Inovasi dan Pengetahuan untuk Petani

diunduh dari: http://jakarta45.wordpress.com

Aku berasal dari sebuah desa (lebih tepatnya kampung) di pinggiran selatan kabupaten Batang. Nenek moyangku adalah para petani, dan hingga saat ini sebagian besar keluargaku (termasuk juga bapak ibuku) juga adalah petani. Jujur, aku pun menyukai pertanian. Kalau saja bapakku mengizinkan, aku bahkan sempat bercita-cita menjadi petani. Petani yang cerdas tentunya.

Petani di kampungku merupakan petani tradisional yang minim inovasi. Maklum saja, sebagian besar dari mereka adalah petani-petani yang tidak berpendidikan atau berpendidikan rendah. Apa yang mereka tanam hanya itu-itu saja: padi dan jagung untuk persawahan dan pohon sengon untuk perkebunan. Kalaupun ada variasi tanaman lain, pemeliharaan tanaman-tanaman tersebut tidak dilakukan secara optimal dan hanya didasarkan atas pengalaman empiris semata.

Aku pernah bermimpi semua petani di daerahku hidup lebih sejahtera. Salah satu prasyarat untuk itu, menurutku adalah dengan inovasi tanam. Aku bosan melihat orang tuaku dan petani lain hanya bertanam itu-itu saja. Pernah aku mengkritik mereka (bapak ibuku) mengenai hal itu. Namun begitu, tetap saja waktu itu aku belum bisa memberi saran tanaman apa yang kira-kira cocok dicoba sebagai objek inovasi.

Sebulan lalu, saat ada libur tiga hari berturut-turut, aku mudik ke kampung halamanku. Di samping kiri rumahku terdapat halaman yang cukup luas. Biasanya digunakan untuk menjemur pakaian atau meletakkan benda-benda yang tidak muat untuk disimpan di dalam rumah.

Saat pertama kali masuk ke halaman rumah itu, aku melihat disana tertata rapi bibit pohon karet. Jumlahnya mungkin ratusan saja. Jujur saja aku agak terkejut mendapati itu. “Tumben sekali orang tuaku mau berinovasi tanam pada karet?”, begitu batinku dalam hati.

Seusai melepas lelah sejenak, aku bertanya kepada bapakku mengenai bibit karet yang berada di halaman itu. Bapakku menjelaskan bahwa warga kampung sedang bertanam karet secara besar-besaran. Beliau katakan, “Jarene, limang tahun wis iso panen. Nek dadi, asile lumayan daripada sengon.”

Aku mengangguk saja mendengar penjelasan bapakku. Mengangguk bukan pertanda setuju, melainkan karena aku masih ragu akan kecocokan tanaman karet dengan lahan di kampungku. Lagipula, berdasarkan pengamatanku, tanaman karet lebih banyak ditanam di daerah pantai, sementara lokasi kampungku sendiri sudah termasuk perbukitan.

Penasaran, aku langsung browse di internet perihal budidaya tanaman karet. Yang ingin aku cari sederhana saja: pada ketinggian berapakah tanaman karet cocok untuk dibudidayakan?

Tak perlu lama, aku sudah mengumpulkan cukup banyak informasi. Sebagian besar informasi yang aku dapat menyatakan bahwa tanaman karet hanya cocok dibudidayakan pada ketinggian kurang dari 200 meter di atas permukaan laut. Namun demikian, pada ketinggian lebih dari 200 meter namun kurang dari 700 meter, tanaman karet masih bisa tumbuh meski hasilnya tidak seoptimal pada ketinggian kurang dari 200 meter. Di atas ketinggian 700 meter, tanaman karet sudah tidak layak dibudidayakan.

Tak puas dengan itu, aku sempatkan membeli buku budidaya karet di sebuah toko buku. Dan ternyata memang benar dugaanku, di buku tersebut juga dinyatakan bahwa tanaman karet memang lebih cocok dibudidayakan di daerah pantai.

Dari buku monografi desa yang pernah aku baca, ketinggian tanah di kampungku adalah 400-500 meter. Berdasarkan keterangan itu, sebenarnya tanaman karet kurang cocok dibudidayakan di kampungku. Sayang aku sudah sedikit terlambat memberi tahu bapak.

Malam harinya aku mengutarakan apa yang baru aku mengerti itu kepada bapak. Alhamdulillah, bapak percaya dengan apa yang aku katakan. Dengan bijak bapak berkata, “Ya wis, sementara bibit sing wis dituku yo tetep ditandur. Mengko nek wis limang tahun asile ora apik, ya rasah diteruske. Tapi nek asile apik, mengko kwe dewe sing neruske.” Wah, bijak juga bapakku kali ini. :D

Sebelumnya memang bapakku merencanakan akan mengganti semua tanaman di kebunku dengan tanaman karet. Namun demikian, mendengar penjelasanku akhirnya bapakku mengurungkan niatnya itu. Lega juga rasanya bapakku percaya dengan apa yang aku omongkan.

Selanjutnya, bapak pun bercerita bahwa di daerah Bawang (sebuah kecamatan di daerahku dengan ketinggian sekitar 2000 meter), ada seorang petani yang menanam tanaman karet dalam jumlah yang sangat besar. Tak hanya dia seorang, banyak petani lain di daerah sana yang juga melakukan itu.

Mendengar cerita bapakku, aku mengernyitkan dahi. “Mungkinkah tanaman karet bisa tumbuh dengan baik pada tempat setinggi itu?” Kasihan sekali jika  karet yang mereka tanam ternyata tidak memberi hasil sesuai yang mereka harapkan. Belum lagi harga bibit karet sendiri juga tidak lah murah (lebih dari Rp15.000 per bibit), biaya  tanamnya pun tidak kecil jumlahnya.

Pada satu sisi, aku cukup bersyukur karena ternyata petani di kampungku sudah berani sedikit berinovasi tanam, yakni pada tanaman karet yang merupakan sebuah tanaman industri dengan hasilnya yang memang sangat menjanjikan. Namun pada sisi yang lain, cukup sedih juga rasanya ketika inovasi yang dilakukan itu tidak disertai dengan dukungan ilmu pengetahuan yang memadai. Inovasi itu pun kemungkinan besar tidak akan berhasil dengan optimal sehingga bukannya akan menguntungkan, namun justru berpotensi merugikan dalam jumlah yang tidak sedikit. Yang lebih aku sesalkan lagi, kok petugas penyuluh pertanian dari kabupaten tidak memberikan sosialisasi mengenai hal itu? Huft… :twisted:

Kasihan sekali para petani itu. Tidak berinovasi berarti tidak akan maju, mau berinovasi tidak ada pengetahuan memadai, mau belajar siapa yang mau ngajarin?

Aku pun menduga bahwa kasus ini hanya menjadi bagian kecil dari sekian banyak permasalahan petani di Indonesia. Permasalahan lain tentu saja seputar pupuk, bibit, pestisida, irigasi, hama, gulma, lahan yang menyempit, daya saing, tengkulak, dan lain sebagainya.

Dengan banyaknya problema itu, maka tak heran jika nilai tukar petani Indonesia pun rendah. Implikasinya, tingkat kesejahteraannya pun tak juga membaik. Padahal, sebagian besar penduduk Indonesia adalah dari kaum mereka. Ah… kasihan sekali. :cry:

Kini, haruskah aku menyalahkan petani karena kebodohannya sendiri, atau seperti biasanya, Pemerintah yang harus aku salahkan?

***

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s