Sedikit tentang Purwakarta

logo Purwakarta
logo Purwakarta

Singkat saja, aku hanya ingin meninggalkan jejak tentang Purwakarta pada halaman ini. Jujur, tak ada yang terlalu istimewa yang aku dapat di tempat ini. Tidak banyak yang bisa diceritakan. Tapi, bagaimanapun Purwakarta telah menjadi bagian tersendiri dalam perjalanan hidupku.

Aku tak pernah menyangka suatu saat akan tinggal di kota ini. Aku tak pernah bermimpi bahwa ternyata aku akan menghabiskan beberapa bulanku (bahkan mungkin hingga setahun) disini. Dugaan awalku, di permulaan kerjaku aku akan berada di Jakarta. Tapi entahlah, ternyata Tuhan membawaku kesini.

Purwakarta, sebuah kota kecil di bagian barat Provinsi Jawa Barat. Seperti Batang, namanya juga tidak begitu dikenal. Apalagi jika dibandingkan dengan kota-kota lain di dekatnya, semacam Karawang, Bandung, atau Bekasi. Kota ini tidak semaju tiga tetangganya itu. Sebagai kota transit, Purwakarta hanya menjadi tempat singgah beberapa warga yang datang dari Jawa Tengah (Pantura) menuju Jakarta atau sebaliknya. Demikian pula mereka yang dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta atau sebaliknya. Sebuah kota transit tentu tidak semaju kota tujuan yang umumnya adalah kota-kota besar.

Tak ada mall atau tempat hiburan besar disini. Yang ada hanya pasar swalayan (Pelangi Plaza/Giant dan Toserba Yogya) dan sebuah pusat perdagangan (Sadang Trade Square). Selebihnya adalah minimarket dan pasar tradisional biasa. Itupun jumlahnya masih bisa dihitung dengan jari.

STS : http://sadangterminalsquare.blogspot.com/
STS : http://sadangterminalsquare.blogspot.com/

Biarpun demikian, selalu ada kesan positif terhadap suatu wilayah dimanapun wilayah itu berada. Aku menangkap cukup banyak kesan positif itu disini. Kesan positif itu muncul dari pola kehidupan masyarakat setempat yang menurutku ada hal-hal tertentu yang lebih baik daripada Batang atau Jakarta. Hanya saja, karena kesan positif itu erat kaitannya dengan konteks rasa, maka tentu saja hal ini sangat subjektif dan cenderung menggeneralisir.

Keramahan

Ini yang pertama kali aku rasakan saat hari pertama menginjakkan kaki di kota ini. Keramahan penduduk sangat terasa. Dari awal saat aku dan beberapa teman mencari tempat kos, kesan ini sudah mulai terasa. Penduduk sangat ramah dan mau membantu kami menunjukkan beberapa tempat kos yang kemungkinan bisa kami tempati.

Berbeda dengan pengalamanku saat aku mencari tempat kos di kota lain sebelum-sebelumnya. Keramahan memang aku dapati di kota-kota itu, tapi kesannya berbeda. Keramahan di kota-kota lain itu tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mempromosikan suatu tempat kos tertentu kepada kami, yang mana jika sang promotor itu berhasil “merayu” kami menempati suatu tempat kos tertentu, ia akan diberi upah/imbalan oleh sang pemilik kos. Tidak demikian kesan yang aku tangkap disini. Beberapa penduduk tampak dengan ikhlas menunjukkan kami beberapa tempat kos. Mereka sebatas menunjukkan dan tidak mempromosikan, berbeda dengan pengalaman sebelumnya di kota lain.

Lebih lanjut dari itu, ketika aku telah benar-benar tinggal disini, keramahan penduduk lokal semakin terasa. Dari penjaga toko, penjual makanan di warung, maupun pedagang di pasar aku juga menemukan kesan keramahan itu (hehe.. wajar saja ya, etika berdagang kan memang gitu, :D). Keramahan tidak hanya aku dapat dari orang-orang tua, tetapi juga dari beberapa anak muda setempat.

Kerelijiusan

“Relijius”. Kesan kedua yang aku tangkap dari Purwakarta. Disini ada beberapa pondok pesantren yang mempunyai santriwan dan santriwati dalam jumlah yang cukup besar. Acara-acara keagamaan semacam pengajian masih sering sekali terdengar dari dalam masjid-masjid. Selidik demi selidik, benar saja ternyata Purwakarta sering mendapat sebutan Kota Santri (entah itu klaim sepihak dari penduduk setempat atau juga mendapat pengakuan dari penduduk di kota lain :P).

Tidak hanya Muslim yang menunjukkan kesan kerelijiusan itu, mereka yang beragama Kristen juga menunjukkan hal yang serupa. Di Purwakarta sendiri tidak sulit untuk menemukan gereja. Jumlah gereja cukup banyak, terletak di tepi-tepi jalan raya dan tidak begitu berjauhan jarak satu gereja dengan gereja lainnya. Setiap hari minggu pagi, masing-masing gereja selalu ramai dengan jemaatnya masing-masing.

Kebersamaan

Satu lagi kesan yang aku dapat dari pola hidup masyarakat Purwakarta. Tingkat kebersamaannya menurut pandanganku masih sangat tinggi. Hal ini terlihat dari selalu ramainya kegiatan-kegiatan tertentu dalam masalah keagamaan maupun seni/budaya masyarakat setempat.

Setiap ada kegiatan tertentu, baik atas prakarsa masyarakat setempat maupun pemerintah daerah, partisipasi masyarakat masih sangat tinggi. Ketika ulang tahun Purwakarta beberapa waktu lalu misalnya, dari beberapa kegiatan yang dilakukan, bisa dibilang semuanya sukses melibatkan banyak elemen masyarakat. Sukses bukan hanya lantaran kualitas dari kegiatan-kegiatan itu, melainkan lebih besar dipengaruhi oleh kuantitas masyarakat yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Tercatat ada sekitar dua puluhan kegiatan yang semuanya  melibatkan masyarakat Purwakarta secara umum, dan semua kegiatan itu selalu ramai dan memikat. Bukti bahwa kebersamaan masyarakat Purwakarta masih sangat kental.😛

****

Sepertinya tiga hal itu cukup mewakili kesanku terhadap Purwakarta. Benar atau tidaknya tidak ada yang bisa menjamin, karena sekali lagi ini pandanganku pribadi yang sangat subjektif dan cenderung menggeneralisir😛. Bagi yang berminat tinggal di kota ini, silakan buktikan sendiri!

****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s