Lembar Kertas yang Terselip

Oleh: Zulekha Ratna

Langkahnya perlahan  mendekat ke arahku. “Selamat malam, Mbak,” sapanya.

“Malam…,”  aku manjawab.

“Mbak mau minum apa? Yang panas atau yang dingin?”  Dia menawariku minum.

“Buatkan aku teh hangat saja, Man,” pintaku.

“Ya Mbak, sebentar,”  jawabnya.

***

Mataku memandang sejenak ke arahnya berjalan menuju peantri kantor ini.

Namanya Maman. Dia adalah salah satu pekerja yang paling dipercaya di kantor mama. Semua orang di kantor memberi julukan SOS atau sang penyelamat kepadanya. Kalau tidak salah usianya antara 20 hingga 25 tahun. Saat dibawa papa ke rumah dulu, kata papa usianya baru 12 tahun. Entah bagaimana prosesnya, aku juga kurang tahu.  Kini, Maman menjadi orang kepercayaan mama/papa untuk menjaga kantor mama disini.

Maman bekerja di kantor mama sebagai tim sapu bersih. Disamping itu, Maman pula yang menyediakan semua keperluan karyawan yang bekerja di kantor ini, dari teh hingga kopi. Selain bekerja, saat ini dia juga berstatus sebagai mahasiswa di National University of Singapore.

Dari penampilan yang aku perhatikan tadi, tidak banyak perubahan yang aku lihat dari dia. Hhhmmmm… mungkin badannya saja yang semakin tinggi, tapi tetap kurus seperti dulu. Masih tetap santun dalam bicara, juga terlihat takut atau sungkan kalau berbicara denganku.

Aaahhh… Mengapa juga otakku jadi terpaku pada Maman, toh malam ini aku diajak mama ke kantor untuk mendampingi mama memimpin rapat dengan staf.

***

Sementara mama masih berkoordinasi dengan sekretarisnya, aku menunggu saja sembari membaca sebuah majalah.

Baru beberapa lembar halaman majalah aku baca, Maman sudah menghampiriku dengan teh hangat yang aku pesan.

“Mari mbak diminum,”  katanya, sembari meletakkan cangkir teh di meja.

“Makasih, Man,”  jawabku tanpa memandang ke arahnya.

Aku masih asyik membolak-balik halaman majalah itu. Beberapa menit berselang, tanpa sadar, ternyata Maman masih berdiri di sudut pintu ruang kantor mama.

“Ada apa, Man?” tanyaku.

“Maaf, Mbak. Sore tadi saya menyimpan kertas di dalam majalah yang sedang Mbak baca, boleh saya ambil mbak?” katanya.

“Oooohh… yaa… yaa boleh,” jawabku, sambil kucari kertas yang dia simpan di antara halaman majalah itu.

Aku tanya lagi, “Memangnya kertas apa, Man…??”

“Hanya kertas tulisan biasa, Mbak,” jawabnya.

Tak perlu lama, ku temukan kertas yang dia maksud. “Ini ya, Man?” kataku

“Iya, Mbak,” jawabnya.

“Sebentar, Man,” kataku.

Sejenak ku membaca semua tulisan di kertas itu, hingga aku pun terdiam sesaat.

“Duduk disini, Man,” kataku. “Jangan berdiri disitu.”

Maman pun mendekat duduk di kursi seberang meja di depanku.

Isi dari kertas itu merupakan jadwal Maman mengajar mengaji. Selama ini aku tidak pernah tahu.

Aku tanyakan ke Maman apakah memang masih ada waktu untuknya mengajar mengaji, sementara ia bekerja sembari kuliah disini? Dan siapa yang dia ajar mengaji itu?

Maman menjawab, “Saya berusaha untuk meluangkan waktu buat mengajar ngaji itu, Mbak… Saya ikut bertanggung jawab, Mbak. Jangan sampai TKI di sekitar sini melupakan Tuhannya, Mbak…”

“Tapi  itu  tidak mengganggu kerja saya di kantor serta kuliah saya kok, Mbak….,” katanya lagi.

“Memangnya di sekitar kantor ini banyak TKI nya, Man?” tanyaku.

“Lumayan, Mbak. Kira-kira kalau hadir semua ada 26 orang di sekitar sini, Mbak,” jawabnya.

“Memangnya pengajian itu Kamu adakan dimana, Man?” tanyaku lagi.

“Maaf, Mbak. Saya sebenarnya takut mau izin ke Ibu. Selama ini saya memakai gudang sebelah untuk pengajian itu, Mbak.”

“Mengapa Kamu tidak katakan sejujurnya saja, Man pada mama/papa? Toh itu kegiatan positif,”  jawabku.

“Mbak… Yang saya takutkan itu kalau ibu/bapak keberatan saya memakai gudang untuk pengajian itu.”

“Kami tidak mempunyai tempat lain untuk mengaji bersama, Mbak,”  lanjutnya.

Aku diam sejenak…

“Oke lah saya yang akan bicarakan ini dengan mama/papa. Kamu bisa melanjutkan pekerjaanmu,” kataku.

***

Sepeninggal Maman, aku pun berpikir…

Maman, yang begitu sederhana, yang juga seorang mahasiswa di Singapura, masih peduli kepada teman-temannya untuk tidak melupakan Tuhannya. Teman-temannya itu adalah para TKI yang bekerja di negeri ini.

Aku saja-yang hanya dengan kegiatan kuliah-sudah cukup merasa sangat lelah dengan rutinitasku. Sementara Maman, pagi-pagi harus sudah berada di kantor, sore sampai malam kuliah, hingga kemudian mengajar mengaji.

Yaa Allah… Diantara kilaunya dunia-Mu, diantara ramainya lalu lalang di sekitar gedung-gedung pencakar langit ini, masih ada yang melafalkan ajaran-Mu, meski hanya dari dalam gudang kecil itu.

Maman yang sederhana, Maman yang tidak pernah lelah, ternyata berhati sangat mulia. Dia sangat peduli dengan teman-temannya, dia sangat  peduli dengan keimanannya. Dia takut jika teman-temannya melupakan Tuhannya.

Mungkin juga karena doa-doa yang biasa mereka panjatkan di kala mengaji itu yang menjadikan kantor mama/papa selalu dijaga oleh-Nya.

Satu pelajaran lagi aku dapatkan dalam hidup ini, dari selembar kertas yang terselip diantara lembar majalah.

Tampak Maman masih takut untuk berterus terang kepada mama/papa tentang kegiatan positif yang dilakukannya itu.

Tenang saja, Man. Nanti aku yang akan mintakan izin kepada mama/papa…

*****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s