan dan mata air yang ideal. http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_berbak.htm

Upaya pelestarian sumber air itu hendaknya terintegrasi dari hulu hingga ke hilir. Dari aspek hulu, keberadaan hutan adalah kuncinya, sementara dari aspek hilir, kita sendiri sebagai konsumen air adalah pihak penentunya.

Semua itu sangat bergantung pada diri kita. Kerusakan hutan selalu disebabkan oleh manusia, pemborosan air juga disebabkan oleh manusia. Pelestarian hutan ada di tangan kita, penghematan air juga ditentukan oleh kita. Tak mungkin hutan akan melestarikan dirinya sendiri sementara kita terus merusaknya. Tak mungkin sumber air itu akan terus lestari jika bukan kita sendiri yang merawatnya.

Hijau hutanku, bening dan melimpah airku, maka lestarilah hidupku.

Demikian. Semoga bermanfaat!

*****

Catatan kaki:

[1] http://www.pikiran-rakyat.com/node/198723, 7 Agustus 2012;

http://kecamatankertek.blogspot.com/2012/09/25-mata-air-pdam-terus-menyusut.html; 7 September 2012;

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2012-09-17/146679/Lumajang_Utara_Kekeringan,_Air_di_Tiga_Ranu_Menyusut_1_Meter, 17 September 2012;

http://www.ciputranews.com/ibu-kota-daerah/debit-air-menyusut-hingga-50-persen; 22 November 2012;

[2]   http://www.metrotvnews.com/read/newsvideo/2012/11/11/163868/Kerusakan-Hutan-di-Jambi-Mencapai-30-Persen/6, 11 November 2012;

http://www.padangmedia.com/1-Berita/77696-Kerusakan-Hutan-di-Indonesia-300-Ribu-Hektar-Pertahun.html, 25 November 2012;

http://www.bisnis-jatim.com/index.php/2012/11/25/kerusakan-hutan-obral-izin-serikat-tani-tuding-menhut-ikut-merusak-hutan/, 25 November 2012;

[3]  http://www.irwantoshut.net/kerusakan_hutan_indonesia.html.

7 thoughts on “Mari Bersahabat dengan Hutan: Lestari Hutanku, Lestari Mata Airku, Lestari Hidupku

    • Semoga.. tak mungkin alam kita lestari tanpa memelihara hutan. tak mungkin ada pasokan oksigen yg melimpah tanpa melibatkan hutan. tak mungkin sumber mata air akan lestari tanpa memulainya dgn merawat hutan.😀

  1. agree with this.. gak mungkin bisa nglestariin sumber air tanpa nglestariin hutan terlebih dulu. logikanya emang gitu. gini ini yg gue suka, nulis gak sekadar banyak, tp jg pake logika sebab akibat dan asal muasal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s