Batang / Indonesia / Jakarta / personal opinion / Sosial

Resepsi Pernikahan dan Kondangan dalam Tradisi Kita

Bulan Desember hingga Januari ini adalah bulan dimana banyak orang melepaskan masa lajangnya, menikah dan bersanding di pelaminan. Di beberapa tempat digelar acara resepsi pernikahan, dari yang sederhana hingga yang tergolong mewah, di rumah maupun di gedung-gedung yang sengaja disewakan untuk acara-acara itu. Kalau saya lihat, fenomena ini terjadi secara merata, hampir di semua tempat di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Saya yakin, pada bulan-bulan ini Kantor Urusan Agama mendapat job yang lebih banyak daripada bulan-bulan lainnya. Begitu juga penghulu, maupun lebe (istilah di kampung saya untuk menyebut pembantu penghulu).

Saya pun mendapat undangan pernikahan dalam jumlah yang tidak sedikit, baik yang sifatnya formal (dalam bentuk surat/ulem), hingga yang berasal dari media sosial. Kalau dihitung, barangkali jumlahnya ada belasan. Undangan itu datang dari teman-teman saya, baik teman di  kampung maupun teman yang saya kenal semasa kuliah. Beberapa rekan saya yang lain pun saya lihat memiliki agenda kondangan yang tak kalah sedikit daripada saya, begitu juga ayah dan ibu saya di kampung sana. “Dirubung kondangan” (dipenuhi jadwal kondangan), begitu istilah yang biasa diucap oleh ibu saya.

Saya sungguh tak mengerti mengapa pada bulan-bulan ini orang banyak melangsungkan pernikahannya. Memangnya apa istimewanya bulan Desember-Januari ini dibanding bulan-bulan yang lain?

Saya tak tahu pasti dan hanya bisa menduga-duga. Pertama, barangkali karena bertepatan dengan tahun baru 2013. Menikah berarti memulai suasana hidup yang baru yang juga mesti diiringi dengan semangat yang juga. Pernah saya berbicara dengan rekan saya yang menikah di awal tahun ini. Ia bilang bahwa ia sengaja memilih menikah di awal tahun supaya lebih fresh dalam membuat rencana baru, dengan suasana baru dan semangat yang juga baru. Bisa diterima, meski saya tidak termasuk yang sepakat dengan pendapat yang satu ini. Menurut saya, tidak ada bedanya apakah menikah di awal tahun, di tengah, ataupun di akhir tahun. Tapi, semua orang tentu memiliki pendapat yang mungkin saja berbeda. Saya mengangguk menerima pendapat kawan saya tersebut, meski dalam hati saya tidak sepakat.

Kedua, faktor perhitungan hari baik. Beberapa rekan yang saya tanyai mengaku bahwa keputusan menentukan hari dan tanggal menikah mereka ditentukan oleh orang tua mereka. Dasarnya adalah weton (hari kelahiran) kedua calon mempelai. Saya tak begitu paham dengan nekanisme “algoritma weton” ini. Berdasarkan algoritma weton itu, dapat ditentukan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan dan hari yang tidak baik untuk melangsungkan pernikahan. Tentu saja bagi saya yang tidak mempercayai hitung-hitungan seperti itu, algoritma ini terkesan tidak masuk akal. Namun begitu, lagi-lagi, semua orang sangat mungkin memiliki keyakinan yang berbeda. Saya cukup menghormatinya.

Alasan ketiga, dan yang menarik, beberapa rekan saya yang menikah pada bulan-bulan ini memang sudah merencanakan sejak lama. Mereka itu, tanpa perhitungan apapun, telah menentukan waktu pernikahan pada bulan-bulan tersebut. Pada umumnya mereka itu telah bertunangan sebelumnya. Setelah pertunangan, mereka membutuhkan beberapa bulan untuk mempersiapkan diri sebelum resmi menikah. Sehingga kemudian, terpilihlah bulan Desember atau Januari itu sebagai bulan pernikahan mereka. Alasan mereka memilih bulan ini, adalah di luar alasan yang pertama maupun yang kedua. Sederhananya adalah kebetulan semata. Lagi-lagi saya mengangguk, meski tidak sepenuhnya setuju, karena bisa jadi alasan kebetulan ini juga dibumbui dengan alasan yang pertama maupun yang kedua.

Yang kurang mengenakan, pada bulan-bulan ini adalah puncaknya musim hujan. Hujan (dan bahkan banjir) terjadi di beberapa tempat. Kondisi ini bisa berpotensi menggagalkan acara pernikahan yang telah direncanakan sejak lama. Bagi pengantin baru, selama hujan yang turun masih berada dalam kisaran yang normal dan tidak terkena banjir, tentu suasana musim hujan yang dingin seperti ini sungguh sangat kondusif untuk menjalin kemesraan. Yang agak repot tentu saja orang-orang yang mendapat undangan dan mesti kondangan di saat hujan. Mereka terkadang mesti bersusah payah, berhujan-hujanan untuk menghadiri acara resepsi pernikahan itu. Ibu saya di kampung, misalnya, pada hari minggu kemarin mesti berhujan-hujanan untuk kondangan di lima tempat berbeda.

Di Indonesia, acara pernikahan pun telah menyatu dengan adat masing-masing daerah. Adat Jawa berbeda dengan adat Lampung, begitu juga adat-adat yang lain. Di kota-kota besar, resepsi pernikahan seringkali dilakukan di gedung-gedung, meskipun banyak juga yang dilakukan di rumah-rumah. Di desa, sebagian besar resepsi pernikahan dilakukan di rumah.

Ketika kondangan, sumbangan yang diberikan pun bisa saja berbeda-beda. Ada yang memberikan sumbangan dalam bentuk uang, ada yang kado. Di kota, biasanya amplop langsung dimasukkan ke dalam kotak, kado diberikan langsung kepada penerima tamu. Di kampung saya sangat berbeda, kaum bapak menyumbangkan amplop secara langsung dari tangan ke tangan kepada bapak sang mempelai, anak muda laki-laki seumuran saya langsung memberikan amplop kepada mempelai pria, anak muda perempuan memberikan amplopnya secara langsung kepada mempelai perempuan.

Namun, yang paling unik adalah ibu-ibu. Tradisi kondangan di tempat saya bagi ibu-ibu itu adalah yang paling repot. Ketika kondangan, seorang ibu mesti menggunakan bakul (di tempat saya dikenal dengan ceting) yang diisi dengan beras, sebungkus atau dua bungkus mie kering, hingga makanan-makanan kecil dan kue-kue. Ibu-ibu biasa menggendong bakul itu dengan selendang kemudian menyerahkannya kepada ibu sang mempelai. Terkadang, jika sang pemilik hajat masih keluarga dekat, dibawakan juga seekor atau dua ekor ayam yang sudah dewasa. Kerepotan-kerepotan itu lah yang terkadang membuat ibu saya mengeluh ketika ia harus kondangan di berbagai tempat dalam satu hari. Dahulu, pernah saya nyletuk kepada ibu saya tatkala saya diminta untuk mengantarkannya kondangan ke berbagai tempat. Saat itu kondisi hujan, saya sempatkan bertanya, “Nggo opo kondangan mangkat terus, ra kesel po? Paling yo gak begitu kenal karo wonge?” Ibu saya justru menjawab, “Biasane nek ora kondangan kui mengko ndilalahe palah ketemu karo wonge, rak enak dadine.”

Dari jawaban ibu itu, saya bisa memahami bahwa kondangan itu telah menjadi tradisi sosial yang sifatnya bisa dikatakan sebagai sesuatu yang “sunah”. Lebih baik kondangan daripada tidak. Kita memang seringkali merasa tidak enak untuk tidak menghadiri undangan pernikahan itu, apalagi sampai tidak memberikan sumbangan.

Di kampung, ada orang yang memiliki banyak anak, yang selalu menggelar acara pernikahan dengan mengundang orang-orang untuk datang dan memberikan sumbangan. Tetangga saya, misalnya, ada yang memiliki lima orang anak. Kelima-limanya sudah menikah dan setiap kali menikah mereka selalu menyebar ulem. Maka, lima kali sudah ibu (dan juga ayah saya) kondangan ke tempat tetangga saya itu. Yang kasihan tentu orang-orang seperti ibu dan ayah saya itu, mereka belum sekalipun menggelar hajatan apapun, tapi sudah kondangan hingga ratusan kali.

Biarpun begitu, acara resepsi pernikahan-kondangan sudah mengakar begitu kuat dalam kehidupan masyarakat kita yang diperkaya dengan aneka tradisi yang beragam. Bagaimanapun, itulah fenomena sosial yang terjadi. Dan, tentu orang tua saya mesti mengikutinya. Pernikahan merupakan fenomena manusia yang sudah terjadi sejak dahulu kala, bahkan sebelum orang-orang mengenal tiga agama besar, Yahudi, Nasrani, maupun Islam, sementara kondangan (dengan sumbangan dan embel-embelnya) lahir dari rasa kepedulian sosial yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Bagi produsen kue, mie kering, dan makanan kecil yang memasarkan produknya ke kampung saya, bulan ini merupakan waktu yang sibuk bagi mereka untuk berproduksi. Produk mereka itu merupakan komoditas yang sungguh laris manis sebagai sumbangan kaum ibu tatkala mereka berkondangan. Maka tak heran, jika Anda mengamati toko-toko penyedia kue, mie kering, dan makanan-makanan kecil di sekitar kampung saya, di bulan ini pasti toko-toko itu akan selalu ramai. Kesimpulan saya, di kampung, acara resepsi pernikahan-kondangan tak hanya merupakan tradisi sosial, namun juga menjadi salah satu penggerak arus uang dan arus barang yang cukup besar. Ini berarti, acara itu telah cukup menimbulkan dampak yang tidak sedikit dalam laju ekonomi  masyarakat desa.

Terakhir, sebelum tulisan ini saya tutup, izinkan saya untuk memberikan selamat bagi rekan-rekan saya atau siapapun juga yang menikah di bulan ini. Selamat menikah dan selamat menempuh hidup baru, dengan suasana yang baru, dan dengan semangat yang juga baru. :D

Demikian…

*****

About these ads

2 gagasan untuk “Resepsi Pernikahan dan Kondangan dalam Tradisi Kita

  1. Seperti yg disunahkan dalam ajaran Islam tentang pernikahan, bahwasannya :

    Bagaimana seharusnya pandangan Islam dalam urusan menyiarkan pernikahan?

    Ketika sudah berlangsung akad nikah dan telah resmi menjadi suami istri, maka Islam menganjurkan untuk melangsungkan walimah. Walimah itu secara harfiah berarti berkumpulnya suami-istri. Dalam istilah khusus adalah makan-makan dalam acara pesta pernikahan. Jumhur ulama berpendapat walimah hukumnya sunnah mu’akaddad.

    Rasulullah Saw bersabda kepada Abdurrahaman bin auf:

    Awlim walaw bisyaatin (Adakan walimah sekalipun dengan seekor kambing).

    Dari Anas , ia berkata: Rasulullah Saw mengadakan walimah dengan seekor kambing untuk istri-istrinya dan untuk zainab. (HR Bukhori-Muslim)

    Dari Buraidah ia berkata: Ketika Ali melamar Fathimah, Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya harus, untuk pesta perkawinan ada walimah” (HR Ahmad)

    Jadi dalam Islam disyiarkannya pernikahan adalah dengan walimah. Walaupun pernikahan tetap sah. Tetapi sangat dianjurkan untuk mencegah bila timbul masalah

    Apa yang akan terjadi bila pernikahan tidak disyiarkan?

    Persoalan bisa banyak terjadi seperti:

    (1) Timbul fitnah, karena bisa jadi orang tidak tahu kalau mereka sudah menikah. Misalnya si A-intim sekali dengan si B. Tahu-tahu hamil. Padahal mereka ternyata sudah menikah. Ini sering terjadi di kalangan artis. Sehingga alasan nikah siri itu dianggap dalih saja untuk melegalisasi pergaulan bebas. Ini jelas keliru.

    (2) Kalau tidak disiarkan dan tiba-tiba ada yang meninggal, bisa menimbulkan masalah ahli waris. Bisa saja menghadirkan bukti. Tetapi inilah kerepotannya kalau pernikahan tidak disiarkan

    (3) Kalau misalnya pernikahan disembunyikan ternyata anak masing-masing istri saling jatuh cinta karena tidak tahu kalau sebapak. Ini berarti sudah membawa korban kepada keturunannya. Walaupun hanya sunnah muakkadah saja, tetapi bisa menjauhkan diri dari kemungkinan fitnah yang akan timbul.

    Kadang-kadang untuk menyelenggarakan walimah, tidak punya biaya. Bagaimana ini?

    Walimah tidak perlu mewah. Bahkan Rasulullah Saw pun hanya dengan seekor kambing.

    * Fenomena sosial pada masyarakat yg terjadi lebih mengutamakan walimatur urusy atau pesta pernikahan, sebagai bentuk silaturahmi dan berkumpulnya satu keluarga besar pada acara tsb. juga ajang berkumpulnya kaum kerabat dan handaitaulan.

    dan yg pasti juga akan banyak terjadinya transaksi ekonomi sebagai penunjang terselenggaranya acara tsb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s