Catatan Mudik II: Dialektika KeIslaman NU-Muhammadiyah

from google
from google

Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah lama berdiri. Kedua ormas Islam  itu sama-sama mempunyai cita-cita yang mulia. Keduanya mengusung misi yang sama, menegakkan Islam sebagai rahmatan lilalamin.

Pada awal berdirinya, Muhammadiyah mengklaim sebagai organisasi pembaharu Islam yang tidak hanya mementingkan aspek ritual keagamaan semata, tetapi juga dalam dunia pendidikan bangsa. Sebagian sumber sejarah menyebutkan bahwa konsep madrasah di Indonesia yang kini semakin banyak dan modern, pada awalnya diprakarsai oleh KH Ahmad Dahlan. Beliaulah pendiri organisasi ini.

Sementara dahulu, NU dianggap sebagai organisasinya orang-orang tua yang puritan, terlalu mengagungkan kyai, dan selalu berpegang tradisi. Namun, kini tidak demikian adanya. Dakwah NU sudah banyak sekali dilakukan melalui pendidikan formal. Dimana-mana sudah banyak madrasah dan perguruan tinggi modern yang didirikan oleh organisasi ini. Kini, dari segi organisasi, baik NU maupun Muhammadiyah, kini sudah mampu berkembang menjadi ormas Islam yang mampu berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Ormas Islam yang tidak sekadar mengembangkan dakwah akidah dan ibadah, tetapi juga muamallah.

Dari konteks kebangsaan, tidak sedikit tokoh NU maupun Muhammadiyah yang menjadi pemimpin dan teladan bangsa Indonesia.

***

Secara ibadah, dalam NU dan Muhammadiyah bukan tanpa perbedaan. Perbedaan ini sudah ada bahkan sejak keduanya berdiri. Perbedaan itu bukan masalah pengorganisasiannya, melainkan mahzab Islam yang diyakini sebagian besar anggotanya. Bahkan sangat mungkin kedua ormas itu berdiri salah satunya karena dilatarbelakangi oleh perbedaan ini.

Dengan mahzab yang berbeda ini, pada perkembangannya menjadi corak atau ciri khas masing-masing. Orang-orang sering mengidentifikasikan bahwa setiap Muslim yang bermahzab safi’iyah merupakan orang NU, padahal belum tentu mereka ini termasuk umat NU. Sementara orang-orang yang bermahzab berbeda dianggap sebagai orang Muhammadiyah. Orang-orang awam belum menyadari bahwa NU dan Muhammadiyah itu sebatas organisasi masyarakat semata. Lebih dari itu, NU dan Muhammadiyah justru dianggap representasi dari mahzab itu sendiri, meski sebenarnya tidak demikian adanya.  Analisis ini pun menggunakan kacamata masyarakat awam tersebut.

Namun demikian, perbedaan yang terjadi antara NU dan Muhammadiyah itu bukanlah mengenai substansi ibadahnya, melainkan cara dalam melakukan ibadah itu. Dengan kata lain, perbedaan keduanya hanya sebatas masalah ritual semata. Beberapa orang menyebut perbedaan itu sekadar masalah furu’ atau cabang, bukan inti dari ibadah itu.

Beberapa perbedaan itu misalnya perihal qunut subuh dan tahlilan. Pada saat melaksanakan shalat subuh, jemaah NU melengkapi dengan membaca doa qunut, sementara Muhammadiyah tidak. Untuk mendoakan orang tua/keluarga yang telah meninggal, umat NU terbiasa melakukan tahlilan, sementara Muhammadiyah tidak.

Beberapa perbedaan lain yaitu ketika shalat Jumat, NU terbiasa melakukan dua kali azan, sementara Muhammadiyah cukup sekali. NU membiasakan membaca puji-pujian sebelum shalat, sementara Muhammadiyah tidak. Seusai shalat jama’ah, umat NU terbiasa melakukan zikir bersama-sama dengan suara yang dikeraskan kemudian ditutup doa oleh seseorang yang diamini oleh jama’ah lain, sementara umat Muhammadiyah tidak demikian. Perbedaan yang lain, dalam menentukan awal bulan, NU menggunakan metode rukyat, sementara Muhammadiyah menggunakan metode hisab. Atau dalam bilangan shalat tarawih, NU terbiasa dengan 20 raka’at, sementara Muhammadiyah cukup 8 raka’at.

Perbedaan-perbedaan tersebut bukannya tanpa dasar/dalil serta argumen logis. Kedua ormas tersebut tentu mempunyai dasar serta argumen sehingga masing-masing mempunyai konsensus ritualitas yang menjadi ciri khasnya.

Dalam perjalanannya, diantara perbedaan-perbedaan tersebut bukannya tidak memicu perdebatan keduanya. Perdebatan cukup sering terjadi. Kedua belah pihak tentu tetap berpegang teguh pada keyakinannya masing-masing.

Dalam menyikapi perbedaan, perdebatan terkadang memang diperlukan. Yang penting perdebatan itu terjadi dalam ranah yang sehat, dilakukan dengan kepala dingin, tanpa hasrat untuk menjatuhkan pihak lawan, serta dengan semangat kebenaran dan ukhuwah Islam. Debat diperlukan untuk menambah pengetahuan dan bukannya dilakukan untuk mengukur siapa yang cerdas dan siapa yang bodoh, tidak pula untuk menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Debat bisa menjadi sarana mencari pembanding dan memperkaya pengetahuan.

Biarpun memiliki perbedaan yang khas, pimpinan NU dan Muhammadiyah terbukti tidak pernah bersitegang menghadapi hal ini. Justru sebaliknya, pimpinan kedua ormas tersebut sudah biasa berdiskusi bersama untuk mencari solusi terhadap permasalahan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya. Meskipun berbeda, kedua belah pihak menyadari sama-sama tengah memperjuangkan dakwah Islam sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Ini yang seharusnya dicontoh oleh umat NU maupun Muhammadiyah pada tingkat bawah. Beginilah cara orang-orang yang cerdas, bijak, dan berpikir jernih dalam menyikapi perbedaan.

***

Di Batang, saya tinggal di sebuah kampung yang sebagian besar penduduknya merupakan warga NU atau minimal penganut mahzab Safi’iyah. Di kampung saya, warga Muhammadiyah atau penganut mahzab lain merupakan minoritas.

Peribadatan dilakukan dengan cara sebagaimana umat NU pada umumnya. Hampir seluruh masjid yang ada diwarnai dengan cara-cara peribadatan umat NU. Warga Muhammadiyah sangat kecil jumlahnya, tidak lebih dari lima puluhan orang saja. Mau tidak mau, warga Muhammadiyah pun seringkali harus beribadah dalam suasana sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang NU.

Di desa sebelah, sekitar dua kilometer dari kampung saya, keadaannya tidak demikian. Disana jumlah umat NU maupun Muhammadiyah cukup berimbang. Tapi secara organisasi, Muhammadiyah jauh lebih berkembang daripada NU.

***

suasana kampung saat lengang
suasana kampung saat lengang

Saat mudik lalu, saya hanya mendapati tiga malam untuk shalat tarawih di masjid kampung. Suasana berbeda saya rasakan di saat saya mengikuti shalat tarawih itu. Saya perhatikan para pimpinan masjid yang turut berjama’ah di masjid tersebut menjadi semakin sedikit jumlahnya. Padahal, pada tahun-tahun sebelumnya, mereka-mereka ini lah yang aktif memimpin shalat secara bergantian.

Penasaran, saya berusaha mencari tahu sebab musababnya. Esoknya, saya mencoba bertanya kepada bapak. Sebagai salah seorang yang cukup dituakan warga, saya pikir bapak mengetahui latar belakangnya hingga terjadi kondisi demikian.

***

Selidik demi selidik, saya pun temukan jawabannya. Cukup mengagetkan, ternyata para pemuka masjid tersebut kini telah beralih menjadi warga Muhammadiyah. Padahal, dahulu orang-orang tersebut adalah tokoh-tokoh NU yang cukup fanatik, bahkan termasuk anti dengan keyakinan Muhammadiyah. Bagaimana bisa beralih sedemikian rupa?

Lalu dimana mereka melaksanakan shalat tarawih?

***

Merunut ke-10 hari pertama Ramadhan, ternyata mereka masih shalat tarawih di masjid seperti biasa. Keadaan menjadi berbeda sejak malam ke-11 Ramadhan. Bermula ketika ada undangan dari seorang tokoh Muhammadiyah di kampung saya (yang merupakan minoritas) untuk berbuka bersama di rumahnya.

Menurut penjelasan bapak, mereka tidak hanya berbuka bersama, tetapi juga shalat tarawih berjama’ah di rumah tokoh Muhammadiyah tersebut.

Tidak hanya itu, sebelum shalat tarawih dilakukan, terlebih dahulu diisi dengan kegiatan ceramah oleh salah seorang tokoh Muhammadiyah yang diundang dari kampung sebelah. Dalam ceramah itu terkandung beberapa pernyataan serta dalil yang membahas seputar ibadah ritual umat Islam.

Ceramah-ceramah ini dilakukan dari malam ke-11 hingga malam-malam berikutnya. Salah satu inti dari ceramah ini diantaranya adalah membandingkan perbedaan ritualitas antara NU dan Muhammadiyah. Yang cukup miris, dalam beberapa ceramah ada indikasi menjelek-jelekkan serta menyalahkan ritual ibadah sebagaimana yang orang-orang NU telah biasa lakukan.

Dari semua orang yang diundang ke rumah tokoh Muhammadiyah tersebut, beberapa diantara mereka telah beralih kepada Muhammadiyah, beberapa yang lain masih tetap kuat dengan faham ke-NU-annya. Beberapa yang beralih ini lah yang kemudian tidak lagi shalat tarawih di masjid biasa, tetapi shalat di rumah tokoh Muhammadiyah yang mengundangnya tersebut.

***

Situasi demikian lah yang membuat shalat tarawih menjadi lain dari biasanya. Kalau biasanya shalat dipimpin oleh imam secara bergantian tiap malamnya, kini hanya dimonopoli oleh seorang imam saja. Beliaulah yang tetap bersikukuh dengan ke-NU-annya.

Namun, kenyataannya, efek dari peralihan ini tidak hanya berimbas pada shalat tarawih saja. Lebih dari itu, kemudian muncul perang dingin antarkedua belah pihak.  Perbedaan klasik antara NU dan Muhammadiyah yang sudah ada sejak lama kembali terangkat ke permukaan.

Perbedaan, sebagaimana dijelaskan di awal, seharusnya tidak menjadi alat perpecahan. Itu teori idealnya. Tapi tidak demikian adanya pada masyarakat awam yang rentan dengan konflik akibat perbedaan ini. Banyak umat NU yang merasa sakit hati dengan cara-cara dakwah yang dilakukan oleh tokoh Muhammadiyah tersebut.

Belum lagi ditemukan fakta bahwa ada beberapa tokoh Muhammadiyah (baik itu tokoh lama maupun tokoh baru) yang berdakwah memasuki beberapa rumah dan secara frontal menyatakan bahwa peribadatan yang selama ini mereka lakukan itu keliru. Situasi demikian, tentu cukup membuat shock orang-orang awam yang sudah terbiasa dengan ibadah ritual sebagaimana yang biasa orang NU lakukan.

Tak ayal, perbedaan yang seyogyanya bisa menjadi rahmat pun berubah menjadi ajang saling menjelekkan dan menyalahkan pihak yang memiliki pandangan yang berseberangan ini. Meski itu tidak dilakukan secara face to face, perang dingin dan perang argumen oleh para tokoh dari kedua belah pihak pun terjadi. Beberapa kali saya pribadi mendapati fakta ini, di masjid dan di beberapa tempat dimana warga biasa berkumpul.

***

Cukup disayangkan, bulan Ramadhan yang semestinya umat Islam bersatu padu dan berlomba-lomba dalam kebaikan justru menjadi tereduksi nilai kebersamaannya karena dimunculkannya perbedaan yang sudah sangat klasik itu ke dalam benak masyarakat.

Tapi yang lebih saya khawatirkan waktu itu adalah jika kemudian ternyata hari raya Idul Fitri antara NU dan Muhammadiyah jatuh pada hari yang berbeda. Dan akhirnya benar, NU berdasarkan rukyatnya menjatuhkan hari raya Idul Fitri pada hari rabu, sementara Muhammadiyah dengan hisabnya menentukan hari selasa sebagai Idul Fitri mereka.

Saya khawatir konflik akan terjadi. Saya sempat teringat pengalaman beberapa tahun silam di sebuah kampung tak jauh dari kampung saya. Di kampung tersebut ada beberapa orang Muhammadiyah yang merayakan Idul Fitri satu hari sebelum Idul Fitri yang dirayakan oleh umat NU yang juga diputuskan oleh pemerintah. Pada waktu itu, beberapa umat Muhammadiyah yang akan menjalankan ibadah shalat Ied dihadang oleh beberapa umat NU yang akan shalat ied keesokan harinya. Jika kejadian ini sampai terjadi pada kampung saya, tentu itu cukup mengkhawatirkan.

***

Namun alhamdulillah, konflik seperti itu tidak terjadi. Pada hari selasa pagi, umat Muhammadiyah dapat dengan tenang melaksanakan shalat Ied dan merayakan lebaran. Namun demikian, orang-orang Muhammadiyah di kampung saya terpaksa tidak shalat ied di masjid kampung, melainkan mereka harus jauh ke masjid di desa sebelah yang merupakan masjid dimana umat Muhammadiyah cukup besar jumlahnya disana.

Konflik kecil sempat terjadi dalam sebuah keluarga. Sang istri sudah beralih pada Muhammadiyah sementara sang suami tetap bersikukuh dalam NU. Konflik terjadi karena mereka merayakan lebaran pada hari yang berbeda. Sang istri ingin shalat ied hari selasa, sementara sang suami ingin hari rabunya. Istri meminta suaminya untuk mengantarkannya mengikuti shalat Ied di desa sebelah, tapi suami menolaknya. (hehe, lucu juga ).

Entah bagaimana akhirnya keluarga itu menyelesaikan masalah itu.

Tapi secara umum, konflik yang lebih besar bisa dikatakan tidak terjadi. Muhammadiyah tetap dengan tenang dan tertib merayakan lebaran pada hari selasa, sementara NU tak kalah tertib dan tenang pula merayakan lebaran pada hari esoknya. Yang menarik, pada hari rabu itu, baik umat Muhammadiyah maupun NU saling bersilaturahmi dan bersalam-salaman. Kerukunan dan kebersamaan pada hari itu tetap terjalin.

Tapi bagaimana dengan perang dingin yang sebelumnya terjadi? Haruskah itu dilanjutkan kembali? Tentu saja mudah-mudahan tidak. Meski saya yakin, pertentangan ini akan kembali berlanjut. Yah, minimal pertentangan antarhati.

***

Dialektika keIslaman

Saya pribadi tak menganggap diri saya adalah seorang warga NU, bukan pula Muhammadiyah. Saya memang dilahirkan dalam suasana yang mayoritas memang merupakan warga NU, akan tetapi dengan tegas saya katakan bahwa saya bukan warga NU, bukan pula Muhammadiyah.

semoga kelak mereka tidak terjebak dalam arogansi sempit ormas tertentu
semoga kelak mereka tidak terjebak dalam arogansi sempit ormas tertentu

Ketika di kampung, saya terbiasa dengan ritualitas ibadah warga NU semisal qunut subuh dan tahlilan, sementara ketika kuliah saya terbiasa dengan pola peribadatan warga Muhammadiyah yang tidak mengenal qunut dan tahlilan. Ketika bekerja dan harus berada di tempat yang berbeda lagi, saya terbiasa peribadatan orang NU dan Persis. Saat shalat fardhu misalnya, saya terbiasa berjamaah dengan warga NU, tapi ketika shalat tarawih pada bulan Ramadhan, saya terbiasa shalat di masjid yang mayoritas jama’ahnya adalah warga Persis.

Dalam konteks ini, saya menolak logika formalitas dimana saya harus A atau saya harus B. Dimana A harus benar dan B harus salah, atau sebaliknya A harus salah dan B harus benar. Saya tidak ingin menjadikan diri saya terkotak-kotak dalam kehidupan masyarakat Islam yang luas itu. Beberapa orang menyebut saya tidak konsisten, tapi saya abai saja dengan pernyataan mereka. Yang lebih penting, saya konsisten dalam Islam. Islam universal, itu yang menjadi pegangan saya selama ini.

Dalam hal ini, saya lebih nyaman dengan logika dialektika yang saya yakini, dimana saya tidak harus selalu A atau tidak harus selalu B. Dalam beberapa tempat, saya harus bertemu dengan orang-orang berfaham A, di tempat lain saya bertemu dengan orang-orang berfaham B. Saya tidak mau repot karena saya adalah A atau saya adalah B. Dalam kondisi tertentu, bisa jadi saya menyerupai A, bisa jadi saya menyerupai B.

Tentu bukan berarti saya tidak akan bergabung dengan ormas manapun. Tidak menutup kemungkinan suatu saat saya akan bergabung dengan ormas tertentu. Yang penting bagi saya adalah saya tidak akan menunjukkan sifat konformis maupun dogmatis terhadap ormas atau umat Islam dengan konsensus fundamental yang berbeda.

Saya menyadari bahwa baik itu NU maupun Muhammadiyah memiliki dasar serta argumen sendiri dalam meyakini kebenaran yang dianutnya. Perdebatan memang boleh dilakukan keduanya.

Dalam perdebatan tentu boleh-boleh saja ada yang dianggap menang dan ada yang dianggap kalah. Tapi bagaimana dengan di mata Allah? Dalam pandangan saya, belum tentu yang menang dalam perdebatan di mata manusia itu menang juga di mata Allah.

Rasulullah SAW misalnya, ketika Beliau mendapati perbedaan antarumatnya, sepanjang itu tidak menyalahi dalil dan kedua belah pihak sama-sama memiliki argumentasi yang kuat,  kedua pihak yang berbeda itu dianggap benar semua.

Dalam Islam juga dikenal teks-teks yang sifatnya qath’i serta teks-teks yang sifatnya zhanni. Teks-teks yang sifatnya qath’i merupakan teks-teks yang sudah jelas dan pasti maknanya. Dalam artian seorang Muslim haram hukumnya menafsirkan berbeda. Dalam hal ini misalnya, tentang keesaaan Allah, kebenaran Al-Qur’an, kerasulan Muhammad, perintah shalat, zakat, dan puasa, dan lain sebagainya. Tidak dibenarkan seorang Muslim memiliki penafsiran yang berbeda terhadap teks-teks ini.

Sementara teks-teks yang sifatnya zhanni merupakan teks-teks yang boleh ditafsirkan berbeda karena sifatnya yang memang multitafsir. Teks-teks zhanni dalam hal ini terdiri dari dua, yaitu teks-teks yang jelas asalnya dari Al-Qur’an atau hadist akan tetapi ditafsirkan berbeda oleh umat Islam, serta teks-teks yang tidak jelas asalnya apakah dari hadist atau bukan oleh karenanya ditafsirkan berbeda pula. Namun demikian, terhadap teks-teks zhanni ini bukan berarti boleh ditafsirkan seenak perutnya sendiri, melainkan ada kaidah-kaidah tafsir serta argumen kuat yang mendasarinya. Contoh sederhana terhadap ini adalah soal qunut subuh, tahlilan, jumlah raka’at shalat tarawih, tata cara takbiratul ikhram, dan tata cara ibadah ritual lainnya.

Dalam konteks NU-Muhammadiyah, atau dalam koridor yang lebih besar dalam mahzab-mahzab tertentu, perbedaan-perbedaan itu pada dasarnya adalah terkait teks-teks yang sifatnya zhanni ini.

***

Dakwah sosial

Perbedaan NU-Muhammadiyah, yang pada dasarnya tak bisa terlepas dari perbedaan mahzab yang menjadi ciri khas keduanya, merupakan perbedaan yang sifatnya ritualitas semata. Perbedaan ini sudah disadari sejak lama dan terus berlangsung hingga kini. Jadi seyogyanya perbedaan ini tidak perlu untuk terus diwacanakan.

Sudah waktunya dakwah yang dilakukan oleh kedua organisasi tersebut tidak hanya seputar ritualitas semata, akan tetapi yang lebih penting dari itu di masa sekarang adalah dakwah sosial. Dakwah ritual memang penting karena ritualitas itu merupakan sarana interaksi antara umat Muslim dengan Tuhannya. Namun demikian, jangan sampai para pendakwah, dalam hal ini adalah tokoh NU dan Muhammadiyah, mengabaikan dakwah sosial guna menjawab dan memberi solusi terhadap permasalahan umat yang semakin banyak dan  kompleks.

Teori ini tentu bukan tidak disadari oleh para petinggi kedua organisasi tersebut. Akan tetapi, dalam masyarakat awam di tingkat bawah, dakwah sosial masih terasa sangat kurang.

Sebagaimana yang terjadi di kampung saya, dakwah yang dilakukan oleh Muhammadiyah masih merupakan dakwah ritual. Dakwah tersebut bukannya membuat umat Islam di kampung saya tenang, tetapi justru memicu konflik.

Dakwah sosial bisa dilakukan dengan memberi santunan kepada fakir miskin dan anak terlantar, pembangunan jalan atau infrastruktur lainnya, serta kegiatan sosial lain yang mampu menyentuh hati masyarakat luas. Saya yakin, dengan dakwah sosial seperti ini, dakwah ritual pun akan tersebar dengan sendirinya, secara perlahan tapi pasti.

Kalaupun dakwah ritual dilakukan, hendaknya para pihak menghindari klaim saya/kami yang benar dan mereka/kalian salah. Klaim paling benar sebaiknya disimpan dalam hati atau dibicarakan dalam kalangan sendiri yang semua pihak di dalamnya sudah sepaham. Klaim paling benar, dalam bentuk apapun sebaiknya tidak disampaikan di depan umat Islam lain yang memiliki keyakinan yang berbeda. Tentu saja ini demi kerukunan dan kebersamaan umat Islam yang jauh lebih penting dari sekadar ke-NU-an atau ke-Muhammadiyah-an seseorang. Jika klaim paling benar tetap dilakukan, dikhawatirkan hanya akan menimbulkan kearogansian umat serta konflik internal umat Islam yang membahayakan.

*****

Mudah-mudahan saja tulisan ini dibaca oleh para tokoh NU dan Muhammadiyah di kampung. Dan semoga semua pihak menyadarinya…

Hahahaha.. Tapi sepertinya sih tidak mungkin, lha wong disana yang ngerti internet saja paling segelintir orang.😀

Ahh, EGP…😛

Yang jelas ini pendapat saya, mau dibaca monggo, gak ya monggo. Mau setuju silakan, tidak setuju ya silakan.. Kalau benar ya alhamdulillah kalau salah mudah-mudahan Allah memberi petunjuk.

Allahwa’alam..

*****

Baca Juga:

One thought on “Catatan Mudik II: Dialektika KeIslaman NU-Muhammadiyah

  1. tulisan anda sangat bagus…. makasih ya. saya juga bukan NU atau Muhammadiyah. saling hormat dan toleran lebih baik. kalau ada yang ngaku paling benar, pastilah dia yang paling salah, karena yang paling benar hanya Allah…. tdk sedikit yang retorikanya hebat dan selalu menyalahkan pihak lain, mungkin nama belakangnya jarkoni, dan lupa bahwa Islam itu rahmatan lil alamin, bukan laknatan lil alamin….
    pernah ada yang tanya sama saya:”anda NU atau Muhammadiyah?” saya jawab, bukan dua-2nya; “pengikut imam Syafii?” saja jawab:”tidak tahu”; yang jelas saya (ngakunya lho) Islam dan pengikut Rasulullah Muhammad SAW. dia tanya lagi:” lho mengapa?” saja jawab:”saya ga tahu ajaran imam Syafiie; jd klo anda tanya, sy ga bisa jawab… sama dengan bo’ong…” bisa diduga orang-2 yang membesar-2kan perbedaan dan menonjolkan kebolehannya itu “baru melek, mikirnya cetek dan ….., usul nih, coba ajukan 4 pertanyaan padanya dan minta jawaban singkat-bukan bertele-tele: “1) apa yang dimaksud takwa, 2) apa komponen taqwa,3) apa isinya takwa, dan 4) apa beda takwa dan kaffah….” kemungkinan jawaban nya: pertanyaan1) jawabannaya standard, jawaban pertanyaan ke 2) dahi berkerut, jawaban pertanyaan ke 3) ngeyel atau marah, dan paling sopan: “wah… seminggu tidak cukup untuk membahasnya” dan jawab an pertanyaan ke 4).. kabur… ha ha ha ha…. for info, saya orang awam lho …….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s