Guru sebagai Pahlawan Antikorupsi

diunduh dari http://neuroanthropology.net

Sebagian besar orang, ketika mendengar kata pahlawan, asosiasi yang muncul dalam pikirannya adalah seorang pejuang. Seorang pejuang harus bertempur di medan perang, atau melakukan perjuangan lain dalam upaya mempertahankan kedaulatan bangsa. Pahlawan, dalam masa lalu identik dengan masa penjajahan. Namun kini, setelah bangsa Indonesia merdeka, filosofi pahlawan sudah semestinya diperluas.

Pada dasarnya, jika kita menilik ke masa lalu, bangsa Indonesia telah mengenal beberapa sosok pendidik yang juga diakui perannya sebagai pahlawan nasional. Paling tidak, satu sosok yang paling dikenal diantara mereka adalah Ki Hajar Dewantara.

Dahulu, penduduk pribumi jelata harus menerima perlakuan diskriminatif sebagai akibat penjajahan Belanda. Perlakuan diskriminatif ini tidak hanya dalam bidang politik atau ekonomi, tetapi juga pendidikan. Melihat kondisi itu, Ki Hajar Dewantara kemudian menggagas pendirian lembaga pendidikan Taman Siswa. Tujuannya, guna memberikan kesempatan kepada penduduk pribumi jelata untuk dapat menempuh pendidikan sebagaimana halnya kaum priyayi atau orang-orang Belanda.

Di tengah-tengah penjajahan Belanda yang diskriminatif dan mengekang kemajuan pendidikan masyarakat pribumi itu, Ki Hajar Dewantara telah berani melawan arus dengan mendirikan Taman Siswa. Maka, adalah wajar jika kemudian beliau dianugerahi gelar pahlawan nasional. Tanggal kelahirannya sendiri, 2 Mei, diperingati setiap tahunnya oleh dunia akademisi Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Pahlawan Pasca Kemerdekaan

Pasca Indonesia merdeka selama berpuluh-puluh tahun lamanya, perjuangan bangsa Indonesia telah berganti dari perjuangan merebut kemerdekaan menjadi perjuangan mengisi kemerdekaan. Perjuangan itu telah bertransformasi dari perjuangan senjata menjadi perjuangan pemikiran dan pendayagunaan segala sumber daya yang ada untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Dalam setiap perjuangan pasti akan muncul sosok-sosok yang dianggap berjasa besar dalam mendukung upaya pencapaian tujuan dari perjuangan itu. Maka, dengan telah berubahnya arah perjuangan bangsa Indonesia itu, dengan sendirinya filosofi pahlawan pun seyogyanya berubah. Sosok pahlawan bukan lagi seorang petempur, melainkan seorang yang diakui memiliki peran yang besar dalam memajukan dan menyejahterakan rakyat.

Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya, baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kekayaan sumber daya alam dibuktikan dengan berbagai macam potensi kekayaan yang tersebar di daratan maupun lautan Indonesia. Kekayaan ini, jika dimanfaatkan secara optimal, akan berdampak positif bagi kesejahteraan rakyat. Sementara itu, kekayaan sumber daya manusia ditandai dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan rata-rata usia produktif yang tinggi dan disertai dengan kerja keras penduduknya yang juga tinggi. Kedua jenis sumber daya ini, jika mampu dioptimalkan, bukan tidak mungkin akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi negara besar. Besar bukan karena wilayahnya yang luas dan penduduknya yang banyak, melainkan karena potensi ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya yang tinggi.

Dijajah Korupsi

Upaya menyejahterakan rakyat melalui program-program pembangunan, bukan tanpa kendala. Musuh bangsa Indonesia kini bukan lagi penjajah kolonial. Musuh bangsa Indonesia itu kini tak membunuh rakyat secara langsung. Ia membunuh pelan-pelan dan tak kalah kejamnya dengan penjajah kolonial. Musuh itu bernama korupsi.

Saat ini, bangsa Indonesia masih terkekang dalam jejaring korupsi yang menghambat pembangunan bangsa. Akibatnya, program-program pembangunan tidak dapat berjalan secara optimal. Pada akhirnya, kesejahteraan rakyat sebagai pemilik kedaulatan tertinggi negara pun tak kunjung membaik.

Lalu, upaya apa yang perlu dilakukan untuk meminimalisasi korupsi itu?

Berbagai upaya hukum memang telah dilakukan oleh bangsa Indonesia. Pada dasarnya, upaya-upaya itu bahkan telah dilakukan sejak dulu kala, baik itu melalui penguatan lembaga pemberantasan korupsi ataupun penguatan peraturan perundang-undangan. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi adalah yang terakhir. Sebelum itu, telah didirikan berbagai macam lembaga, seperti Tim Pemberantasan Korupsi pada tahun 1967, Komite Anti Korupsi pada tahun 1970, dan Obstib pada tahun 1977. Namun, lembaga-lembaga tersebut seakan hanya sebagai wujud formalitas semata dan tidak memiliki taring untuk memberantas korupsi. Hanya KPK yang bisa dikatakan cukup berani untuk mengungkap kasus-kasus korupsi. Itu pun bukan tanpa kendala yang besar.

Terkait dengan itu, penulis berpendapat bahwa dibutuhkan penguatan moral kepada segenap penduduk Indonesia. Faktor manusia selalu lebih dominan daripada faktor-faktor yang lain. Sebaik apapun suatu peraturan perundang-undangan dibuat dan sebanyak serta sekuat apapun lembaga pemberantasan korupsi dibentuk, tidak akan berarti apa-apa jika manusia-manusia yang berkecimpung di dalamnya tidak memiliki moral yang baik. Dalam pembentukan moral itu, di situlah guru memiliki peranan penting.

Guru sebagai Pahlawan Antikorupsi

Dalam mencegah dan menanggulangi korupsi, seorang guru dapat menjadi sosok pahlawan. Bagaimanapun, selain memiliki tugas untuk mendidik melalui jalur akademis, guru juga berperan dalam pembentukan moral anak bangsa. Dengan dua tugas sekaligus itu, diharapkan akan tercipta generasi bangsa yang tidak hanya cerdas dan berwawasan luas, tetapi juga bermoral tinggi dan peka terhadap permasalahan yang dihadapi bangsa.

Guru adalah orang tua kedua dari seorang murid. Murid sendiri akan sangat banyak menghabiskan waktunya di sekolah untuk belajar. Dengan demikian, guru memiliki kesempatan yang sangat besar untuk membentuk moral yang tinggi bagi murid-muridnya. Moral yang tinggi adalah antitesis yang efektif untuk menanggulangi godaan korupsi ketika murid-murid tersebut telah dewasa.

Dalam kaitannya dengan pembentukan moral sebagai antitesis korupsi tersebut, upaya-upaya berikut kiranya dapat dilakukan oleh seorang guru:

1. Kantin Kejujuran

Untuk melawan korupsi, dibutuhkan upaya pendidikan antikorupsi yang harus dilakukan sejak dini. Mekanisme pendidikan antikorupsi itu sendiri harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik. Pada tingkat pendidikan dasar, pendidikan antikorupsi dilakukan secara informal. Dalam hal ini, seorang guru dapat menggagas pendirian “Kantin Kejujuran”.

Kantin kejujuran merupakan kantin yang tidak dijaga oleh pemiliknya. Harga setiap makanan yang dijual di kantin sudah terpampang di dekat makanan tersebut. Di dekatnya, disediakan kotak untuk menampung uang yang dibelanjakan murid. Kantin ini didirikan untuk melatih kejujuran peserta didik dalam lingkup yang sangat sederhana. Harapannya, dengan adanya kantin kejujuran ini, peserta didik terbiasa dengan tindakan jujur tanpa harus diawasi oleh orang-orang di sekitarnya. Karena sudah terlatih sejak dini, maka nilai-nilai kejujuran yang diajarkan itu diharapkan dapat terus melekat hingga dewasa.

2. Bakti Sosial

Bakti sosial merupakan acara yang tepat untuk melatih kepekaan sosial anak bangsa. Dalam acara itu, murid dapat dikenalkan dengan ragam permasalahan yang biasa dihadapi bangsa, semisal kemiskinan dan anak-anak terlantar. Kombinasi antara nilai-nilai kejujuran yang diaplikasikan dalam kantin kejujuran dan kepekaan sosial yang teraplikasikan dalam bakti sosial dapat menjadi bekal moral yang cukup bagi anak bangsa dalam menjalani kehidupan pada masa-masa yang akan datang.

3. Formalisasi Pendidikan Antikorupsi

Pendidikan antikorupsi dalam lingkup formal baru tepat diterapkan ketika peserta didik sudah siap menerima materi sesuai dengan perkembangan kemampuan berpikir dan usia. Dalam pendidikan formal tersebut, pendidikan antikorupsi hendaknya dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan resmi pada level pendidikan menengah atas. Syarat pentingnya, seorang guru harus memahami seluk beluk korupsi serta akibat buruknya bagi kehidupan bangsa.

Di luar pendidikan kelas, seorang guru dapat menggelar seminar bertemakan antikorupsi dengan melibatkan berbagai pihak, seperti pemerintah daerah hingga Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Jika perlu, diadakan serangkaian kompetisi bertemakan antikorupsi bagi para murid. Acara-acara seperti ini cukup efektif untuk menanamkan pengetahuan mengenai korupsi kepada peserta didik, sekaligus untuk memberikan pemahaman mengenai efek negatif korupsi dan cara-cara menanggulanginya.

4. Pendidikan Agama di Sekolah

Pendidikan agama cukup efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral. Dengan demikian, pada dasarnya, pendidikan agama tersebut juga akan efektif untuk menjadi tameng bagi generasi muda dalam mencegah dan memberantas korupsi. Hal ini cukup masuk akal mengingat agama manapun melarang umatnya melakukan praktik-praktik korupsi.

Pendidikan agama yang dilakukan di sekolah hendaknya tidak hanya meliputi pendidikan dari aspek formal spiritual, melainkan juga aspek-aspek lain yang tengah menjadi masalah bangsa, seperti korupsi, kemiskinan, hingga ketimpangan sosial.

Penutup

Penulis meyakini bahwa sosok manapun dapat menjadi pahlawan. Syaratnya, ia mampu berperan positif dalam sebuah perjuangan. Hal ini juga berlaku bagi seorang guru.

Dalam kaitannya dengan permasalahan bangsa yang masih terjajah oleh praktik-praktik korupsi, seorang guru dapat menjadi pendidik yang tidak hanya mencerdaskan generasi penerus bangsa, tetapi juga sekaligus menjadi penanam moral yang tinggi kepada generasi penerus bangsa itu. Generasi bangsa yang cerdas, namun tidak memiliki nilai moral yang tinggi, hanya akan menjadi benalu bagi kelangsungan hidup bangsa.

Dahulu, Ki Hajar Dewantara berani melawan penjajah Belanda dengan mendirikan lembaga pendidikan Taman Siswa. Kini, seorang guru pun harus berani melawan penjajahan korupsi melalui pendidikan moral dan pendidikan antikorupsi.

Upaya ini, sudah pasti membutuhkan kerja keras.

Semoga terlaksana…

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s