Jakarta Kota Stres

diunduh dari: google
diunduh dari: google

Stres! begitu yang aku lihat dari wajah-wajah warga jakarta. Hal yang cukup kontras dengan apa yang aku lihat dari wajah-wajah warga di kampungku atau warga di kota lain yang pernah aku kunjungi.

Suasana Jakarta memang sangat mendukung seseorang dengan mudah dapat mengalami stres. Polusi udara, kemacetan, dan kebisingan tentu menjadi beberapa faktor pendukungnya.

Ketika kebanyakan orang mengalami stres karena memang pekerjaannya yang berat, maka tidak demikian halnya di Jakarta. Warga Jakarta mengalami stres bahkan sebelum ia memulai sebuah pekerjaan. Bagaimana tidak, baru saja keluar dari rumah seorang warga Jakarta sudah hampir pasti terjebak dalam kemacetan, polusi udara, dan polusi suara di jalanan. Itu semua menjadi pangkal terjadinya stres bagi mereka.

Bayangkan ilustrasi berikut:

Pagi-pagi buta Anda sudah harus bersiap untuk berangkat bekerja. Anda membayangkan di meja kerja Anda sudah menumpuk berkas yang harus Anda kerjakan. Belum sampai Andai di kantor, di tengah perjalanan Anda sudah terjebak dalam kemacetan parah. Mesin absen Anda sudah menunggu hanya sampai pukul setengah delapan. Lebih dari jam setengah delapan berarti Anda akan terlambat, yang berarti gaji Anda bulan depan akan terpotong. Sudah pasti Anda sudah mulai tertekan bahkan sejak Anda masih dalam perjalanan menuju kantor.

Di dalam kantor, tumpukan pekerjaan sudah menunggu Anda. Deadline sudah ditentukan. Akibatnya di kantor pun Anda tidak bisa berleha-leha, tekanan sudah pasti ada dalam lingkungan kerja Anda.

Tak terasa delapan jam Anda gunakan untuk memeras otak Anda di kantor.

Jam lima sore sudah waktunya Anda pulang. Namun kembali, di tengah perjalanan Anda harus kembali terjebak dalam kemacetan. Udara panas, kemacetan, dan kebisingan mengganggu pikiran Anda kembali.

Di sore hari, Anda bahkan terjebak dalam kemacetan jauh lebih lama daripada saat Anda berangkat di pagi hari. Sesampainya di rumah pada malam hari, Anda tidak sempat lagi bercengkerama dengan keluarga Anda tercinta, lelah dan penat membuat Anda menjadi lebih cepat tertidur.

Belum terasa lama Anda tertidur, tiba-tiba mentari pagi sudah muncul dalam jendela kamar Anda. Aktivitas seperti hari sebelumnya sudah menunggu Anda kembali.

Ternyata, itu semua menjadi rutinitas Anda setiap harinya. Anda mungkin berpikir bahwa itu semua sudah menjadi kebiasaan Anda sehingga Anda berkata, “Ah, sudah biasa!”, atau “bukan masalah, semuanya adalah risiko hidup di Jakarta.”

Ah, kasihan sekali Anda! Benarkah itu semua tidak menjadi masalah bagi hidup Anda? Tidak inginkah Anda untuk hidup lebih santai dan damai? Tidak butuhkan Anda bekerja dengan tenang, tanpa tekanan di jalanan atau di ruang kantor Anda? Tidak inginkah Anda tetap bermesraan dengan kekasih Anda di malam hari dan bercengkerama dengannya? Anda ini sedang stres nyadar, gak?

***

Pada sore atau malam hari, dengan mudah dapat kita jumpai wajah peluh warga Jakarta yang tergerus rasa penat di kantor dan rasa pusing di jalanan. Begitu gampang ditemui wajah dengan cucuran keringat dan mata sayu berdiri di dalam busway, kopaja, atau metromini.

Di jalanan, begitu mudah ditemui suara-suara klakson kendaraan dan asap-asap metromini dan kopaja yang mengepul di udara. Begitu mudah ditemui suara-suara emosi para pengendara motor yang tanpa sengaja tersenggol pengendara lain atau karena jatah jalannya diserobot oleh pengendara lain.

Begitu mudah ditemui antrean pengendara motor dan mobil di perempatan lampu merah jalan atau di persimpangan rel kereta api. Ketika lampu merah menyala, dapat Anda lihat antrean kendaraan mereka yang seakan-akan bersiap menyerbu ke arah depan sembari menunggu lampu berganti hijau.

Di saat itu, adalah mudah menemukan wajah-wajah stres mereka. Ya, mereka adalah warga Jakarta, warga yang stres namun hampir tidak mempunyai pilihan lain untuk lepas darinya. Mereka yang stres bukan hanya karena pekerjaan mereka, melainkan karena kemacetan dan polusi di jalan raya.

Tapi bagaimanapun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menjalaninya. Disitulah hidup mereka, dan disitulah mereka mempertahankan hidup.

Di tengah kemacetan, polusi, dan tekanan kerja. Disitulah orang-orang stres itu harus bertahan hidup.

Kasihan sekali warga Jakarta, menjadi robot stres tanpa disadarinya. Mau menyalahkan siapa atas stresnya mereka??

Dan, masalahnya, barangkali aku sendiri pun tengah berevolusi menjadi sebagaimana mereka. Aghhhh…..

*****

14 thoughts on “Jakarta Kota Stres

  1. haha, stlah baca terkesan jakarta itu kota yg berat untuk ditinggali, tp nyatanya tiap tahun makin banyak penduduknya. Artinya kan pasti ada suatu nilai lebih dari kota itu guh,
    ada plus dan minusnya lah. nikmati sik wae guh(baca: tunggu mutasi wae) haha…

  2. wkwk… aku juga ngrasain lama2 seperti jadi ‘robot’ but still menurutku mumpung masih muda bagus tinggal d Jakarta utk menempa diri hehe.. Enjoy Jakarta Guh…šŸ™‚

  3. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya mas teguh… InsyaAllah, kalau ikhlas menjalaninya, cinta dengan apa yg menjadi pekerjaan kita, serta mau terus belajar, mencari hikmah2 hidup yg tercecer di jakarta, saya yakin semua akan terasa indah di jalani. Meski di kota seperti Jakarta sekalipun…

  4. saya masih tetap mau tinggal di Jakarta, guh….ada ga ya yang mau tukeran tempat dinas atau instansi?hehehe

  5. itulah pilihan hidup brader….
    semangat saja untuk kita masing-masing menjaga kualitas hidup kita….

    wongpapua…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s