Opa Tejo, Eksil yang Tetap Nasionalis

Ditulis oleh: ZR

Namanya Sutejo. Seorang kakek berusia 87 tahun.

Aku mengenalnya di kota kecil nan sunyi ini. Di sebuah tempat 2,5 jam dari pusat kota Muenchen, dua bulan silam. Badannya tetap kelihatan gagah di usianya yang sudah renta, meski gurat dan keriput jelas terlihat dari kulitnya. Rambutnya pun telah memutih namun tetap utuh tumbuh di kepalanya.

Papa yang mengenalkanku padanya. Aku tak tahu darimana papa bisa mengenalnya.

“Kakek Tejo dulu juga seorang tentara seperti papa. Sejak tahun 60-an ia menetap di Jerman dan tak pernah kembali ke Indonesia,” begitu sedikit kata-kata dari papaku pada waktu itu.

Kakek Tejo rutin berkunjung ke rumah sakit. Sebulan sekali ia mesti memeriksakan kondisi jantungnya. Jantungnya itu tengah melemah seiring dengan semakin tua usianya.

“Kakek ini dulu perokok berat, Nduk. Lebih berat dari papa kamu”, kata kakek Tejo saat untuk kedua kalinya aku bertemu dengannya sebulan lalu.

“Kakek itu temannya opa kamu waktu kami masih sama-sama muda. Mulai sekarang kamu panggil kakek dengan panggilan opa saja. Anggap saja kakek ini opa kamu sendiri.”

Tentu aku senang dengan sikap ramah yang ditunjukkan opa baruku ini. Opa kandungku memang telah lama berpulang ke rahmat Allah. Sebuah kebahagiaan baru mendapati Opa Tejo di negeri yang jauh ini.

**

Minggu lalu kami berkunjung ke rumah opa. Rumahnya berada di sebuah kawasan pertanian di ujung kota. Di kawasan itu mentari memang cukup lama bersinar. Barangkali itu yang membuat kawasan tersebut cocok untuk dijadikan kawasan pertanian.

Rumah opa tidak begitu luas dan hanya dua tingkat saja. Sederhana namun bersih. Halamannya tertata rapi dan ditumbuhi bunga-bungaan yang sedang bermekaran.

Di rumah tersebut Opa Tejo tidak tinggal sendirian. Disana ada beberapa anak muda dari Indonesia, serta beberapa orang pribumi Jerman yang bekerja untuknya.

Istri Opa Tejo sendiri sudah meninggal sejak beberapa tahun lalu. Istrinya orang Jerman. Opa Tejo sama sekali tidak mempunyai keturunan.

Disana, Opa Tejo bekerja sebagai petani. Dibantu dengan beberapa orang pekerja, ia menggarap tanah kebun seluas enam hektare. Berbagai macam tanaman dibudidayakan oleh Opa Tejo. Dari sayur-sayuran hingga buah-buahan tertata begitu rapi di kebunnya itu.

Sistem pertanian yang dilakukan pun serba otomatis. Dari perataan tanah, penyiraman, pemupukan, hingga pemanenan, semuanya sudah menggunakan peralatan mesin.

Hari itu, Opa Tejo mengajakku jalan-jalan di sekitar kebunnya. Sembari memetik anggur di kebunnya itu, kami asyik bercakap-cakap.

Saat itu aku pun mulai berani menanyakan tentang kehidupannya dahulu, bagaimana ia bisa tinggal di negeri yang dingin ini.

Opa Tejo bercerita, dulu ia sengaja kabur dari Indonesia menuju Jerman. Saat itu, tahun 1965. Tahun dimana sejarah kelam mewarnai kehidupan bangsa.

“Beberapa hari sebelum peristiwa 1 Oktober, sudah beredar isu mengenai akan diculiknya beberapa petinggi Angkatan Darat”, kata Opa Tejo. Saat itu, aroma akan dijatuhkannya Presiden Soekarno sudah sangat terasa di kalangan Angkatan Darat.

Opa Tejo adalah pendukung setia Soekarno. Ia adalah salah seorang anggota Angkatan Darat yang menolak untuk mendukung Soeharto. Pernah ia diminta tanda tangan sebagai bukti bahwa ia akan mendukung Soeharto jika presiden Soekarno kelak akan digulingkan. Ia menolak memberikan tanda tangannya itu.

“Beberapa tentara yang menolak untuk menandatangani itu selalu diintimidasi, Nduk. Beberapa teman Opa malah ada yang dipenjara, hilang, atau diasingkan.”

Untuk menghindari kemungkinan ancaman itu, Opa dan puluhan tentara lain segera “terbang” meninggalkan tanah air. Mereka kemudian tersebar di Rusia, Swedia, Belanda, Jerman, dan beberapa negara Eropa lainnya.

“Sejak 1965, Opa ini dianggap sebagai simpatisan PKI, Nduk. Padahal, Opa sama sekali tak pernah berhubungan dengan PKI, apalagi sampai mendukungnya. Opa hanya mendukung Soekarno, bukan berarti mendukung PKI. Mungkin itu semua dianggap sebagai sebuah kesalahan oleh para pendukung Soeharto”, Opa begitu berapi-api dalam bercerita.

Pasca berpindah ke Jerman, Opa kehilangan mata pencaharian. Ia tak mempunyai bekal yang cukup untuk keperluan hidupnya.

Beruntung kemudian ia diterima bekerja sebagai loper koran. Selama hampir enam tahun, ia biasa berkeliling kota Muenchen untuk mengedarkan koran kepada pelanggan. Hasilnya tak begitu banyak, tapi cukup untuk hidupnya yang memang sudah terbiasa dalam kesederhanaan. Sedikit dari gajinya ia sisihkan sebagai biaya untuk pulang ke Indonesia kelak.

Enam tahun lamanya Opa bekerja sebagai loper koran. Ia ingin kembali ke Kudus, kota kelahirannya. Tabungannya pun sudah cukup sebagai biaya.

Namun, apa daya, upaya kepulangannya itu tak direstui oleh pemerintah Indonesia. Namanya masuk dalam daftar hitam yang dilarang untuk kembali ke tanah air. Cap komunis sudah terlanjur disematkan kepada dirinya. Berkali-kali ia datang ke KBRI di Jerman agar bisa segera pulang ke tanah air, namun hasilnya nihil.

Merasa upayanya sia-sia, ia menjadi berubah pikiran. Opa ingin menetap di Jerman saja.

Beberapa tahun kemudian, Opa mendapat kewarganegaraan resmi Jerman. Setelah itu, ia memberanikan diri mengambil kredit untuk modal usaha. Pada saat itu terdapat kredit murah dari pemerintah Jerman yang dikhususkan bagi para petani. Ia pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Uang pinjaman itu ia belikan enam hektare tanah pertanian yang hingga kini dikelolanya.

Tak mudah bagi Opa saat memulai usaha pertanian di tanah Jerman. “Lima tahun awal itu sangat susah, Nduk”, kata Opa. “Disini kan kita nggak bisa menanam padi, Nduk,” lanjutnya.

Namun Opa pantang menyerah. Ia tetap bertani disana, dengan segala keterbatasan yang ada. Opa terus belajar bagaimana caranya bertani di wilayah beriklim dingin seperti Jerman. “Learning by doing, farming must go on, Nduk,” kata Opa sembari bercanda.

Bertahun-tahun berlalu, hasil pertanian Opa semakin meningkat saja. Hasil jerih payahnya pada akhirnya terbayar lunas. Opa sukses menjadi petani di negeri orang.

Namun, ada satu hal yang selalu membuat Opa menangis ketika mengingatnya. Ia masih ingin kembali ke Indonesia menemui saudara-saudaranya di Kudus sana. Opa hanya bisa menghubungi mereka lewat telepon. Itupun hanya beberapa orang saudara saja, mengingat saudara-saudara yang seumuran dengannya sudah banyak yang meninggal dunia.

Rasa cintanya kepada tanah air pun tak pernah sirna. Opa sempat menanyakan kepadaku tentang keadaan pertanian di Indonesia. Aku mengernyitkan dahi sebelum berkata, “Coba petani di Indonesia seperti Opa, pasti mereka akan sejahtera.”

Di rumah Opa, ada beberapa anak muda Indonesia yang tinggal disana. “Mereka itu kuliah disini, Nduk. Opa yang biayain. Beberapa diantara mereka ada yang mendapat beasiswa dari pemerintah Jerman.”

Aku sungguh tercengang dengan cerita hidup Opa. Sebelumnya tak pernah aku mendengar kisah seperti ini. Bahkan tak tahu jika ada orang-orang seperti Opa.

Mereka itu, seperti kata Opa, banyak sekali jumlahnya. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan. Mereka lah orang-orang yang terusir dan tak boleh kembali pulang ke negeri tempat kelahirannya, namun tetap mencintai tanah airnya itu.

“Opa yakin suatu saat akan pulang ke Indonesia, Nduk. Allah pasti mendengar doa Opa. Pesan Opa padamu, apapun yang terjadi dengan hidupmu, jangan tinggalkan Allah dalam hatimu. Itu lah yang Opa lakukan, hingga Opa bisa bertahan sampai sekarang.”

Aku terdiam.. Mataku pun berkaca-kaca…

***

Munchen, 3 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s