berkebun / negara / personal opinion

Menantikan Gebrakan Energi Hijau untuk Kemandirian Indonesia

Energi Hijau, Energi dari Tumbuh-Tumbuhan. http://baltyra.com

Sobat bumi, kita semua mengetahui bahwa kekayaan alam Indonesia sungguh luar biasa besar nilainya. Kekayaan alam itu tersebar baik di darat maupun di laut dan menjadi sumber penghidupan bagi kita semua.

Sejarah mencatat bahwa kekayaan alam yang begitu besar itu telah memancing bangsa barat untuk datang dan bermaksud untuk turut menikmatinya. Akibatnya, selama ratusan tahun lamanya bangsa kita terkungkung dalam derita sebagai negara jajahan.

Kini, 67 tahun sudah Indonesia resmi merdeka. Bangsa kita telah memiliki kedaulatan penuh untuk mengelola kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah airnya itu.

Minyak Bumi sebagai Kekayaan Alam Andalan Indonesia

Minyak bumi adalah salah satu kekayaan alam yang menjadi andalan bangsa Indonesia. Ia merupakan salah satu sumber energi yang berkontribusi besar dalam memasok keperluan energi bagi kelangsungan hidup manusia.

Peran minyak bumi sebagai sumber energi utama itu hingga kini belum dapat tergantikan dengan sumber yang lain. Sektor listrik, transportasi, dan industri mutlak membutuhkan pasokan minyak bumi itu. Tanpanya, roda perekonomian akan berhenti bergerak sehingga berpengaruh buruk bagi kesejahteraan masyarakat.

Kontribusi minyak bumi bagi penerimaan negara sendiri cukup besar. Pada masa orde baru, penerimaan negara dari sektor minyak bumi dan gas bahkan selalu memberikan kontribusi yang sangat besar dan menempati urutan pertama dengan besaran kontribusi sekitar 70%. Angka ini terus bertahan selama belasan tahun dengan ekspansi dan eksplorasi yang semakin besar. Namun kemudian, kontribusi itu terus menurun seiring dengan menurunnya jumlah cadangan minyak Indonesia dan rendahnya jumlah minyak yang diproduksi. Kini, kontribusi penerimaan negara dari sektor migas itu hanya berkisar 25%-30% saja[1].

Sobat bumi mungkin belum semuanya mengetahui bahwa tambang minyak pertama di Indonesia bernama Tambang Telaga Said. Tambang ini terletak di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, ditemukan pada tahun 1885 dan dieksploitasi oleh perusahaan Belanda bernama Royal Dutch. Setelah penemuan tambang pertama itu, segera bermunculan pula penemuan tambang-tambang lain yang tersebar di pulau-pulau Indonesia.

Selama bertahun-tahun minyak bumi Indonesia itu dieksploitasi secara gratis oleh para penjajah. Titik terang mulai muncul ketika pada tanggal 10 Desember 1957 negara mendirikan PT Pertambangan Minyak Nasional Indonesia (PERMINA). PT PERMINA ini merupakan cikal bakal dari lahirnya PT PERTAMINA yang kita kenal sekarang ini.

Cadangan dan Produksi Minyak Bumi Indonesia

Pada dasarnya, belum ada data yang pasti mengenai berapa cadangan minyak bumi yang ada dalam perut bumi Indonesia. Pada tahun tertentu, jika tidak ditemukan cadangan baru, maka secara otomatis cadangan yang ada pada tahun tersebut akan lebih kecil daripada tahun sebelumnya. Namun, jika ternyata ditemukan cadangan yang baru, keadaan bisa saja menjadi sebaliknya.

Tren cadangan minyak bumi Indonesia dari tahun 2004 hingga 2011 menunjukkan angka penurunan. Berikut ini adalah data resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengenai data cadangan minyak bumi di Indonesia sampai dengan tahun 2011.

Cadangan Migas dalam Angka. Sumber: Statistik Kementerian ESDM.

Peta Persebaran Minyak Bumi Indonesia. Sumber Kementerian ESDM.

Sementara itu, seiring dengan menurunnya jumlah cadangan minyak bumi itu, produksi minyak bumi Indonesia dari tahun ke tahun juga tengah mengalami penurunan cukup signifikan, sebagai berikut:

Tabel Produksi Migas Indonesia. Sumber: Kementerian ESDM

Melihat kondisi tersebut, menjadi tanda bahwa minyak bumi di perut Indonesia telah memasuki masa-masa penghabisan. Beberapa sumber mengatakan bahwa cadangan minyak bumi itu akan habis dalam kurun waktu 10 tahun,[2] beberapa yang lain mengatakan bahwa cadangan itu akan habis pada tahun 2032.[3]

Apapun itu, semuanya sepakat bahwa sumber energi fosil memang merupakan sumber energi yang tidak terbarukan. Suatu saat kelak, ia akan habis dari bumi kita. Kapan habisnya, hanya tinggal menunggu waktu saja.

Kembali ke Energi Hijau

Dengan kondisi cadangan minyak bumi yang semakin menipis itu, dunia kemudian melirik kembali ke energi hijau. Energi hijau merupakan sebutan bagi sumber energi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Prinsipnya sederhana, tumbuh-tumbuhan merupakan organisme penyimpan energi yang efektif. Tumbuhan mengambil bahan mentah seperti air dari dalam tanah dan karbondioksida dari udara kemudian mengubahnya menjadi oksigen dan gula dengan bantuan sinar matahari. Energi itu disimpan tumbuhan di daun, batang, buah, dan bahkan akar. Energi yang tersimpan itu akan dilepas ketika tanaman telah mati, membusuk, atau dimakan manusia atau hewan. Energi  itu lah yang dapat dimanfaatkan sebagai energi hijau, tentu saja melalui serangkaian proses dan mekanisme tertentu.

Bagi sobat bumi yang menyukai kajian mengenai sejarah, mungkin sobat bumi pernah mendengar bahwa rakyat Indonesia pernah dipaksa oleh penjajah Jepang untuk menanam pohon jarak pagar untuk diambil minyaknya sebagai bahan pelumas kendaraan dan peralatan perang. Prinsip ini pun sebenarnya merupakan salah satu bentuk pemanfaatan energi hijau.

Sobat bumi barangkali juga pernah mendengar bahwa penemu mesin diesel pertama, Rudolf Diesel, ketika menguji coba mesin diesel pertamanya pada tahun 1898, ia menggunakan minyak kacang dan minyak ganja. Henry Ford juga pernah membuat sebuah mobil yang digerakkan dengan alkohol yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Ini artinya, pergulatan mengenai energi hijau telah dilakukan sejak dulu kala. Namun, kemudian pamor energi hijau seakan terkalahkan dengan energi fosil. Sebagian besar pengembangan energi, lebih banyak bertumpu pada energi fosil itu. Kini, ketika energi fosil mulai menunjukkan tanda-tanda kelangkaan, energi hijau kembali dilirik meskipun sifatnya masih dianggap sebagai energi alternatif semata.

Indonesia Negara yang Kaya Sumber Energi Hijau

Dengan Tanahnya yang Subur, Berbagai Macam Tanaman Hidup di Bumi Indonesia

Indonesia merupakan sebuah negara yang dianugerahi kekayaan alam sangat kompleks. Pertama, kandungan barang tambang dalam perut buminya lumayan besar. Kedua, dengan dukungan iklim yang toleran, tanah-tanah yang dimiliki merupakan tanah-tanah yang subur. Dan ketiga, di atas tanah-tanah yang subur itu telah lama tumbuh berbagai macam tumbuhan yang bermanfaat bagi kehidupan.

Di Indonesia, tercatat terdapat 8000 tumbuh-tumbuhan yang telah teridentifikasi.[4]  Jumlah ini diperkirakan baru 20% dari seluruh jumlah tumbuhan yang hidup di Indonesia. Tumbuh-tumbuhan itu tersebar di daratan maupun di dalam lautan.

Tumbuh-tumbuhan yang merupakan penyimpan cadangan energi yang efektif itu tak hanya dapat dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Faktanya, tumbuh-tumbuhan itu bermanfaat sebagai sumber energi bahan bakar yang tak akan ada habisnya. Berbagai macam penelitian telah membuktikannya.

Selama di Indonesia masih terdapat media tanah, air, dan sinar matahari, tumbuh-tumbuhan akan terus tumbuh di atasnya. Maka dari itu, dengan sendirinya energi hijau merupakan sebuah energi yang terbarukan.

Seharusnya kita tidak perlu khawatir dengan berkurangnya cadangan minyak fosil dunia. Asalkan energi hijau itu mampu dikembangkan dengan optimal, kita tetap memiliki keunggulan komparatif dari negara-negara di seluruh dunia. Kita dianugerahi tanah yang subur dengan berbagai macam tanaman yang bermanfaat. Kita berbeda dengan negara-negara barat atau timur tengah yang dianugerahi kandungan minyak yang tinggi namun tidak dianugerahi kesuburan tanah semelimpah kita.

Berbagai Macam Tanaman Sumber Energi Hijau

Hingga saat ini, di Indonesia telah ditemukan sekitar enam puluhan tanaman yang dapat dikembangkan menjadi energi hijau. Tanaman-tanaman itu ada dan hidup dengan subur di tanah-tanah Indonesia, tersebar di hampir seluruh nusantara.

Tulisan ini tidak akan mengupas semua jenis tanaman itu. Namun, ada baiknya sobat bumi mengetahui beberapa tanaman utama yang selama ini menjadi kajian para peneliti. Beberapa tanaman tersebut akan saya jelaskan satu demi satu berikut ini.

1. Jarak pagar

Jarak pagar merupakan sumber biodiesel. Tanaman ini banyak ditanam di Indonesia semasa penjajahan Jepang. Kala itu, penjajah Jepang memaksa penduduk Indonesia untuk menanam pohon jarak di pagar-pagar rumah dan lahan penduduk. Tujuannya, tanaman jarak tersebut nantinya akan diambil minyaknya untuk dijadikan pelumas kendaraan dan alat tempur tentara Jepang.

Di negara lain, minyak jarak pagar juga telah dikembangkan, yakni di Mali, India, dan beberapa negara Afrika. Ke depan, minyak jarak pagar ini diproyeksikan akan menggantikan peran solar sebagai bahan bakar.

2. Kelapa sawit

Kelapa sawit yang kita kenal selama ini merupakan bahan baku minyak goreng. Kenyataannya, kelapa sawit juga merupakan sumber biodiesel yang menyimpan potensi cukup besar. Minyak kelapa sawit ini telah banyak dikembangkan di Malaysia. Indonesia sendiri tidak mau kalah dengan hal itu. Pada tahun 2004, misalnya, pernah diujicobakan biodiesel berbahan dasar minyak kelapa sawit pada sebuah mobil bermesin diesel yang menempuh rute Medan-Jakarta. Hasilnya, cukup menjanjikan.

3. Singkong

Singkong. Diunduh dari http://naijabizcom.com

Sobat bumi tentu pernah menikmati lezatnya singkong. Entah dalam bentuk singkong rebus atau produk olahannya semisal keripik. Mungkin sebelumnya kita tak menduga bahwa singkong juga bisa kita manfaatkan sebagai sumber bioetanol. Bioetanol tersebut diproyeksikan akan menggantikan peran bensin sebagai bahan bakar. Hal ini pun sedang terus digalakkan oleh pemerintah. Dalam sebuah penelitian diperoleh fakta bahwa dari 1000 kilogram singkong akan menghasilkan 166,6 liter bioetanol. Sebuah sumber yang cukup potensial.

4. Kelapa

Kita semua tahu bahwa kelapa tumbuh di hampir semua tempat yang memiliki dataran rendah. Selama ini, kelapa dikonsumsi penduduk untuk keperluan memasak, diambil minyaknya, atau diminum airnya yang masih segar. Nyatanya, kelapa juga menyimpan potensi sebagai bahan bakar yang lumayan. Ia bisa digunakan sebagai bahan bakar berupa biodiesel dan minyak tanah. Di Filipina, pengembangan kelapa sebagai bahan bakar telah dilakukan secara besar-besaran.

5. Tebu

Tebu merupakan bahan baku dalam pembuatan gula. Nyatanya, tebu juga dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol. Bioetanol dari tebu bisa dihasilkan dari tebu secara langsung maupun dari limbah tetesan tebu yang muncul dalam pembuatan gula. Di Brasil, limbah tebu yang selama beberapa waktu dikenal sangat mengganggu, nyatanya telah mampu diubah menjadi bioetanol. Pada akhirnya, Brasil tidak hanya menjadi salah satu negara pengekspor gula terbesar di dunia. Ia  juga memproduksi bioetanol dari limbah tebu yang dihasilkan. Tentu kita patut iri dengan kemampuan Brasil itu.

Di luar tanaman-tanaman tersebut di atas, terdapat tanaman lain yang juga menyimpan potensi sebagai sumber energi hijau, seperti jagung, bunga matahari, kacang tanah, sorgum, ganggang, kecipir, alpukat, nipah, nimba, randu, labu merah, sagu, ubi jalar, kelor, wijen, jarak kepyar, ganggang, dan spesies-spesies lainnya. Banyak dan semuanya ada di Indonesia bukan?

Lumut pun Bisa Dijadikan Minyak?

Berita terkahir mengenai energi hijau yang saya ketahui juga datang dari lumut. Para peneliti dari Amerika Serikat telah berhasil mengekstrasi minyak dari lumut. Mengagetkan bukan? Bayangkan, dari sebuah lumut saja bisa menghasilkan bahan bakar, sedang lumut sendiri kita tahu merupakan tanaman perintis yang sangat gampang ditemukan di tempat-tempat lembab, seperti pinggiran sungai atau di dalam hutan. Kelak, dengan sedikit rekayasa lingkungan, lumut-lumut itu dapat dibudidayakan dengan mudah di tanah-tanah kita.

Berikut kutipan beritanya:

Menuju Indonesia Mandiri Melalui Energi Hijau

Dengan banyaknya sumber energi hijau yang terhampar di bumi pertiwi, bukan tidak mungkin kelak kita akan benar-benar menjadi bangsa yang mandiri. Sekali lagi, kita memiliki keunggulan komparatif atas sumber-sumber energi hijau itu dari negara-negara lain. Tanah kita tanah yang subur. Aneka tanaman tumbuh di atasnya. Jika keunggulan ini bisa kita optimalkan dengan sebaik mungkin, alhasil kita akan menjadi negara penyumbang energi hijau terbesar di dunia.

Mengenai hal itu, tentu lah dibutuhkan political will yang serius dari pemerintah. Bagaimanapun, pemerintah adalah pihak yang paling menentukan arah pembangunan energi kita. Pemerintah yang mempunyai dana untuk mengembangkan energi hijau itu. Kuncinya, ada di tangan pemerintah. Namun begitu, melihat potensi yang ada itu, sulit rasanya bagi kita untuk tidak optimis dengan keunggulan yang kita miliki itu.

Petani pun Tersenyum

Penggunaan Energi Hijau akan Semakin Memuliakan Kiprah Petani

Dengan pengembangan energi hijau yang masif, efek baiknya tidak hanya berupa ketersediaan energi yang melimpah di negara kita. Hal ini pun akan sangat menggembirakan bagi para petani.

Petani kelak akan lebih tenang dalam menanam berbagai macam tanaman bermanfaat. Permintaan akan produk-produk pertanian tidak hanya akan datang dari sektor pangan, tetapi juga sektor energi. Nilai tukar produknya akan meningkat. Imbasnya, kesejahteraan petani yang selama ini kita kenal masih rendah, dengan sendirinya akan meningkat.

Sayangnya, terkadang kebijakan pemerintah untuk memajukan petani itu tidak bisa diterapkan dengan pas pada tataran praktik. Sekitar tahun 2006, pemerintah pernah begitu gencar mengampanyekan tanaman jarak pagar untuk ditanam para petani kita. Kampanye yang gencar itu pada dasarnya telah berhasil membuat para petani menanam jarak pagar di lahan-lahan mereka. Namun, ketika jarak pagar yang petani tanam sudah dipanen, harga biji jarak pagar tidak sesuai dengan yang petani harapkan. Akibatnya, petani merasa malas untuk menanam kembali jarak pagar itu karena harganya yang dinilai terlalu rendah.[5]

Kejadian sebagaimana dalam kasus jarak pagar di atas mestinya tidak boleh terulang lagi. Hal ini, sekali lagi, kuncinya ada di tangan pemerintah.

Satu Kampung Satu Mesin Pengolah

Kita semua tahu bahwa setiap daerah mempunyai potensi pertanian yang berbeda-beda. Ke depan, andai saja konsep mengenai energi hijau itu benar-benar terlaksana, bukan tidak mungkin setiap daerah itu mempunyai bahan bakar hijau yang berasal dari tanaman-tanaman sesuai dengan ciri khas daerah tersebut.

Wilayah Sumatera, misalnya, unggul dari tanaman kelapa sawit dan karet. Maluku unggul dengan sagu. Madura unggul dengan jagung. Beberapa daerah lain bisa segera menyesuaikan dengan karakteristik lokal masing-masing. Dengan latar belakang demikian, bukan tidak mungkin jika setiap daerah kelak akan memiliki mesin pengolahan minyak sendiri untuk mengolah tanaman-tanaman penduduk menjadi bahan bakar.

Setiap daerah kelak akan mandiri dengan energi yang dimilikinya masing-masing. Sumbernya berasal dari tanaman-tanaman mereka sendiri. Mereka mengolahnya sendiri dengan mesin yang dimiliki sendiri atau bersama-sama.

Sobat bumi, coba kita bayangkan jika hal demikian bisa terjadi. Begitu luar biasa manfaatnya. Hal ini menurut saya bukan sesuatu yang mustahil asalkan disertai dengan komitmen dan kerja keras dari pemerintah dan diiringi dengan jalinan kemitraan yang baik dengan masyarakat.

Jika ini terealisasikan, kelak energi hijau akan menjadi energi yang utama bagi keperluan hidup masyarakat. Tanah-tanah Indonesia sudah menyediakan sumber itu sejak lama. Selama air masih tersedia dan selama matahari masih menyinari bumi pertiwi kita, energi hijau akan tetap ada.  Tinggal kita mau memanfaatkannya atau tidak.

Namun begitu, bukan berarti kita semua boleh menyombongkan diri dengan potensi yang kita miliki itu, apalagi sampai berlaku boros dengan segala sumber energi fosil yang selama ini ada. Pembuatan energi hijau masih membutuhkan proses yang panjang, dengan dana yang tidak sedikit, dan tentu saja disertai kerja keras yang nyata.

Sobat bumi sekalian, semoga kelak bangsa kita bisa menjadi bangsa yang benar-benar mandiri, dengan potensi yang kita miliki itu.

*****

Daftar Referensi:

1. Prihandana, Rama dan Hendroko, Roy. 2006. Petunjuk Budi Daya Jarak Pagar. Jakarta: PT Agromedia Pustaka;

2. Prihandana, Rama dan Hendroko, Roy. 2008. Energi Hijau: Pilihan Bijak Menuju Negeri Mandiri Energi. Jakarta: Penebar Swadaya;

3. Salamudin. 2011. Penjajahan dari Lubang Tambang. Jakarta: Jaringan Advokasi Tambang;

4. Sastrapradja, Setijadi D. dan Widjaya, Elizabeth A. 2010. Kenaekaragam Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan. Jakarta: LIPI Press.

Catatan Kaki:

[1] http://economy.okezone.com/read/2012/11/05/19/713809/pemerintah-30-penerimaan-negara-ditopang-migas;

[2] http://finance.detik.com/read/2012/06/11/155029/1938192/1034/cadangan-minyak-ri-habis-10-tahun-lagi-saatnya-berhemat;

[3] http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/06/06/m56u4g-2032-cadangan-minyak-indonesia-habis;

[4] http://alamendah.wordpress.com/2011/12/01/jumlah-spesies-tumbuhan-flora-di-indonesia;

[5] http://www.solopos.com/2012/03/19/proyek-jarak-gagal-total-171639.

About these ads

20 gagasan untuk “Menantikan Gebrakan Energi Hijau untuk Kemandirian Indonesia

  1. mantap gan,,
    tinggal menunggu kebijakan pemerintah mengembangkan sumber energi hijau,,
    disamping itu ada beberapa potensi sumber energi lain yang dimiliki indonesia seperti geothermal, pasang surut air laut, gelombang, dan masih banyak lagi.
    bagian yang menarik perhatian saya adalah kata-kata ‘peneliti’ di Amerika Serikat telah menemukan bahwa lumut jg bisa digunakan sebagai sumber energi hijau,,
    kapan peneliti kita menghasilkan penelitian seperti mereka, yg hasilnya bisa bermanfaat bagi orang banyak,,
    mgkin juga karena pmerintah kurang memberikan dorongan bagi peneliti kita baik dari segi pendanaan, perizinan, fasilitas, dll
    masih merupakan mimpi panjang Indonesia bisa mandiri dengan memanfaatkan segala potensi yg dimilikinya,,
    were are you government,,,????

    • Soal sumber energi geothermal dan sumber energi lain, ane jg sepakat utk terus dikembangkan di negara kita.

      Ttg lumut, itu jg semestinya menjadi cambuk bagi bangsa kita utk dapat mengembangkan potensi yg sebenarnya juga qta miliki. Jgn sampai kelak qta tertinggal dr negara2 barat. Jgn sampai kelak qta hanya menjadi penyedia bahan baku bagi mereka.

      Ttg penelitian, sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh pemerintah. Hasilnya, memang blm begitu qta rasakan saat ini. Tp, mudah2an dgn kemauan yg keras dan sungguh2 serta disertai dukungan yg optimal, kelak akan lbh baik.

      Qta tunggu saja sembari mengikuti segala perkembangan yg ada..

      Trims udah mampir, Gan.. :D

  2. Ketika issu kenaikan harga minyak bumi tersiarkan dipublik…reaksi masyarakat dari sabang sampai marauke serentak mengadakan aksi demo…
    Hal yg seperti ini menandakan betapa sangat intinya energi minyak bumi pada kehidupan masyarakat Indonesia.

    dengan begitu banyak ragam kekayaan minyak diNegri kita ini..
    seharusnya rakyat sudah dpt merasakan manfaat dari penghasilan minyak bumi yg dikelola pemerintah atw pun suasta,
    akan tetapi itu semua masih sangat jauh dari kenyataan.

    Semoga saya dgn penemuan yang innovatif dari berbagai tanaman ini…dapat semakin memperkaya dunia perminyakan di tanah persana Indonesia tercinta.

    • Betul sekali, tidak bisa dipungkiri bahwa qta tengah mengalami ketergantungan kpd minyak bumi. meminjam kata2 Pak Presiden, selama puluhan tahun qta seakan dininabobokan dgn kandungan minyak bumi yg qta miliki itu. Qta lupa bahwa terdapat sumber energi lain yg menyimpan potensi luar biasa, seperti panas bumi, matahari, gelombang, air terjun, termasuk jg energi hijau yg saya bahas di atas.

      Sebagai orang awam yg tak berkecimpung dlm dunia penelitian mengenai perminyakan, qta hanya bisa mengamati perkembangan yg ada, dgn harapan kelak semua harapan qta itu akan energi non fosil itu dpt tersedia dan meimpah di negeri qta.

      Trims sudah naruh komen, Nduk.. :D

  3. Setelah membaca artikel ini..
    saya jadi berfikir ternyata begitu banyak dari tanaman yg berada di Indonesia ini yang dapat dijadikan alternatif pengganti minyak bumi…( baru tau sih setelah membaca tulisan ini )
    Mungkin saya salah satu dari ribuan remaja di indonesia yg kurang peduli dan tdk tahu akan beragamnya penemuan secara ilmiah yg ada di negara ini…
    Trimakasih Mas…dengan tulisan Mas ini membuat saya bertambah wawasan dalam pengenalan akan kekayaan bumi Indonesia dan manfaatnya.
    Semoga tulisan Mas ini akan bermanfaat bukan saja untuk saya pribadi tapi juga untuk para remaja di seluruh indonesia agar lebih peduli dan lebih mencintai juga dapat menjaga keberadaan Bumi pertiwi kita ini.
    Trimakasih Mas…saya sudah mendapat ilmu dari artikel tulisan ini.

    • Sama2 Tyaz, terima kasih kembali atas apresiasinya.. :D

      Iya Tyaz, Tuhan itu menganugerahkan kekayaan yg beragam utk bangsa qta. Tinggal qta mau memanfaatkannya dgn optimal atau tidak..

      Qta semua berharap agar kekayaan itu, termasuk tanaman2 di atas, dapat segera qta manfaatkan. Bagaimanapun, kelak minyak bumi dr bumi qta akan habis. Sungguh kasihan anak cucu qta kelak jika energi fosil telah habis, sementara energi penggantinya blm juga ada.

  4. Sebelum membaca artikel ini…saya hanya tahu kalau minyak yg dihasilkan beberapa tumbuh2an itu,
    Hanya untuk minyak gosok (seperti minyak kayu putih )( minyak pala obat sakit gigi )
    juga minyak kelapa untuk konsumsi….
    Ternyata Waaaooo…minyak dari tanaman pun bisa dijadikan sebagai pengganti Minyak bumi..
    Semoga harapan2 itu akan terwujud dan menjadi kenyataan Mas.

  5. Potensi yang dimiliki Bangsa kita sangatlah besar untuk menjadikan Indonesia menjadi Negara yg lebih mandiri tidak tergantung kepada Negara Lain, apa yg tdk ada di Neraga kita ini ?
    Dengan kekayaan alam…Laut…juga kreativitas anak Bangsa yang tdk kalah cerdasnya dari bule2 diluaran sana,
    Berbagai bentuk riset secara Ilmiah banyak dihasilkan oleh anak2 Negri ini…
    Akan tetapi sangat minim apa yg mereka temukan diaplikasi dan dimanfaatkan secara besar oleh Pemerintah,
    alhasil sebagian anak2 indonesia yg mempunyai keahlian tsb dimanfaatkan oleh bangsa2 Lain,
    Begitupun yg terjadi pada kekayaan alamnya lebih banyak dimanfaatkan oleh negara2 asing dan sangat sedikit contecnya dinikmati oleh Bangsa sendiri.

    Bagaimana Negara ini akan Mandiri jika Para Pejabat – Para Pemuka Masyarakat – Para pakar2 -
    Hanya Berfikir mencari Materi untuk saku mereka sendiri..”Rasa Nasionalisme telah tertukar dgn materi”
    Kepedulian akan Negara ini hanya sebatas ucapan diatas kertas tanpa ada Realisasi..

    Sedangkan tanpa bantuan Pemerintah tdk akan mungkin penemuan2 hasil riset anak2 Negri ini berlanjut,
    menjadi satu bidang Industri yang bermanfaat untuk kemaslahatan Negri ini sendiri.
    yang pada akhirnya Ilmu yg mereka miliki diaplikasi dan dimanfaatkan oleh para tetangga Negri ini.
    dan pada akhirnya anak2 cerdas Negri ini tetap menjadi Pekerja bukan menjadi Pemilik hasil riset mereka sendiri.

    Harapan saya kepada anak2 Muda Negri ini…Berjuanglah dgn ke Ilmuan yg kalian miliki..
    Mulailah dari diri kalian – mulailah pada lingkungan kalian.
    Mulailah Berbuat dari Hal yg terkecil…agar apa yang kalian Hasilkan nanti dapat menjadi manfaat untuk
    Negri ini dan Kemaslahatan Masyarakat diskala kecil s/d Mendunia.

    Jagalah Pelestarian alam Indonesia ini semampu kalian berbuat…Hasilkan pemanfaatan lingkungan dgn berbagai tumbuhan yg produktif …. buat saya ” Menjadi Petani Lebih Mulia dibandingkan seorang Pejabat yg tdk punya Innovasi”

    Tersenyumlah Petani walau sejengkal tanah yg kau miliki
    Hijaukanlah alam persada bumi pertiwi ini dgn tanganmu sendiri
    walau sedikit hasil yang kan kau dapati…
    itu lebih mulia dibandingkan sebagai pejabat yg korupsi.

    Semoga anak cucuku kelak dikemudian hari tidak mengalami devisit Minyak bumi.

    • Sip.. Wah, panjang sekali pesan2nya, Tante.. Dan semuanya sangat inspiratif.

      Iya Tante, banyak periset qta yg justru bekerja utk negara lain, sementara dlm beberapa pemberitaan qta tahu bahwa anggaran penelitian dan penghasilan para peneliti di negara qta msh kecil. Namun, saya yakin Tante, di dalam hati para periset itu msh tersimpan rasa nasionalisme dan keinginan utk memberikan sumbangsih bg negara qta. Kelak, qta harapkan hasil riset yg dilakukan para peneliti qta itu akan ditransfer ke negeri qta sendiri.

      Tentang petani, saya sepakat Tante, bahwa bertani merupakan sebuah pekerjaan mulia. Saya cukup sedih ketika melihat para pemuda di kampung2 mulai meninggalkan sawah dan ladang mereka utk merantau ke Jakarta. Di Jakarta nasib mereka tidak lebih baik, namun ketika pulang kembali ke kampung, mereka enggan utk kembali bertani. Ada banyak persepsi dr pemuda zaman sekarang Tante, salah satunya bahwa bertani itu dianggapnya udik, tidak keren, tidak gaul, dan kotor, Tante. :D

  6. Belum dapatnya tersenyum Lepas Bapak Tani pd Gambar diatas ini…mencerminkan masih begitu beratnya,
    Perjuangan Bapak / Ibu tani pd lahan2 yg mereka miliki,
    Bpk/Ibu Tani masih harus bersabar untuk mengoptimalkan Produk yg mereka hasilkan dgn bekerja keras
    dan mendapatkan nilai jual yg lebih layak lagi. (sabar ya Pak Tani hehe )

    Pencanangan Go Green pd sebagian wilayah2 tandus di Indonesia mungkin lebih dapat dioptimalkan
    Untuk dptnya tercapai tujuan Menghijaukan dan melestarikan lingkungan dibeberapa wilayah nusantara ini.
    Dengan menanan tanaman yg bermanfaat sebagai pengganti Bio energi minyak bumi..

    Kira2 sejauh mana kah kepedulian Pemerintah untuk masalah pengembangan dan Memproduksikan
    seperti hal tulisan diatas ini ? (karna tdk pernah terdengar dipublikasikan )
    Karna kalau bukan pemerintah ataw Pengusaha bermodal besar….tdk mungkin skala rakyat mampu memproduksi dan Mengembangakan hasil Penemuan…Penemuan seperti diatas ini.

    • Sebagian besar petani memang msh blm bisa tersenyum dgn kondisi perekonomian mereka. Padahal, sbg penyedia bahan pokok, seharusnya petani itu memiliki bargaining position yg tinggi dlm kehidupan. Kelak, dgn pengembangan energi hijau, mudah2an akan berpengaruh positif bagi mereka.

      Betul. Selama ini pemberitaan mengenai pengembangan energi hijau memang relatif terkalahkan drpd berita2 populer semacam politik, film, atau gosip.. :Hiks2.. :D. Walaupun begitu, pada dasarnya pengembangan itu sudah dilakukan, meski memang masih dlm kapasitas yg kecil dan terbatas.

      Untuk mengembangkan energi hijau itu, sudah tentu dibutuhkan political will yg serius dr pemerintah sebagai lokomotif pembangunan bangsa. Political will itu terkait dgn arah kebijakan pembangunan yg semestinya mulai berpihak pd pengembangan energi hijau, serta alokasi anggaran yg memadai. Mengenai hal ini, qta hanya bisa berharap dan menunggu Nis.. :D

  7. Jika ada usaha ke depan dalam membangun sumber daya manusia dan upaya pemerintah secara optimal. mungkin itu akan berjalan seperti yg kita harapkan. mau nanya dong mas. kira2 upaya2 apa saja yg harus ditempuh utk memajukan sumber daya manusia masyarakat papua? seperti yg telah kita sadari kekayaan disana begitu banyak.

    terimakasih

  8. Mungkin saya bisa memberikan sedikit gambaran untuk pertanyaan sdr Fadhil.

    Sumber daya manusia bisa dibina dari lingkungan yang terkecil seperti (keluarga)
    Lingkungan diluar rumah (RT/RW ) dan lingkungan dimana Personal itu berada dan bersosialisasi.

    Upaya pembinaan sumber daya manusia biasanya diberikan dalam bentuk Penyuluhan2
    juga dalam bentuk pengetahuan secara kelompok yg diFasilitasi secara gratis oleh Pemerintah
    dalam satu lembaga yg bisa dinamakan Balai Latihan Kerja.

    Dengan pendekatan secara Persuasif pada Daerah2 tertentu seperti papua..
    dapat diberikan pemahaman secara hukum adat setempat yg berlaku,
    mengacu pada situasi dan kondisi wilayah setempat.

    • Permasalahan di Papua sebenarnya termasuk kompleks, namun yg paling dominan dr itu semua adalah kesenjangan kemajuan yg nyata antara Papua dgn pulau2 lain (terutama Jawa), sedang qta tahu bahwa kekayaan alam Papua itu sungguh luar biasa besar.

      Dari segi politik, sebanarnya sudah dilakukan upaya pemberian Otonomi Khusus pada Provinsi di Papua. Dgn otonomi khusus itu, alokasi dana pemerintah pusat kepada Papua pun menjadi lbh besar dr sebelum2nya. Namun begitu, utk memajukan Papua dg permasalahannya yg kompleks itu, tidaklah cukup dgn kebijakan politik saja, tetapi juga pendekatan2 persuasif sebagaimana yg telah diterangkan oleh Sdri Zulekha Ratna di atas. Terima kasih Nduk atas jawaban aplikatifnya. :D

      Beberapa waktu yg lalu ada program Indonesia Mengajar yg salah satunya adalah berusaha memajukan pendidikan di daerah2 pedalaman dan daerah2 perbatasan. Pendekatan2 seperti ini lah yg seyogyanya semakin banyak dilakukan.

      Gitu Dek Dhila. Semoga cukup memberi gambaran, meski masih sangat abstrak sifatnya. :D

  9. Artikel mas bro selalu berkualitas dan nyaman , apalagi untuk dijadikan insfirasi. Dan sangking enaknya untuk disantap(dibaca) sampai lupa mau comment atau share apa. Ngemeng-ngemeng mas bro punya link yang sekaligus ada tutorialnya yang bagus untuk buat website bagi pemula? Trmksh sebelumnya. Saya fikir semoga kita sebagai generasi penerus bangsa bisa lebih banyak lagi yang berfikir seperti orang luar(bule). Semua kekayaan yang melimpah-ruah kalau disertai dengan Sumber Daya Manusia yang mumpuni dan kompeten serta beritikad untuk kemajuan bangsa. Insya Allah bangsa kita juga bisa seperti orang bule pintarnya dan bahkan melebihi..Amin. “Indonesia Bisa”, “Save Energy & Go Green” for world.

    • Lagi2, terima kasih Mas Bimo. :D
      Saya jg masih belajar menulis. Kalau utk membuat website, saya tidak cukup banyak tahu.

      Tapi, jika Mas Bimo pengin punya blog pribadi, Mas bisa bikin blog gratis aja seperti saya. Untuk pemula seperti qta, saran saya lebih baik bikin blog saja. Mas bisa menggunakan wordpress.com seperti saya, atau juga menggunakan blogspot.com.

      Tentang konsep energi hijau, saya sebenarnya cukup greget dgn arah kebijakan pertanian di negara qta. Di Brasil, kabarnya energi hijau benar2 sudah menjadi andalan, utk keperluan dalam negeri maupun diekspor. Di negara qta, dgn tanah yg subur dan tanaman penghasil minyak sebegitu banyaknya, masih blm cukup intens dikembangkan.

      • Itu benar sekali mas. “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” itu syair lagunya mas bro.hehehehe. Dukungan pemerintah pusat, daerah dan para petani harus disinergikan. Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu saya mendapat kabar dari adik saya dikampung halaman saya di bengkulu bhwsnya dsana ada pembagian bibit sawit, mahoni, dan sengon program dr pemrnth. Mendengar kbr itu sya sgt gembira. Tp tiba2 sya terkejut ketika adk sya mgtkan klo bibit2 bukan ditanami tp malah dijual. Lho?dlm hati sya brtanya, kok dkasih bkn dmanfaatkn?sungguh miris mendngarnya. Dan sungguh ironis rasanya indonesia yang dikenal dgn tanah surga tp kok daun-daunan(sayur mayur) dan buah-buahan kok import. Jadi saya fikir kesinergisan antara smw pihak sgt diharapkan. baik pemerintah sbgai regulator ekonomi, daerah sbgai distribusi dan petani sbgai produksi. Trmksh

      • Yup. Memang benar, hal2 seperti itu sangat mungkin terjadi. Dan, jujur saja, di kampung saya pun beberapa program bantuan pemerintah semacam itu ternyata hasilnya nihil.

        Di kampung saya, beberapa program pelatihan agrobisnis hasil kerja sama dgn PBB yg idealnya bisa diterapkan pun nyatanya tidak jalan. Petani pun maunya serba instan. Tanam, panen, lalu jual dan menghasilkan uang. Selama tetap seperti itu ya, daya saing qta dgn negara2 barat akan tetap lemah.

        Serba susah ya, Mas kalau qta memikirkan problematika bangsa qta. Tapi, bagaimanapun susahnya, mesti tetap qta pikirkan. Siapa tahu ada yg terinspirasi dgn pemikiran2 yg tersurat dalam tulisan2 qta. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s